Peptida Hidrolisat Keratin dan Tingkat Kematangan Panen Memengaruhi Kualitas Jeruk Siam Kintamani

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - BALI – Penggunaan peptida hidrolisat keratin atau Keratin Hydrolyzate Peptide (KHP) dan tingkat kematangan saat panen terbukti memengaruhi sejumlah karakter fisiologis tanaman serta kualitas fisikokimia jeruk Siam (Citrus nobilis Lour.) di Kintamani, Bali. Temuan ini berasal dari penelitian Putu Bujangga Wahyu Kharisma Putra, I Nyoman Rai, dan Ni Nyoman Ari Mayadewi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang dilakukan pada Oktober 2025 hingga Mei 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi KHP 2 mL per liter memberikan sejumlah respons yang menguntungkan, sementara kombinasi KHP 2 mL per liter dengan panen pada tingkat kematangan fisiologis menghasilkan kadar air buah tertinggi, yakni 88,72 persen.

Jeruk Siam merupakan salah satu komoditas jeruk yang banyak dibudidayakan di Bali, dengan Kintamani, Kabupaten Bangli, sebagai salah satu sentra produksinya. Kualitas buah jeruk dapat berubah tergantung kondisi kebun dan waktu panen. Ukuran buah, kadar sari, tingkat kemanisan, keasaman, hingga kehilangan air selama penyimpanan berkaitan dengan kondisi buah ketika dipanen.

Waktu panen menjadi faktor penting karena jeruk termasuk buah non-klimakterik. Artinya, peningkatan kualitas setelah buah dipanen relatif terbatas sehingga perkembangan kualitas buah sebelum panen dan tingkat kematangan ketika dipetik menjadi bagian penting dalam menentukan mutu akhir.

Memanfaatkan peptida sebagai biostimulan tanaman

Penelitian ini menggunakan KHP sebagai bahan biostimulan. Protein hidrolisat merupakan bahan yang mengandung peptida dan asam amino hasil pemecahan protein. Bahan tersebut diketahui berpotensi memengaruhi berbagai proses fisiologis tanaman, termasuk fotosintesis, penyerapan nutrisi, keseimbangan air, dan respons terhadap tekanan lingkungan.

Namun, respons tanaman terhadap protein hidrolisat tidak selalu meningkat seiring bertambahnya konsentrasi. Jenis tanaman, sumber bahan, komposisi produk, lingkungan, waktu aplikasi, dan dosis dapat memengaruhi hasilnya. Karena itu, penggunaan konsentrasi lebih tinggi tidak otomatis menghasilkan manfaat yang lebih besar.

Penelitian Putra, Rai, dan Mayadewi mengisi keterbatasan informasi mengenai penggunaan peptida hidrolisat berbasis keratin pada jeruk Siam Kintamani. Peneliti juga menguji apakah respons tanaman terhadap KHP berbeda ketika buah dipanen pada tingkat kematangan yang berbeda.

Penelitian dilakukan pada 36 pohon jeruk Siam

Penelitian berlangsung di kebun jeruk milik petani di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Tanaman yang digunakan merupakan pohon jeruk Siam berusia sekitar 12 tahun dan berasal dari satu area kebun dengan riwayat pemeliharaan yang relatif seragam.

Para peneliti menggunakan tiga konsentrasi KHP, yaitu 0, 2, dan 4 mL per liter. Konsentrasi 0 mL per liter digunakan sebagai kontrol, sedangkan 2 dan 4 mL per liter digunakan untuk melihat respons tanaman terhadap peningkatan dosis.

Selain konsentrasi KHP, penelitian juga membandingkan tiga tingkat kematangan buah saat panen: sebelum matang fisiologis dengan kulit hijau mengilap, matang fisiologis dengan kulit hijau yang mulai memiliki semburat kuning, serta setelah matang fisiologis dengan kulit kuning merata.

