Kajian mendalam mengenai faktor penentu pengungkapan emisi karbon serta dampaknya terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai variabel pemoderasi telah diselesaikan oleh Kurniawati dan Maureen Aurelia dari Universitas Bunda Mulia, Tangerang
Isu perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca telah mendorong regulator di Indonesia memberlakukan kewajiban pelaporan keberlanjutan melalui POJK No. 51/POJK.03/2017
Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap perusahaan sektor non-siklikal yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2021–2024
Hasil analisis data menunjukkan beberapa temuan penting berikut:
- Ukuran perusahaan terbukti menjadi satu-satunya faktor penentu yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan emisi karbon, di mana perusahaan berskala besar cenderung lebih transparan akibat tingginya sorotan publik dan pemangku kepentingan
. - Variabel tingkat utang (leverage) serta penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) seperti sertifikasi ISO 14001 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luasnya pengungkapan emisi karbon
. - Pengungkapan emisi karbon tidak secara otomatis mendongkrak nilai perusahaan, melainkan profitabilitas terbukti secara signifikan memperkuat dampak positif pengungkapan tersebut terhadap nilai pasar perusahaan
.
Menurut Kurniawati dan Maureen Aurelia dari Universitas Bunda Mulia, pasar memberikan apresiasi tinggi terhadap transparansi lingkungan apabila emiten mampu membuktikan kinerja keuangan yang kuat
Profil Penulis:
Kurniawati dan Maureen Aurelia merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia, yang memiliki kepakaran di bidang akuntansi keuangan, tata kelola perusahaan, serta pelaporan keberlanjutan dan emisi karbon
Sumber Penelitian:
Kurniawati, & Aurelia, M. (2026). Determinant of Carbon Emission Disclosure and its Impact on Firm Value: Moderating Role of Profitability. Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), 6(4), 815–834. DOI:
0 Komentar