Filosofi Rangkiang Melayu Kuok Jadi Landasan Pembelajaran Reflektif Guru Masa Depan
Simbol budaya tradisional rangkiang dari masyarakat Melayu Kuok di Kabupaten Kampar, Riau, kini ditransformasikan menjadi landasan filosofis bagi pengembangan metode reflective teaching berbasis budaya lokal untuk pendidik
Latar Belakang dan Relevansi Budaya
Dalam dunia pendidikan modern, kemampuan pendidik untuk mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajarannya sering kali terjebak pada instrumen teknis semata, seperti pengisian lembar evaluasi atau jurnal formal
Rangkiang, yaitu lumbung padi panggung yang terletak di samping atau depan Rumah Lontiok Kuok di Desa Wisata Pulau Belimbing, merupakan bagian penting dari lanskap budaya Melayu Kampar
Metodologi Penelitian
Tim peneliti FKIP Universitas Riau menggunakan pendekatan konseptual-kualitatif untuk merumuskan keterkaitan antara artefak budaya dan teori pendidikan
- Data Lapangan Pendahuluan: Diperoleh melalui survei kunjungan langsung ke Rumah Lontiok Kuok di Kabupaten Kampar serta wawancara dan penjelasan lisan dari tokoh lapangan lokal, Pak Kocik, mengenai struktur dan fungsi rangkiang.
- Kajian Literatur Terpadu: Menganalisis teori reflective teaching modern (John Dewey, Donald Schön, dan Thomas S. C. Farrell) serta memadukannya dengan kitab Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan Tenas Effendy dan analisis sastra Marhalim Zaini
.
Melalui sintesis ini, tim peneliti menyaring nilai-nilai kultural dan mentransformasikannya menjadi kerangka refleksi pembelajaran bagi pendidik
Temuan Utama Penelitian
Kajian ini mengungkapkan bahwa rangkiang menyimpan lima nilai filosofis utama yang selaras dengan prinsip pengajaran reflektif (reflective teaching)
- Penghargaan terhadap Proses: Padi di dalam rangkiang lahir dari kerja keras menanam dan memanen
. Hal ini mengajarkan bahwa kompetensi guru tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses belajar dan evaluasi berulang . - Pengendalian Diri dan Kehati-hatian: Padi disimpan dan dikelola secara cermat, bukan dihabiskan secara tergesa-gesa
. Bagi pendidik, nilai ini melatih kehati-hatian dalam memilih metode, media, dan instrumen asesmen pembelajaran . - Amanah dan Tanggung Jawab: Hasil panen adalah amanah untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga
. Dalam pendidikan, peserta didik merupakan amanah moral yang harus dibimbing secara jujur dan bertanggung jawab . - Berpandangan Jauh ke Depan: Fungsi rangkiang sebagai cadangan pangan melambangkan kesiapan menghadapi ketidakpastian masa depan
. Guru yang reflektif menggunakan pengalaman masa lalu untuk merancang strategi pengajaran yang lebih baik . - Nilai Tunjuk Ajar Melayu: Konsep rangkiang memperkuat ajaran moral Melayu seperti kerja keras, hemat dan cermat, pemanfaatan waktu, serta rasa syukur
.
Implikasi dan Dampak Nyata
Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kurikulum Pendidikan Bahasa, Pendidikan Ekonomi, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Secara luas, pendekatan culturally responsive teaching ini membantu mahasiswa calon guru agar tidak asing dengan budaya sendiri dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam ruang kelas modern
"Refleksi dalam mengajar bukan sekadar teknik evaluasi teknis, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang beradab dan bertanggung jawab. Sebagaimana rangkiang menjaga kualitas padi untuk masa depan, seorang pendidik harus menyimpan dan merenungkan pengalaman mengajar sebagai bekal perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan," ungkap Roza Sri Susanti, Hasnah Faizah, Hermandra, Elmustian, dan Mahdum dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau
Profil Penulis
- Roza Sri Susanti, S.Pd., M.Pd.: Dosen dan peneliti di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada bidang Pendidikan Bahasa dan Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal
. - Dr. Hasnah Faizah, M.Hum.: Dosen senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, ahli dalam bidang Linguistik dan Pembelajaran Bahasa Melayu
. - Dr. Hermandra, S.Pd., M.A.: Dosen dan peneliti di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada Kebudayaan Melayu dan Pendidikan Karakter
. - Drs. Elmustian, M.A.: Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada Kajian Sastra, Filologi, dan Budaya Melayu Riau
. - Prof. Dr. Mahdum, M.Ed.: Guru Besar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, dengan keahlian dalam bidang Metodologi Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum
.
Informasi Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Rangkiang sebagai Simbol Refleksi Kehidupan Masyarakat Melayu Kuok: Landasan Nilai Bagi Pengembangan Reflective Teaching Berbasis Budaya Lokal
- Nama Jurnal: Indonesian Journal of Economic & Management Sciences (IJEMS), Vol. 4, No. 3, 2026, Halaman 1309–1320
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/ijems.v4i3.65 - URL Resmi:
https://journalijems.my.id/index.php/ijems/index

0 Komentar