.
PT Malindo Feedmill Tbk Pontianak Hatchery merupakan unit usaha yang memproduksi bibit ayam umur sehari (Final Stock Day Old Chicks / FS DOC). Aktivitas operasionalnya mencakup pembiakan, penetasan, hingga distribusi bibit ayam ke para peternak. Proses ini menuntut ketelitian tinggi pada setiap tahapnya—mulai dari penetasan hingga pengangkutan—karena bibit ayam sangat rentan terhadap perubahan suhu, getaran, serta durasi perjalanan. Kegagalan pada salah satu prosedur operasional dapat berdampak langsung pada kualitas dan vitalitas ternak.
Latar belakang penelitian ini dipicu oleh tren penurunan volume produksi di unit penetasan tersebut, dari 112.641 ekor pada tahun 2022 menjadi 69.505 ekor pada tahun 2025. Di sisi lain, angka perputaran tenaga kerja (turnover) sempat melonjak hingga 7,41% pada tahun 2024. Fluktuasi ini beriringan dengan peningkatan tingkat ketidakhadiran karyawan serta dinamika pelanggaran disiplin kerja. Kondisi ini menegaskan pentingnya evaluasi manajemen sumber daya manusia di tengah ketergantungan perusahaan pada kepatuhan prosedur operasional standar (SOP).
Untuk menguji fenomena tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif. Penelitian ini melibatkan seluruh populasi staf teknis dan pelaksana sebanyak 41 pekerja di PT Malindo Feedmill Tbk Pontianak Hatchery (metode sampel jenuh), dengan mengecualikan jajaran asisten manajer dari daftar responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berskala Likert dan wawancara mendalam, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik regresi linear berganda.
Hasil analisis statistik menunjukkan beberapa temuan utama:
- Pengaruh Simultan: Kepuasan kerja dan job insecurity secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap niat berpindah kerja karyawan. Kombinasi kedua variabel ini memberikan kontribusi sebesar 55,7% terhadap variasi turnover intention, sementara 44,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian.
- Pengaruh Kepuasan Kerja: Kepuasan kerja memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap niat resign. Artinya, semakin tinggi kepuasan yang dirasakan karyawan terhadap pekerjaan, gaji, supervisi, maupun lingkungan kerja, maka semakin rendah keinginan mereka untuk meninggalkan perusahaan.
- Pengaruh Job Insecurity: Rasa tidak aman terhadap kelangsungan pekerjaan berbanding lurus secara positif dan signifikan dengan niat keluar. Karyawan yang merasa cemas akan kepastian status kerja atau prospek karier mereka di masa depan cenderung lebih aktif mempertimbangkan opsi untuk mundur.
Temuan ini memberikan implikasi praktis yang nyata bagi para pengelola industri dan pembuat kebijakan SDM. Penurunan keinginan resign tidak cukup hanya ditekan dengan penegakan disiplin atau pengawasan ketat. Perusahaan perlu menciptakan iklim kerja yang kondusif dengan memberikan kepastian status kerja, transparansi komunikasi operasional, serta pemenuhan kesejahteraan yang memadai. Langkah ini sangat vital untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok pangan, mengingat industri penetasan bibit unggas sangat mengandalkan keterampilan teknis dan konsistensi kerja para pegawainya.
Profil Penulis
Andhini, S.E. — Peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak. Memiliki keahlian di bidang manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi.
Irfan Mahdi, S.E., M.M. — Dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak. Berfokus pada kajian manajemen sumber daya manusia, kepemimpinan, dan kinerja organisasi.
Sumber Penelitian
Andhini, Irfan Mahdi. The Effect of Job Satisfaction and Job Insecurity on Employee Turnover Intention at PT. Malindo Feedmill Tbk Pontianak Hatchery. Journal of Finance and Business Digital (JFBD), Vol. 5, No. 3, Tahun 2026, Hal. 289–304
DOI: https://doi.org/10.55927/jfbd.v5i3.25
URL: https://journaljfbd.my.id/index.php/jfbd
0 Komentar