Keseluruhan kombinasi menghasilkan sembilan perlakuan. Penelitian melibatkan empat blok dengan total 36 pohon sebagai unit percobaan. Setiap kombinasi perlakuan memiliki empat ulangan biologis.

KHP diaplikasikan melalui penyemprotan ke seluruh tajuk tanaman sebanyak empat kali, mulai dari fase pembungaan, pembentukan buah, sekitar 60 hari setelah pembentukan buah, hingga sekitar 120 hari setelah pembentukan buah.

Peneliti kemudian mengukur sejumlah indikator fisiologis tanaman, seperti kandungan klorofil daun, kandungan air relatif daun, transmisi cahaya pada tajuk, gula daun, serta kandungan fosfor dan kalium. Kualitas buah dinilai melalui bobot buah, vitamin C, total padatan terlarut atau TSS, keasaman tertitrasi, rasio TSS terhadap keasaman, kadar sari buah, kadar air, serta kehilangan bobot selama penyimpanan hingga 21 hari.

Konsentrasi 2 mL per liter menunjukkan respons fisiologis yang menonjol

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi KHP berpengaruh nyata terhadap kandungan air relatif daun, klorofil, dan transmisi cahaya pada tajuk. Perlakuan 2 mL per liter menghasilkan kandungan air relatif daun sebesar 80,91 persen dan kandungan klorofil sebesar 65,30 SPAD.

Pada konsentrasi yang sama, transmisi cahaya menuju bagian bawah tajuk menjadi yang terendah, yaitu 26,94 persen. Sebaliknya, KHP tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap gula total daun maupun kandungan fosfor dan kalium.

Peneliti menekankan bahwa peningkatan konsentrasi dari 2 menjadi 4 mL per liter tidak menghasilkan peningkatan lanjutan pada kandungan air relatif maupun klorofil. Dengan demikian, dalam kondisi percobaan tersebut, konsentrasi 2 mL per liter menunjukkan respons yang lebih menguntungkan dibandingkan kontrol dan konsentrasi 4 mL per liter untuk beberapa parameter yang diamati.

Namun, Putra, Rai, dan Mayadewi tidak mengklaim bahwa KHP secara langsung meningkatkan laju fotosintesis. Penelitian tidak mengukur laju fotosintesis maupun indeks luas daun sehingga perubahan klorofil dan karakter tajuk tidak dapat digunakan sebagai bukti langsung peningkatan fotosintesis.

Panen pada kematangan fisiologis menghasilkan profil mutu yang berbeda

Tingkat kematangan panen juga memberikan pengaruh penting terhadap kualitas buah. Buah yang dipanen pada tingkat kematangan fisiologis menghasilkan kandungan vitamin C sebesar 161,33 mg per 100 gram, lebih tinggi dibandingkan buah yang dipanen setelah melewati kematangan fisiologis.

Total padatan terlarut atau TSS meningkat dari 8,31 °Brix pada buah yang dipanen sebelum matang fisiologis menjadi 8,86 °Brix pada kematangan fisiologis dan 9,38 °Brix setelah kematangan fisiologis.

Sebaliknya, tingkat keasaman tertitrasi menurun dari 1,77 persen pada tahap sebelum matang fisiologis menjadi 1,00 persen pada kematangan fisiologis dan 0,60 persen setelah kematangan fisiologis. Perubahan tersebut menyebabkan rasio TSS terhadap keasaman meningkat dari 6,51 menjadi 10,99 dan kemudian 15,61.

Data tersebut menunjukkan bahwa kematangan buah tidak hanya berkaitan dengan perubahan rasa manis, tetapi juga dengan vitamin C dan tingkat keasaman. Pada tahap kematangan fisiologis, buah menunjukkan kombinasi karakter yang dinilai menguntungkan, termasuk vitamin C yang tinggi, bobot buah yang tinggi, TSS yang moderat, serta tingkat keasaman yang lebih rendah dibandingkan tahap sebelum matang fisiologis.

