Santiago City, Filipina — Program pengembangan guru atau Faculty Development Programs (FDP) memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dan kualitas pembelajaran. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun isi dan kualitas program pengembangan guru di sejumlah sekolah dasar negeri telah dinilai relevan dan efektif, masih terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya, terutama terkait keterlibatan guru dalam perencanaan, keberlanjutan pelatihan, pendanaan, beban kerja, serta dukungan institusional. Penelitian tersebut dilakukan oleh Joysie M. Giducos dan Celso C. Dumalig dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Philippines.
Penelitian berjudul “Status and Challenges of Faculty Development Programs in Selected Public Elementary Schools: A Descriptive Analysis of Implementation Gaps” ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi program pengembangan guru, tantangan yang dihadapi tenaga pendidik, serta kesenjangan implementasi yang memengaruhi efektivitas program. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 44 guru berlisensi dan kepala sekolah sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun oleh peneliti dengan metode stratified random sampling.
Pengembangan profesional guru menjadi semakin penting karena kualitas pendidikan sangat berkaitan dengan kemampuan guru untuk terus meningkatkan pengetahuan pedagogis, keterampilan teknis, dan kompetensi profesional. Program pengembangan yang efektif tidak hanya berupa seminar satu kali, tetapi harus menjadi proses berkelanjutan yang mendorong pembelajaran aktif, kolaborasi, serta penerapan pengetahuan secara langsung di dalam kelas.
Namun, penelitian menemukan bahwa pelaksanaan FDP masih menghadapi berbagai kendala. Beban mengajar yang tinggi, keterbatasan waktu, kurangnya sumber daya keuangan, keterbatasan bahan pembelajaran, serta infrastruktur teknologi yang belum memadai menjadi faktor yang menghambat guru dalam mengikuti dan menerapkan hasil pelatihan. Kondisi tersebut dapat menciptakan kesenjangan antara pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dengan praktik nyata di ruang kelas.
Profil responden menunjukkan bahwa kelompok usia 31–40 tahun merupakan kelompok terbesar, yaitu 15 orang atau 34,09 persen. Sementara itu, kelompok usia 41–50 tahun berjumlah 27,27 persen dan kelompok usia 21–30 tahun mencapai 22,73 persen. Secara keseluruhan, 61,36 persen responden berada pada rentang usia 31–50 tahun, yang menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga pendidik berada pada tahap karier menengah.
Dari sisi jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan, yakni 34 orang atau 77,27 persen, sedangkan laki-laki berjumlah 18,18 persen dan 4,55 persen memilih tidak menyatakan jenis kelamin. Kondisi ini menunjukkan bahwa tenaga pendidik pada sekolah dasar yang diteliti didominasi oleh perempuan.
Dari aspek pendidikan, sebanyak 40,91 persen responden memiliki gelar sarjana dengan beberapa unit kredit magister, sementara 27,27 persen telah menyelesaikan gelar magister. Sebanyak 13,64 persen memiliki gelar sarjana dan jumlah yang sama memiliki gelar magister dengan unit doktoral. Hanya 4,55 persen yang telah menyelesaikan gelar doktor. Secara keseluruhan, 86,36 persen responden telah menempuh pendidikan pascasarjana pada tingkat tertentu.
Dalam hal jabatan, mayoritas responden berada pada posisi Teacher I–III, yaitu 72,73 persen. Sementara itu, 18,18 persen merupakan Master Teacher I–IV, 6,82 persen merupakan kepala sekolah atau kepala satuan pendidikan, dan 2,27 persen berada pada posisi lainnya.
Berdasarkan masa kerja, kelompok terbesar memiliki pengalaman mengajar 6–10 tahun, yaitu 31,82 persen. Selanjutnya, 25 persen memiliki pengalaman 11–15 tahun, 18,18 persen memiliki pengalaman 0–5 tahun, 15,91 persen memiliki pengalaman 16–20 tahun, dan 9,09 persen telah mengajar selama 21 tahun atau lebih. Secara keseluruhan, 56,82 persen responden memiliki pengalaman 6–15 tahun.
Hasil penilaian terhadap status FDP menunjukkan adanya perbedaan antara kualitas isi program dan pelaksanaannya. Pada aspek perencanaan dan penetapan tujuan, tujuan program dinilai cukup selaras dengan rencana peningkatan sekolah dengan nilai rata-rata tertimbang 3,25. Tujuan juga dinilai spesifik dan dapat diukur dengan skor 3,09. Namun, keterlibatan guru dalam tahap perencanaan hanya memperoleh skor 2,23, yang dikategorikan sebagai “Disagree” atau kurang efektif.
Dari sisi kualitas materi dan pedagogi, hasil penelitian justru menunjukkan penilaian yang positif. Relevansi topik dengan kebutuhan kelas dan perubahan kurikulum memperoleh nilai tertinggi, yaitu 3,34. Keahlian trainer memperoleh skor 3,27, sedangkan strategi yang diajarkan dan kemudahannya untuk diterapkan memperoleh skor 3,00. Seluruh indikator tersebut masuk dalam kategori efektif.
Kelemahan paling jelas ditemukan pada aspek frekuensi dan konsistensi pelatihan. Pelaksanaan sesi pengembangan secara berkala hanya memperoleh nilai 2,41, sedangkan kesinambungan atau perkembangan logis antar-sesi memperoleh nilai 2,20. Keduanya berada dalam kategori kurang efektif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan masih cenderung berlangsung secara terpisah dan tidak membentuk jalur pembelajaran profesional yang berkesinambungan.
Pada aspek dukungan administratif dan logistik, responden menilai bahwa administrator cukup aktif mendorong dan memantau partisipasi guru dengan skor 3,14. Penyediaan tempat dan materi pelatihan juga dinilai efektif meskipun skornya lebih rendah, yaitu 2,59.
Penelitian kemudian mengidentifikasi sejumlah tantangan yang paling dirasakan guru. Penggunaan dana pribadi untuk biaya pendaftaran atau perjalanan pelatihan menjadi masalah paling serius, dengan nilai rata-rata tertimbang 3,57 dan kategori “Strongly Agree” atau tantangan berat. Konflik jadwal pelatihan dengan jam mengajar memperoleh skor 3,45, sedangkan beban mengajar yang tinggi memperoleh skor 3,39.
Masalah teknologi juga menjadi hambatan. Koneksi internet yang buruk memperoleh skor 3,32, sedangkan keterbatasan akses terhadap komputer atau perangkat digital di sekolah memperoleh skor 3,09. Kurangnya bahan pembelajaran juga menjadi tantangan dengan skor 3,18.
Secara keseluruhan, penelitian memperlihatkan adanya kesenjangan sistemik antara kualitas konseptual program dan pelaksanaan di lapangan. Program memiliki materi yang relevan dan trainer yang kompeten, tetapi pelaksanaannya masih bersifat top-down, tidak berkelanjutan, serta terbebani persoalan pendanaan, waktu, infrastruktur, dan sumber daya.
Para peneliti merekomendasikan pembentukan komite perencanaan FDP yang bersifat kolaboratif dan bottom-up dengan melibatkan koordinator tingkat kelas dan Master Teacher. Sekolah juga disarankan melakukan survei kebutuhan secara berkala agar tujuan pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan guru dan kondisi kelas.
Selain itu, program pengembangan guru perlu diubah dari seminar yang berdiri sendiri menjadi kerangka pelatihan modular dan progresif sepanjang tahun. Setiap sesi harus memiliki keterkaitan dengan sesi sebelumnya sehingga guru memperoleh jalur pembelajaran yang berkesinambungan.
Dari sisi pembiayaan, penelitian merekomendasikan agar sekolah menyediakan dana khusus untuk pengembangan profesional sehingga guru tidak lagi harus menggunakan uang pribadi untuk biaya pendaftaran maupun perjalanan pelatihan. Dukungan tersebut juga perlu disertai pengaturan jadwal dan sistem pengganti guru agar kegiatan pengembangan profesional tidak mengganggu keberlangsungan pembelajaran di kelas.
Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan program pengembangan guru tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik materi pelatihan dirancang, tetapi juga oleh bagaimana program tersebut direncanakan bersama guru, dilaksanakan secara berkelanjutan, didukung pendanaan yang memadai, serta ditunjang oleh waktu dan infrastruktur yang sesuai. Tanpa perbaikan pada aspek-aspek tersebut, program pengembangan profesional berisiko menjadi kegiatan administratif yang tidak sepenuhnya menghasilkan perubahan praktik pembelajaran yang berkelanjutan.
Penulis
Sumber Artikel
Judul: Status and Challenges of Faculty Development Programs in Selected Public Elementary Schools: A Descriptive Analysis of Implementation Gaps
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 8, 2026, pp. 1943–1958.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.115
Link Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR)
0 Komentar