Rangkiang sebagai Simbol Refleksi Kehidupan Masyarakat Melayu Kuok: Landasan Nilai Bagi Pengembangan Reflective Teaching Berbasis Budaya Lokal

Gambar Ilustrasi AI

Filosofi Rangkiang Melayu Kuok Jadi Landasan Pembelajaran Reflektif Guru Masa Depan

Simbol budaya tradisional rangkiang dari masyarakat Melayu Kuok di Kabupaten Kampar, Riau, kini ditransformasikan menjadi landasan filosofis bagi pengembangan metode reflective teaching berbasis budaya lokal untuk pendidik. Penelitian konseptual-kualitatif ini dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau yang terdiri dari Roza Sri Susanti, Hasnah Faizah, Hermandra, Elmustian, dan Mahdum. Dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Economic & Management Sciences (IJEMS) pada edisi Juni 2026, kajian ini membuktikan bahwa artefak budaya tidak hanya berfungsi sebagai benda sejarah, melainkan sumber nilai pedagogis untuk membentuk calon guru yang bijaksana dan berkarakter.

Latar Belakang dan Relevansi Budaya

Dalam dunia pendidikan modern, kemampuan pendidik untuk mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajarannya sering kali terjebak pada instrumen teknis semata, seperti pengisian lembar evaluasi atau jurnal formal. Padahal, refleksi mengajar membutuhkan pemahaman nilai yang mendalam agar guru mampu memahami dampak keputusan instruksionalnya terhadap siswa. Di sisi lain, kekayaan filosofis lokal Indonesia mengandung konsep-konsep reflektif yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam kurikulum pendidikan guru.

Rangkiang, yaitu lumbung padi panggung yang terletak di samping atau depan Rumah Lontiok Kuok di Desa Wisata Pulau Belimbing, merupakan bagian penting dari lanskap budaya Melayu Kampar. Secara tradisional, rangkiang berfungsi menyimpan gabah hasil panen agar tetap kering, bebas hama, dan siap digunakan sebagai cadangan pangan keluarga. Filosofi pengelolaan pangan ini mencerminkan cara berpikir reflektif masyarakat Melayu Kuok yang menghubungkan hasil kerja masa lalu, pengelolaan masa kini, dan kesiapan menghadapi masa depan.

Metodologi Penelitian

Tim peneliti FKIP Universitas Riau menggunakan pendekatan konseptual-kualitatif untuk merumuskan keterkaitan antara artefak budaya dan teori pendidikan. Penelitian ini mengombinasikan dua sumber data utama:

  • Data Lapangan Pendahuluan: Diperoleh melalui survei kunjungan langsung ke Rumah Lontiok Kuok di Kabupaten Kampar serta wawancara dan penjelasan lisan dari tokoh lapangan lokal, Pak Kocik, mengenai struktur dan fungsi rangkiang.
  • Kajian Literatur Terpadu: Menganalisis teori reflective teaching modern (John Dewey, Donald Schön, dan Thomas S. C. Farrell) serta memadukannya dengan kitab Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan Tenas Effendy dan analisis sastra Marhalim Zaini.

Melalui sintesis ini, tim peneliti menyaring nilai-nilai kultural dan mentransformasikannya menjadi kerangka refleksi pembelajaran bagi pendidik.

Temuan Utama Penelitian

Kajian ini mengungkapkan bahwa rangkiang menyimpan lima nilai filosofis utama yang selaras dengan prinsip pengajaran reflektif (reflective teaching):

  • Penghargaan terhadap Proses: Padi di dalam rangkiang lahir dari kerja keras menanam dan memanen. Hal ini mengajarkan bahwa kompetensi guru tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses belajar dan evaluasi berulang.
  • Pengendalian Diri dan Kehati-hatian: Padi disimpan dan dikelola secara cermat, bukan dihabiskan secara tergesa-gesa. Bagi pendidik, nilai ini melatih kehati-hatian dalam memilih metode, media, dan instrumen asesmen pembelajaran.
  • Amanah dan Tanggung Jawab: Hasil panen adalah amanah untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga. Dalam pendidikan, peserta didik merupakan amanah moral yang harus dibimbing secara jujur dan bertanggung jawab.
  • Berpandangan Jauh ke Depan: Fungsi rangkiang sebagai cadangan pangan melambangkan kesiapan menghadapi ketidakpastian masa depan. Guru yang reflektif menggunakan pengalaman masa lalu untuk merancang strategi pengajaran yang lebih baik.
  • Nilai Tunjuk Ajar Melayu: Konsep rangkiang memperkuat ajaran moral Melayu seperti kerja keras, hemat dan cermat, pemanfaatan waktu, serta rasa syukur.

Implikasi dan Dampak Nyata

Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kurikulum Pendidikan Bahasa, Pendidikan Ekonomi, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dalam Pendidikan Ekonomi, rangkiang dapat dijadikan contoh konkret untuk mengajarkan konsep alokasi sumber daya, tabungan, dan ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Secara luas, pendekatan culturally responsive teaching ini membantu mahasiswa calon guru agar tidak asing dengan budaya sendiri dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam ruang kelas modern.

"Refleksi dalam mengajar bukan sekadar teknik evaluasi teknis, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang beradab dan bertanggung jawab. Sebagaimana rangkiang menjaga kualitas padi untuk masa depan, seorang pendidik harus menyimpan dan merenungkan pengalaman mengajar sebagai bekal perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan," ungkap Roza Sri Susanti, Hasnah Faizah, Hermandra, Elmustian, dan Mahdum dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.

Profil Penulis

  1. Roza Sri Susanti, S.Pd., M.Pd.: Dosen dan peneliti di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada bidang Pendidikan Bahasa dan Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal.
  2. Dr. Hasnah Faizah, M.Hum.: Dosen senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, ahli dalam bidang Linguistik dan Pembelajaran Bahasa Melayu.
  3. Dr. Hermandra, S.Pd., M.A.: Dosen dan peneliti di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada Kebudayaan Melayu dan Pendidikan Karakter.
  4. Drs. Elmustian, M.A.: Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, berfokus pada Kajian Sastra, Filologi, dan Budaya Melayu Riau.
  5. Prof. Dr. Mahdum, M.Ed.: Guru Besar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, dengan keahlian dalam bidang Metodologi Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum.

Informasi Sumber Penelitian


Posting Komentar

0 Komentar