Kombinasi KHP 2 mL per liter dan kematangan fisiologis paling menjanjikan pada beberapa parameter

Interaksi antara konsentrasi KHP dan tingkat kematangan panen terbukti berpengaruh terhadap kadar sari buah, kadar air total buah, dan kehilangan bobot setelah 21 hari.

Kombinasi KHP 2 mL per liter dengan panen pada kematangan fisiologis menghasilkan kadar air buah tertinggi, yaitu 88,72 persen. Kombinasi tersebut juga menghasilkan kadar sari 44,13 persen.

Sementara itu, kombinasi KHP 2 mL per liter dengan buah yang dipanen setelah kematangan fisiologis menghasilkan kadar sari tertinggi, yaitu 47,43 persen.

Untuk kehilangan bobot selama 21 hari, perlakuan tanpa KHP pada buah dengan kematangan fisiologis menghasilkan nilai numerik terendah, yaitu 13,02 persen. Kombinasi KHP 2 mL per liter dan kematangan fisiologis menghasilkan kehilangan bobot 14,24 persen. Namun, kedua nilai tersebut berada dalam kelompok statistik yang tumpang tindih sehingga perbedaannya tidak dapat dianggap signifikan.

Secara keseluruhan, kombinasi KHP 2 mL per liter dan panen pada kematangan fisiologis dapat dipandang sebagai kombinasi yang menjanjikan karena menunjukkan sejumlah karakter positif. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa kombinasi tersebut belum dapat disebut sebagai dosis dan waktu panen yang paling optimal untuk seluruh karakter tanaman dan buah.

Potensi untuk budidaya jeruk Siam masih membutuhkan pengujian lanjutan

Putu Bujangga Wahyu Kharisma Putra bersama I Nyoman Rai dan Ni Nyoman Ari Mayadewi menyimpulkan bahwa KHP 2 mL per liter memberikan respons positif pada beberapa karakter tanaman dan buah, terutama kandungan air relatif daun, klorofil, TSS, dan bobot buah.

Sementara itu, tingkat kematangan panen memengaruhi vitamin C, TSS, keasaman tertitrasi, rasio TSS terhadap keasaman, serta bobot buah. Interaksi KHP dan kematangan panen berpengaruh terhadap kadar sari, kadar air buah, dan kehilangan bobot pada hari ke-21.

Temuan ini berpotensi menjadi dasar bagi pengembangan strategi pemeliharaan dan panen jeruk Siam Kintamani. Namun, penerapan langsung di tingkat petani masih memerlukan pengujian lebih luas. Peneliti merekomendasikan percobaan pada musim, kebun, dan kondisi lingkungan yang berbeda.

Penelitian lanjutan juga perlu menguji rentang dosis yang lebih sempit di sekitar 2 mL per liter, mengukur laju fotosintesis dan indeks luas daun, serta memperluas pengamatan pascapanen melalui data respirasi, penerimaan konsumen, kerusakan buah, dan aspek mikrobiologis.

Profil Penulis

Putu Bujangga Wahyu Kharisma Putra merupakan mahasiswa Magister Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. I Nyoman Rai dan Ni Nyoman Ari Mayadewi merupakan bagian dari Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. Ketiganya terlibat dalam penelitian mengenai respons fisiologis tanaman dan kualitas fisikokimia buah jeruk Siam melalui penggunaan peptida hidrolisat keratin serta pengaturan tingkat kematangan panen.

Sumber Penelitian

Judul: The Effect of Keratin Hydrolyzate Peptide Concentration and Harvest Maturity Level on the Physiological Response and Physicochemical Quality of Siam orangess (Citrus nobilis Lour.)
Penulis: Putu Bujangga Wahyu Kharisma Putra, I Nyoman Rai, Ni Nyoman Ari Mayadewi
Afiliasi: Faculty of Agriculture, Udayana University
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume: 5, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 2491–2508

Posting Komentar

0 Komentar