Penelitian ini penting karena industri batu bara memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia, tetapi perusahaan di dalamnya tetap menghadapi risiko tekanan keuangan. Persaingan bisnis, kebutuhan modal yang besar, perubahan harga komoditas, serta tingginya kebutuhan operasional dapat memengaruhi kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja keuangannya.
Artikel tersebut mencatat bahwa produksi batu bara Indonesia mencapai 775,2 juta ton pada 2023 atau sekitar 112 persen dari target nasional. Pada saat yang sama, kinerja profitabilitas perusahaan batu bara yang diukur melalui Return on Assets (ROA) mengalami perubahan. ROA meningkat dari 0,11 pada 2019 menjadi 0,38 pada 2022, tetapi kemudian turun menjadi 0,21 pada 2023 dan 0,16 pada 2024. Penurunan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mengamati kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimilikinya.
Untuk mendeteksi kemungkinan kesulitan keuangan, Cardiana dan Firdaus menggunakan Altman Z-Score. Ukuran ini digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi kesehatan keuangan dan potensi terjadinya financial distress, yaitu kondisi ketika perusahaan mulai mengalami kesulitan keuangan sebelum mencapai tahap kebangkrutan atau likuidasi.
Menguji 33 perusahaan, fokus pada enam sampel
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan subsektor batu bara yang tersedia melalui BEI dan situs perusahaan. Populasi penelitian terdiri atas 33 perusahaan yang terdaftar di BEI.
Dari populasi tersebut, peneliti memilih enam perusahaan sebagai sampel menggunakan metode purposive sampling. Perusahaan yang dipilih harus terdaftar selama periode penelitian, menerbitkan laporan keuangan secara berturut-turut dari 2019 hingga 2024, mencatatkan laba selama periode pengamatan, dan tidak memiliki data yang dikategorikan sebagai outlier.
Tiga indikator utama digunakan untuk melihat hubungan antarvariabel. Likuiditas diukur menggunakan Current Ratio (CR), leverage menggunakan Debt to Assets Ratio (DAR), sedangkan profitabilitas menggunakan ROA. Selanjutnya, hubungan variabel tersebut dengan Altman Z-Score dianalisis menggunakan regresi data panel dengan bantuan EViews 12. Pengaruh tidak langsung profitabilitas juga diuji menggunakan Sobel Test.
Likuiditas tidak cukup untuk membaca kesehatan perusahaan
Salah satu temuan utama penelitian menunjukkan bahwa likuiditas yang diukur melalui CR tidak memiliki pengaruh langsung terhadap Altman Z-Score. Artinya, tingginya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek belum tentu menggambarkan kondisi kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Peneliti menjelaskan bahwa perusahaan batu bara membutuhkan modal kerja dan biaya operasional yang besar. Karena itu, dana yang tersedia sebagai aset lancar dapat lebih banyak digunakan untuk menjaga kelangsungan operasional dibandingkan secara langsung meningkatkan keuntungan perusahaan.
Hubungan serupa juga terlihat antara likuiditas dan profitabilitas. CR tidak terbukti memengaruhi ROA. Dengan kata lain, memiliki tingkat likuiditas yang lebih tinggi tidak otomatis membuat perusahaan lebih mampu menghasilkan laba dari asetnya.
Utang tidak otomatis berarti perusahaan mengalami krisis
Leverage juga menghasilkan temuan yang menarik. Secara langsung, DAR tidak menunjukkan hubungan positif dengan Altman Z-Score dalam model penelitian. Namun, DAR justru memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.
Temuan ini menunjukkan bahwa utang dapat memberikan manfaat ketika digunakan untuk kegiatan produktif. Dalam industri batu bara yang membutuhkan modal besar, tambahan pembiayaan dapat digunakan untuk aktivitas seperti eksplorasi dan pengembangan tambang. Jika dikelola dengan baik, penggunaan utang tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa DAR memiliki koefisien negatif sebesar -4,760249 terhadap Z-Score dengan tingkat signifikansi 0,0177. Sementara itu, ROA memiliki koefisien positif sebesar 6,557370 dengan tingkat signifikansi 0,0000. Model tersebut mampu menjelaskan sekitar 69,91 persen variasi Z-Score, sedangkan 30,09 persen lainnya dipengaruhi faktor di luar model.
ROA menjadi indikator yang paling menonjol
Temuan paling kuat muncul pada profitabilitas. ROA terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Z-Score. Dalam konteks penelitian ini, semakin baik kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari asetnya, semakin kuat kondisi keuangannya dan semakin rendah risiko kesulitan keuangan.
Hasil tersebut menjadikan profitabilitas sebagai aspek penting bagi manajemen perusahaan maupun investor. Bagi perusahaan batu bara, pengelolaan aset secara efisien tidak hanya berkaitan dengan peningkatan laba, tetapi juga dapat membantu memperkuat kondisi keuangan.
Menariknya, pengujian mediasi menunjukkan bahwa ROA dapat menjadi penghubung antara likuiditas dan Z-Score. Sobel Test menghasilkan nilai t-statistic 2,484835 dengan p-value 0,012961. ROA juga memediasi hubungan antara leverage dan Z-Score, dengan t-statistic 2,882676 dan p-value 0,003943. Kedua hasil tersebut berada di bawah tingkat signifikansi 5 persen.
Dengan demikian, pengaruh kondisi likuiditas dan utang terhadap risiko kesulitan keuangan tidak hanya perlu dilihat secara langsung. Kemampuan perusahaan mengubah sumber daya dan pembiayaan menjadi keuntungan menjadi bagian penting dalam hubungan tersebut.
Implikasi bagi perusahaan dan investor
Cardiana dan Firdaus menyarankan perusahaan batu bara memprioritaskan peningkatan profitabilitas melalui pengelolaan aset yang lebih efisien serta penggunaan utang pada tingkat yang sehat. Strategi tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan laba sekaligus memperkuat kondisi keuangan perusahaan.
Bagi investor, ROA dapat menjadi salah satu indikator utama ketika mengevaluasi prospek perusahaan batu bara. Namun, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa likuiditas dan leverage dapat diabaikan. Keduanya tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi keuangan melalui jalur profitabilitas.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya mencakup perusahaan subsektor batu bara yang terdaftar di BEI dan periode 2019–2024. Jumlah sampel juga relatif kecil, yakni enam perusahaan. Karena itu, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh industri. Peneliti merekomendasikan penelitian berikutnya memasukkan faktor lain seperti ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, perputaran total aset, arus kas, dan tata kelola perusahaan.
Profil Penulis
Angelique Cardiana
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Bidang penelitian dalam artikel: likuiditas, leverage, profitabilitas, dan financial distress perusahaan subsektor batu bara.
Iwan Firdaus
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Bidang penelitian dalam artikel: analisis keuangan perusahaan dan faktor-faktor yang berkaitan dengan financial distress.
Sumber Penelitian
Judul: The Effect of Liquidity and Leverage on Z-Score as a Predictor of Financial Distress, with Profitability as a Mediating Variable (A Study of Coal Sub-Sector Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange)
Penulis: Angelique Cardiana dan Iwan Firdaus
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 8, 2026, halaman 967–978
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i8.32
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar