Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Penerapan Pertanian Pintar dalam Pertanian Hortikultura (Studi Sosial dan Ekonomi)

Gambar Ilustrasi AI

Kualitas SDM Menjadi Kunci Utama Keberhasilan Penerapan Smart Farming di Pertanian Hortikultura

Penerapan teknologi pertanian modern (smart farming) terbukti memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial dan ekonomi para petani hortikultura. Studi terbaru yang dipublikasikan pada Juni 2026 oleh Fadly S.J. Rumondor dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon, bersama Agus Supandi Soegoto, Joubert B. Maramis, dan Hendra N. Tawas dari Universitas Sam Ratulangi Manado, mengungkapkan bahwa kompetensi sumber daya manusia (SDM) memegang peranan vital dalam mendorong adopsi teknologi pertanian pintar. Riset yang melibatkan 100 petani hortikultura di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, ini menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya dan pendapatan petani, tetapi juga mempercepat perubahan sosial seperti peningkatan literasi digital dan kolaborasi antarpetani.

Transformasi sektor pertanian menuju era digital menjadi tuntutan penting untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan fluktuasi harga. Penggunaan teknologi pintar seperti sensor tanah, irigasi otomatis, drone, dan aplikasi berbasis Internet of Things (IoT) menawarkan efisiensi input serta produktivitas tinggi. Namun, adopsi teknologi ini sering kali terhambat oleh keterbatasan pengetahuan dan keterampilan digital para petani. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengukur sejauh mana kapasitas SDM mempengaruhi keberhasilan adopsi smart farming dan bagaimana teknologi tersebut menerjemahkan kapasitas diri menjadi hasil ekonomi serta sosial yang nyata.

Penelitian eksplanatori ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei terhadap 100 petani hortikultura aktif di pusat pertanian Kota Tomohon yang memiliki pengalaman bertani minimal dua tahun. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner berskala Likert dan wawancara mendalam. Analisis data diproses menggunakan regresi berganda yang terbagi dalam tiga model uji untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel kompetensi SDM (pengetahuan, keterampilan, sikap), penerapan smart farming, serta dampak sosial dan ekonomi.

Pengujian regresi statistik menghasilkan beberapa temuan kunci mengenai dampak kompetensi SDM dan smart farming:

  • Kompetensi SDM Mendorong Adopsi Teknologi: Pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani terhadap inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat penerapan smart farming (koefisien 0,65; $R^2 = 0,58$).
  • Peningkatan Efisiensi dan Pendapatan Ekonomi: Penerapan smart farming memberikan pengaruh dominan dalam meningkatkan efisiensi biaya produksi, hasil panen, dan pendapatan petani (koefisien 0,50), melampaui pengaruh langsung dari kompetensi SDM itu sendiri (koefisien 0,30).
  • Akselerasi Transformasi Sosial: Penggunaan teknologi digital secara signifikan mendorong perubahan pola pikir petani menjadi lebih modern, meningkatkan literasi teknologi, dan memperluas jaringan kolaborasi (koefisien smart farming 0,55; koefisien SDM 0,25).
  • Peran Mediasi Smart Farming: Penerapan smart farming terbukti bertindak sebagai variabel mediasi; kompetensi SDM tidak akan menghasilkan dampak kesejahteraan yang maksimal tanpa diimplementasikan melalui teknologi pertanian modern.

Temuan ini membawa implikasi praktis dan kebijakan yang luas bagi pemangku kepentingan di sektor pertanian. Bagi pemerintah dan dinas terkait, keberhasilan modernisasi pertanian tidak bisa hanya berfokus pada pembagian bantuan alat atau infrastruktur fisik, melainkan harus diimbangi dengan program pelatihan dan penyuluhan berbasis digital untuk meningkatkan kapasitas petani. Bagi dunia usaha dan pengembang teknologi, hasil riset ini mendorong terciptanya perangkat smart farming yang lebih ramah pengguna (user-friendly). Secara sosial, digitalisasi pertanian juga berpotensi meningkatkan daya tarik sektor hortikultura bagi generasi muda agar bersedia terjun ke bisnis pertanian modern.

Mengulas mengenai peran strategis teknologi dan kapasitas petani, tim peneliti menegaskan pentingnya pendekatan yang terintegrasi antara pembangunan manusia dan ketersediaan sarana digital. "Kompetensi SDM merupakan fondasi utama yang meningkatkan kesiapan petani, sementara smart farming menjadi mekanisme utama yang menerjemahkan kesiapan tersebut menjadi hasil nyata berupa peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial," ungkap Fadly S.J. Rumondor dan tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Kristen Indonesia Tomohon.

Profil Penulis

  1. Fadly S.J. Rumondor, S.E., M.Si.: Peneliti utama dan akademisi di Universitas Kristen Indonesia Tomohon, dengan fokus keahlian pada Manajemen Sumber Daya Manusia, Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pengembangan Masyarakat Desa.
  2. Prof. Dr. Agus Supandi Soegoto, SE., M.Si.: Dosen dan Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado, pakar dalam bidang Manajemen Pemasaran, Strategi Bisnis, dan Ekonomi Pertanian.
  3. Prof. Dr. Joubert B. Maramis, SE., M.Si.: Pakar Manajemen Keuangan dan Ekonomi Kawasan, Dosen dan Peneliti Senior di Universitas Sam Ratulangi Manado.
  4. Dr. Hendra N. Tawas, SE., M.Si.: Akademisi dan Peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado, berfokus pada bidang Perilaku Organisasi dan Pengembangan Kewirausahaan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar