Pengaruh Likuiditas dan Solvabilitas terhadap Nilai Perusahaan yang Dimediasi oleh Profitabilitas (Studi pada Sektor Bahan Baku yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

Gambar Ilustrasi AI

Profitabilitas Kunci Utama Nilai Perusahaan Sektor Bahan Baku di Bursa Efek Indonesia

Kinerja keuangan pada sektor bahan baku di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik perhatian pasar modal. Sebuah penelitian akademis yang dipublikasikan pada tahun 2026 oleh Destavia Pristi Andayana dan Iwan Firdaus dari Universitas Mercu Buana, Jakarta, mengungkapkan bahwa likuiditas dan solvabilitas tidak berdampak langsung terhadap nilai perusahaan sektor bahan baku yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebaliknya, profitabilitas terbukti menjadi variabel penentu utama yang mampu mendongkrak nilai perusahaan sekaligus memediasi dampak dari likuiditas dan utang perusahaan. Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi para investor dan manajemen industri manufaktur dasar dalam mengambil keputusan strategis.

Sektor bahan baku—yang mencakup industri kimia dasar, besi dan baja, logam, mineral, hingga kertas—memegang peranan vital dalam perekonomian nasional. Sektor ini mendukung pembangunan infrastruktur, ekspor komoditas, dan industri manufaktur yang menyumbang sekitar 18,67% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Meskipun demikian, perkembangan nilai perusahaan yang diukur melalui rasio Price to Book Value (PBV) pada sektor ini cenderung mengalami fluktuasi dan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memicu pertanyaan di kalangan akademisi dan praktisi mengenai faktor fundamental apa yang paling memengaruhi penilaian investor di pasar modal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Mercu Buana mengumpulkan data sekunder dari Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia di kampus mereka selama periode Maret 2025 hingga Juni 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas pada 7 perusahaan sampel sektor bahan baku yang memenuhi kriteria purposive sampling selama periode pengamatan 2019–2024. Analisis data dilakukan dengan regresi data panel dan pengujian mediasi menggunakan metode Uji Sobel melalui perangkat lunak EViews 14.

Berdasarkan pengolahan data statistik tersebut, penelitian menghasilkan beberapa temuan utama yang krusial:

  • Profitabilitas sebagai Pendorong Utama: Profitabilitas (Return on Assets/ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Semakin tinggi kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dikelola, semakin tinggi pula kepercayaan investor yang tercermin dari kenaikan nilai pasar perusahaan.
  • Tidak Ada Pengaruh Langsung Likuiditas dan Solvabilitas: Tingkat likuiditas (Current Ratio/CR) maupun solvabilitas (Debt to Equity Ratio/DER) tidak berpengaruh secara langsung terhadap nilai perusahaan. Investor tidak serta-merta menilai perusahaan lebih tinggi hanya karena memiliki kas melimpah atau utang yang rendah.
  • Dampak Negatif Aset Lancar Berlebih: Likuiditas berlebih (Current Ratio) justru berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini mengindikasikan bahwa penumpukan aset lancar atau kas yang tidak diputar secara produktif dapat mengendap dan menurunkan efisiensi pengerukan laba.
  • Beban Utang Menekan Laba: Solvabilitas (Debt to Equity Ratio) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas. Ketergantungan pada pendanaan eksternal berupa utang menambah beban bunga, yang pada akhirnya menekan perolehan laba bersih perusahaan.
  • Peran Mediasi Profitabilitas: Baik likuiditas maupun solvabilitas secara tidak langsung berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan melalui profitabilitas sebagai variabel mediasi. Artinya, pengelolaan kas dan utang yang tidak efisien akan merusak kemampuan perusahaan mencetak laba terlebih dahulu, yang kemudian menurunkan penilaian investor di pasar saham.

Implikasi dari temuan ini memberikan panduan praktis yang sangat bernilai bagi dunia usaha dan investor. Bagi manajemen perusahaan sektor bahan baku, penelitian ini menegaskan pentingnya efisiensi alokasi aset. Menahan kas terlalu banyak atau menanggung utang berlebihan tanpa peningkatan produktivitas yang sepadan hanya akan menggerus profitabilitas. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk menjaga tingkat likuiditas pada batas optimal dan mengontrol beban utang agar operasional tetap efisien.

Bagi para investor di Bursa Efek Indonesia, hasil studi ini menunjukkan bahwa profitabilitas (Return on Assets) harus menjadi indikator utama dalam mengevaluasi emiten bahan baku. Memilih perusahaan dengan rasio utang rendah atau kas melimpah saja tidak cukup jika perusahaan tersebut gagal mengonversi asetnya menjadi keuntungan yang nyata.

Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya efisiensi operasional bagi keberlanjutan industri:

"Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki menjadi sinyal positif utama bagi investor. Pengelolaan aset lancar dan struktur utang yang efisien sangat diperlukan agar tidak menekan profitabilitas dan menggerus nilai perusahaan di pasar modal."

Profil Penulis

  1. Destavia Pristi Andayana, S.E. – Peneliti utama dari Program Studi Magister Akuntansi, Universitas Mercu Buana, Jakarta, dengan keahlian di bidang akuntansi keuangan dan analisis pasar modal.
  2. Iwan Firdaus, S.E., M.Si. – Dosen dan peneliti di Universitas Mercu Buana, Jakarta, yang berfokus pada manajemen keuangan, struktur modal, dan tata kelola perusahaan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar