Program MBG Hemat Pengeluaran Makan Keluarga hingga Rp500 Ribu per Anak di Tadui

Illustration by Ai


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak ekonomi bagi keluarga penerima manfaat di Desa Tadui, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Studi yang dilakukan Deni Wandi, Supriadi Yusuf, Hamzar, Ridwan Hayadin, dan Ilham Dahri dari Universitas Muhammadiyah Mamuju menemukan bahwa program tersebut dapat menghemat pengeluaran pangan keluarga sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per anak setiap bulan. Penghematan tersebut kemudian dialihkan untuk tabungan rumah tangga, modal usaha mikro, serta kebutuhan pendidikan anak. Studi ini meneliti dampak ekonomi MBG di Desa Tadui dan diterbitkan dalam International Journal of Integrative Research (IJIR) pada 2026.

MBG Memberikan Dampak Lebih dari Sekadar Makanan Gratis

Program MBG merupakan salah satu kebijakan nasional pemerintah Indonesia untuk merespons persoalan gizi masyarakat. Namun, manfaat program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makanan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, berkurangnya pengeluaran untuk makanan dan kebutuhan sekolah dapat memberikan ruang keuangan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Desa Tadui menjadi lokasi penting untuk melihat dampak tersebut. Desa ini berada di kawasan transisi semi-perkotaan yang dekat dengan ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, tetapi masih memiliki karakteristik pedesaan yang kuat.

Sebagian besar masyarakat menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian, perkebunan kelapa dan kakao, perikanan tangkap skala kecil, serta peternakan rakyat. Kondisi pendapatan yang cenderung musiman dan tidak selalu stabil membuat pengeluaran harian untuk anak menjadi beban bagi sebagian keluarga.

Para peneliti juga menemukan persoalan dalam rantai pasok MBG. Masyarakat Desa Tadui belum terlibat secara sistematis sebagai pemasok utama bahan pangan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebagian besar pasokan masih berasal dari distributor besar.

Penelitian Melibatkan 16 Responden

Deni Wandi dan rekan-rekannya menggunakan data kualitatif dan kuantitatif, dengan data kualitatif sebagai sumber utama. Populasi penelitian terdiri atas 71 orang, sementara 16 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling.

Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informasi yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif interaktif.

Para peneliti juga melakukan pengecekan silang informasi dengan melibatkan keluarga penerima manfaat, pengelola SPPG, serta pemerintah desa. Langkah tersebut digunakan untuk memastikan konsistensi informasi mengenai dampak MBG terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Keluarga Bisa Menghemat hingga Rp500 Ribu

Temuan utama penelitian terlihat pada perubahan pengeluaran rumah tangga.

Sebelum MBG berjalan, uang saku anak dan biaya sarapan menjadi salah satu beban pengeluaran harian bagi keluarga buruh tani dan nelayan tradisional. Pendapatan yang tidak tetap membuat pengeluaran kecil sekalipun dapat memberikan tekanan terhadap keuangan keluarga.

Studi tersebut menggambarkan bahwa uang saku sekitar Rp15.000 per anak per hari dapat terakumulasi menjadi sekitar Rp300.000 hingga Rp450.000 per bulan untuk dua anak. Bagi keluarga buruh tani dengan pendapatan kurang dari Rp1,5 juta per bulan, jumlah tersebut menjadi beban yang cukup besar karena dapat mencapai bagian signifikan dari pendapatan keluarga.

Kehadiran makanan bergizi gratis dari dapur SPPG Desa Tadui mengurangi kebutuhan keluarga untuk mengalokasikan uang yang sama bagi makanan harian anak.

Dalam kesimpulan penelitian, penghematan pengeluaran keluarga penerima manfaat tercatat sekitar Rp300.000–Rp500.000 per anak per bulan.

Penghematan Dialihkan untuk Tabungan dan Usaha

Uang yang berhasil dihemat keluarga tidak hanya digunakan untuk konsumsi lainnya. Para peneliti menemukan adanya tiga pola utama penggunaan dana tersebut.

Pertama, tabungan rumah tangga. Keluarga dengan pendapatan tidak tetap, termasuk nelayan tradisional dan pekerja perkebunan kelapa, menyimpan sebagian uang yang berhasil dihemat. Tabungan tersebut dapat menjadi cadangan ketika keluarga menghadapi kondisi tidak terduga seperti sakit, gagal panen, atau cuaca buruk.

Kedua, tambahan modal usaha mikro. Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Tadui menjalankan usaha kecil, seperti berjualan makanan tradisional atau usaha keliling. Penghematan dari biaya pangan rumah tangga dapat digunakan sebagai modal kerja tambahan untuk meningkatkan skala usaha.

Ketiga, kebutuhan pendidikan anak. Sebagian keluarga menggunakan uang yang tersedia untuk membeli buku atau alat tulis, seragam sekolah, sepatu, serta membiayai kebutuhan transportasi anak ke sekolah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi MBG dapat meluas dari pemenuhan kebutuhan pangan menuju peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Rantai Pasok Lokal Masih Menjadi Tantangan

Di sisi lain, penelitian ini menemukan bahwa manfaat ekonomi MBG belum sepenuhnya berputar di dalam perekonomian Desa Tadui.

Indeks Konektivitas Rantai Pasok Lokal (KRPL) antara dapur SPPG dan produsen lokal masih berada pada tingkat rendah hingga sedang. Petani, nelayan, dan peternak lokal belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan pengadaan bahan pangan SPPG.

Menurut temuan penelitian, keterbatasan administrasi formal dalam proses perekrutan pemasok membuat distributor besar lebih dominan. Selain itu, akses terhadap layanan perbankan dan infrastruktur logistik yang terbatas meningkatkan biaya transaksi antara produsen lokal dan pengelola SPPG.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian belanja pemerintah untuk program MBG berpotensi mengalir ke luar Desa Tadui, sehingga manfaat ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati produsen lokal belum maksimal.

MBG Berpotensi Menjadi Penggerak Ekonomi Lokal

Hasil penelitian menunjukkan bahwa MBG memiliki dua jalur dampak ekonomi yang saling berkaitan.

Jalur pertama berasal dari penghematan rumah tangga. Ketika keluarga tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak sebelumnya untuk makanan anak, dana tersebut dapat digunakan untuk tabungan, usaha, dan pendidikan.

Jalur kedua berasal dari rantai pasok lokal. Jika dapur SPPG lebih banyak membeli bahan pangan dari petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha lokal, belanja program MBG berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar di tingkat desa.

Karena itu, peningkatan keterhubungan antara dapur SPPG dan produsen lokal menjadi salah satu aspek penting untuk memperkuat dampak ekonomi program. Pengadaan bahan pangan secara lebih inklusif dapat membuat manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh pelaku ekonomi lokal.

Secara keseluruhan, studi Deni Wandi dan tim menunjukkan bahwa MBG memiliki potensi sebagai program pemenuhan gizi sekaligus instrumen penguatan ketahanan ekonomi keluarga. Penghematan pengeluaran dapat meningkatkan kemampuan keluarga menghadapi risiko ekonomi, mendukung usaha mikro, dan membiayai kebutuhan pendidikan anak.

Namun, optimalisasi manfaat ekonomi program masih membutuhkan penguatan rantai pasok lokal agar lebih banyak anggaran MBG berputar di masyarakat Desa Tadui.

Profil Singkat Penulis

Artikel ini ditulis oleh Deni Wandi, Supriadi Yusuf, Hamzar, Ridwan Hayadin, dan Ilham Dahri, yang berafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Mamuju. Deni Wandi tercatat sebagai penulis korespondensi.

Artikel jurnal tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian individual masing-masing penulis. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari penyajian data yang tidak terdapat dalam sumber.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Impact of the Free Nutritious Meal (MBG) Program on the Community's Economy in Tadui Village, Mamuju District

Penulis: Deni Wandi, Supriadi Yusuf, Hamzar, Ridwan Hayadin, Ilham Dahri

Afiliasi: Universitas Muhammadiyah Mamuju

Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

Volume: 4, Nomor 8, 2026

Halaman: 745–760

DOI: 10.59890/ijir.v4i8.247

Website jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

 


Posting Komentar

0 Komentar