Penguatan SDM Jadi Strategi Membangun Bisnis Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Bonjeruk

Ilustrasi by AI

Lombok Tengah – Desa Wisata Bonjeruk di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Namun, penelitian Isdar Wahim dan lima penulis lainnya dari Politeknik Pariwisata Lombok pada 2026 menunjukkan bahwa pembangunan fisik dan promosi saja belum cukup. Peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat lokal menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat daya tarik sekaligus keberlanjutan desa wisata.

Bonjeruk memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata. Daya tarik alamnya mencakup Sungai Kokoh Dalam, panorama persawahan, Pasar Bambu Tradisional, serta perkebunan cokelat, kopi, dan buah naga. Desa ini juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya melalui peninggalan Kerajaan atau Datu Jonggat, seperti Masjid Tua Raden Nune Umas Bonjeruk, rumah dan makam Datu Jonggat, serta bangunan tua berarsitektur kolonial. Kombinasi alam, budaya, dan sejarah tersebut menjadi karakter yang membedakan Bonjeruk dari destinasi lain di Lombok Tengah.

Lokasi Bonjeruk juga menjadi salah satu modal penting. Desa tersebut berada relatif dekat dengan sejumlah destinasi wisata dan pusat aktivitas pariwisata di Lombok. Akses menuju Bonjeruk sekitar 25 menit dari Bandara Internasional Lombok, 30 menit dari Kota Mataram, dan 15 menit dari Kota Praya. Kondisi ini memberikan peluang bagi Bonjeruk untuk dikembangkan sebagai destinasi yang menawarkan suasana pedesaan, lingkungan alam, budaya lokal, sejarah, serta kuliner.

Meski potensinya cukup besar, pengembangan Bonjeruk masih menghadapi persoalan sumber daya manusia dan partisipasi masyarakat. Penelitian menemukan bahwa pengembangan desa wisata masih cenderung berfokus pada pembangunan fisik dan kegiatan promosi, sedangkan peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal belum dilakukan secara sistematis. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen destinasi, pelayanan wisata, promosi, serta pengemasan produk menjadi salah satu hambatan dalam mengoptimalkan potensi yang tersedia.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposif dari pengurus Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis, aparatur desa, serta masyarakat lokal yang terlibat dalam kegiatan pariwisata. Peneliti kemudian membandingkan berbagai sumber informasi untuk memperoleh gambaran yang lebih kredibel mengenai kondisi pengelolaan Desa Wisata Bonjeruk.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Bonjeruk sebenarnya telah memiliki modal sosial dan kelembagaan yang cukup kuat. Keberadaan Pokdarwis dan keterlibatan masyarakat menjadi fondasi penting dalam pengelolaan desa wisata. Bonjeruk juga pernah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2021. Namun, pencapaian tersebut belum otomatis menjamin kemandirian dan keberlanjutan destinasi. Penguatan kapasitas internal tetap dibutuhkan agar perkembangan desa wisata tidak berhenti pada pencapaian awal.

Persoalan lainnya adalah rendahnya keterlibatan generasi muda dan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dalam pengelolaan desa wisata. Kondisi tersebut berpotensi membatasi inovasi, regenerasi pengelola, serta kemampuan destinasi beradaptasi dengan perkembangan pariwisata, termasuk digitalisasi promosi dan pengemasan produk wisata. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya dilibatkan sebagai penerima manfaat, tetapi perlu ditempatkan sebagai aktor utama dalam pengembangan destinasi.

Dari temuan tersebut, peneliti merumuskan model strategi yang menempatkan pengembangan sumber daya manusia lokal sebagai penggerak utama. Peningkatan pengetahuan pariwisata, keterampilan pelayanan, pemanduan, pengelolaan atraksi, pengemasan produk, hingga kemampuan manajerial dalam perencanaan dan promosi menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Pelatihan berbasis kebutuhan, pendampingan berkelanjutan, dan pembelajaran melalui praktik juga dinilai relevan dengan karakteristik masyarakat desa wisata.

Pokdarwis juga mendapatkan posisi penting dalam model pengembangan tersebut. Kelompok ini tidak hanya dipandang sebagai pelaksana kegiatan wisata, tetapi juga sebagai penghubung antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lainnya. Penguatan organisasi, pembagian tugas yang jelas, serta peningkatan kapasitas kelembagaan diharapkan dapat membuat Pokdarwis lebih efektif dalam menggerakkan partisipasi masyarakat.

Strategi tersebut juga mendorong keterlibatan generasi muda melalui wisata kreatif dan promosi digital. Potensi alam, budaya, dan sejarah Bonjeruk perlu dikemas menjadi pengalaman wisata yang terpadu dengan melibatkan aktivitas masyarakat. Narasi mengenai sejarah lokal, budaya, produk masyarakat, serta kehidupan pedesaan dapat menjadi pembeda yang memperkuat identitas destinasi.

Menurut penelitian ini, pengembangan desa wisata yang berkelanjutan membutuhkan sinergi antara masyarakat, Pokdarwis, pemerintah, perguruan tinggi, industri pariwisata, dan lembaga pelatihan. Kolaborasi tersebut dapat mendukung peningkatan kapasitas, inovasi produk, dan profesionalisme pengelolaan destinasi. Dengan demikian, pembangunan pariwisata tidak hanya menghasilkan tempat wisata yang menarik, tetapi juga menciptakan masyarakat lokal yang memiliki kemampuan untuk mengelolanya dalam jangka panjang.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daya tarik destinasi. Infrastruktur dan promosi dapat menarik perhatian wisatawan, tetapi keberlanjutan pengalaman wisata sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan, mengelola atraksi, menjaga lingkungan, serta mempertahankan nilai budaya lokal. Penelitian menyimpulkan bahwa pengembangan sumber daya manusia, penguatan Pokdarwis, partisipasi masyarakat, integrasi potensi wisata, serta dukungan kebijakan dan kemitraan perlu berjalan secara terpadu.

Bagi Desa Wisata Bonjeruk, pendekatan tersebut membuka peluang untuk membangun model pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga pada manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat. Dengan masyarakat sebagai pelaku utama, potensi alam dan sejarah Bonjeruk dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang lebih berdaya saing sekaligus tetap mempertahankan karakter lokalnya.

Penulis

Isdar Wahim
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Galang Aditia Insani Pratama
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Inola Asha Virgenia Lalu Galih Artha Jaya
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Muhammad Sulthan Nurrahman
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Nuri Hidayani
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Qarina Rizkiya Gafur
Politeknik Pariwisata, Lombok, Indonesia

Sumber: “Improving Human Resources as a Strategy to Strengthen Community-Based Tourism Business in Bonjeruk Tourism Village”, Indonesian Journal of Tourism and Hospitality Management (WAKATOBI), Vol. 5 No. 1, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/wakatobi.v5i1.4

Jurnal: https://journalwakatobi.my.id/index.php/wakatobi

Posting Komentar

0 Komentar