Penelitian yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO) tersebut melihat penyuluhan dari sudut pandang petani yang telah memiliki pengalaman mengikuti kegiatan penyuluhan. Pendekatan ini penting karena kebutuhan petani terhadap penyuluhan tidak selalu sama. Sebagian petani dapat lebih membutuhkan pembelajaran dan peningkatan kemampuan, sementara lainnya lebih menekankan bantuan praktis, teknologi, atau kemandirian dalam mengambil keputusan.
Penyuluhan Pertanian Tidak Lagi Sekadar Transfer Informasi
Perubahan teknologi, ketidakpastian pasar, tekanan lingkungan, keterbatasan sumber daya, serta semakin beragamnya sumber informasi membuat petani harus mengambil keputusan dalam situasi yang terus berubah.
Dalam kondisi tersebut, penyuluhan pertanian tidak cukup jika hanya memberikan rekomendasi satu arah. Petani juga membutuhkan kesempatan untuk memahami alasan di balik sebuah rekomendasi, mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi, membandingkan berbagai pilihan, serta menentukan tindakan berdasarkan kondisi di lapangan.
Artikel tersebut juga menekankan bahwa petani bukan penerima informasi yang pasif. Pengalaman, pengetahuan lokal, sumber daya yang tersedia, serta persepsi terhadap risiko dan peluang ikut memengaruhi cara petani memahami informasi pertanian.
Karena itu, efektivitas penyuluhan dapat berkaitan erat dengan sejauh mana materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan nyata petani.
Melibatkan 40 Petani di Kabupaten Malang
Penelitian ini melibatkan 40 petani di Kabupaten Malang yang sebelumnya pernah mengikuti kegiatan penyuluhan pertanian. Para peserta dipilih secara purposif karena pengalaman langsung dengan penyuluhan dianggap penting untuk menilai berbagai pernyataan mengenai fungsi penyuluhan.
Peneliti menggunakan Q-methodology, yaitu metode yang digunakan untuk menemukan pola kesamaan dan perbedaan pandangan subjektif dari para peserta.
Masing-masing petani diminta mengurutkan 48 pernyataan mengenai penyuluhan pertanian berdasarkan tingkat kesesuaian dengan pandangan mereka. Pernyataan tersebut ditempatkan dalam distribusi dari skor −4 hingga +4, dengan +4 menunjukkan pernyataan yang paling sesuai dengan pandangan peserta dan −4 menunjukkan pernyataan yang paling tidak disetujui.
Data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak PQMethod melalui korelasi antarpola jawaban, ekstraksi faktor, dan rotasi Varimax. Hasil akhirnya menghasilkan empat konfigurasi perspektif yang secara keseluruhan menjelaskan 72,1% variasi dalam matriks korelasi Q-sort.
Empat Cara Petani Memaknai Penyuluhan
Hasil penelitian menemukan empat perspektif utama. Keempatnya saling berhubungan, tetapi memberikan penekanan yang berbeda.
1. Pendidikan dan peningkatan kapasitas
Perspektif pertama melihat penyuluhan terutama sebagai proses pembelajaran. Petani tidak hanya ingin mengetahui tindakan yang harus dilakukan, tetapi juga memahami alasan di balik rekomendasi tersebut.
Salah satu pernyataan yang mendapat skor tertinggi adalah bahwa penyuluhan harus membantu petani memahami mengapa suatu tindakan direkomendasikan. Pada saat yang sama, petani menolak gagasan bahwa penyuluh seharusnya menentukan keputusan pertanian mereka.
2. Bantuan dan pemecahan masalah
Perspektif kedua lebih menekankan fungsi praktis penyuluhan. Petani membutuhkan penyuluh yang hadir dan dapat membantu ketika muncul persoalan di lapangan.
Dalam perspektif ini, penyuluhan dinilai bukan sekadar sebagai sumber informasi umum, tetapi sebagai bantuan langsung untuk mendiagnosis masalah, melakukan konsultasi, dan memberikan solusi praktis terhadap persoalan pertanian.
3. Inovasi dan transfer teknologi
Perspektif ketiga menempatkan teknologi dan inovasi sebagai bagian penting dari penyuluhan. Petani dalam konfigurasi ini lebih meyakini teknologi ketika mereka dapat melihat demonstrasi dan bukti hasilnya secara langsung.
Namun, temuan tersebut tidak berarti petani menerima semua teknologi tanpa pertimbangan. Kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, biaya, manfaat, risiko, dan hasil yang dapat diamati tetap menjadi bagian dari pertimbangan.
4. Pemberdayaan dan kemandirian petani
Perspektif keempat menekankan kemampuan petani untuk mengambil keputusan secara mandiri. Penyuluhan dipandang perlu memperkuat kelompok tani, memperluas akses informasi, dan membantu petani mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada penyuluh.
Dalam perspektif ini, penyuluh lebih tepat berperan sebagai fasilitator pembelajaran, akses informasi, diskusi, dan pengambilan keputusan daripada menjadi pihak yang menentukan keputusan petani.
Ada Lima Prinsip yang Menyatukan Petani
Meskipun terdapat perbedaan dalam penekanan terhadap fungsi penyuluhan, penelitian menemukan sejumlah prinsip yang mendapat dukungan relatif serupa dari keempat perspektif.
Lima prinsip tersebut adalah:
- materi penyuluhan harus sesuai dengan kebutuhan petani;
- pengalaman petani perlu dihargai sebagai sumber pengetahuan;
- penyuluhan tidak cukup dilakukan melalui metode ceramah;
- komunikasi dua arah penting dalam proses penyuluhan;
- penyuluhan harus berkaitan dengan persoalan nyata yang dihadapi petani.
Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan perspektif tidak berarti petani memiliki kebutuhan yang sepenuhnya bertentangan. Mereka memiliki titik temu mengenai pentingnya penyuluhan yang relevan, partisipatif, praktis, dan menghargai pengalaman serta kewenangan petani dalam mengambil keputusan.
Penyuluh Berperan sebagai Fasilitator, Bukan Pengambil Keputusan
Salah satu temuan yang paling konsisten adalah rendahnya dukungan terhadap pernyataan bahwa penyuluh harus menentukan keputusan usaha tani petani. Pernyataan tersebut berada pada posisi negatif di keempat perspektif.
Bagi Arissaryadin, Artini, Lisanty, dan Hadiyanti dari University of Kadiri, pola tersebut memperlihatkan bahwa penyuluhan lebih dipahami sebagai proses yang membantu petani memahami masalah, mengevaluasi pilihan, dan meningkatkan kemampuan mengambil keputusan.
Dengan demikian, keberhasilan penyuluhan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak informasi atau teknologi yang disampaikan, tetapi juga dari kemampuan petani menggunakan pengetahuan tersebut secara mandiri.
Implikasi bagi Program Penyuluhan Pertanian
Temuan penelitian memberikan gambaran bahwa program penyuluhan dapat dirancang dengan fungsi yang lebih beragam sesuai kebutuhan petani. Kegiatan pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas, konsultasi lapangan untuk menangani masalah praktis, demonstrasi untuk memperkenalkan teknologi, serta penguatan kelompok tani untuk meningkatkan kemandirian.
Peneliti merekomendasikan agar program penyuluhan menggabungkan peningkatan kapasitas, pemecahan masalah yang responsif, demonstrasi teknologi yang sesuai, dan pemberdayaan partisipatif. Akses petani terhadap informasi serta kemampuan kelompok tani dalam mengambil keputusan juga perlu diperkuat.
Namun, hasil ini tidak berarti setiap petani di Kabupaten Malang dapat dimasukkan secara pasti ke dalam salah satu dari empat kategori. Penelitian menggunakan Q-methodology untuk menemukan konfigurasi pandangan, bukan untuk menghitung berapa persen populasi petani yang memiliki perspektif tertentu. Lima dari 40 Q-sort juga menunjukkan pola cross-loading, yang berarti terdapat peserta dengan kombinasi pandangan dari lebih dari satu perspektif.
Profil Penulis
Artikel ini ditulis oleh Arissaryadin, Widi Artini, Nina Lisanty, dan Nugraheni Hadiyanti, yang seluruhnya berafiliasi dengan University of Kadiri.
Sumber Penelitian
Judul: Farmers’ Perspectives on Agricultural Extension as Community Education: A Q-Methodology Study in Malang Regency
Penulis: Arissaryadin, Widi Artini, Nina Lisanty, Nugraheni Hadiyanti
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 4
Tahun: 2026
Halaman: 245–264
DOI: 10.55927/marcopolo.v4i4.34
URL jurnal: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo
0 Komentar