Pembangunan infrastruktur skala besar dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kota Makassar secara perlahan mengikis modal sosial, tradisi maritim, dan jaringan solidaritas masyarakat lokal Bugis-Makassar
Latar Belakang Pembangunan di Kota Makassar
Dalam kurun waktu 2020 hingga 2025, Kota Makassar mengalami percepatan pembangunan infrastruktur yang signifikan
Namun, kawasan pesisir yang kini diubah menjadi area pelabuhan dan industri sebenarnya merupakan ruang hidup bersejarah bagi nelayan tradisional serta pedagang lokal
Metodologi Penelitian
Peneliti dari Universitas Bosowa menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur sistematis dan analisis dokumen kebijakan
Dokumen utama yang diteliti mencakup Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 beserta perubahannya hingga Perpres Nomor 109 Tahun 2020, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, serta laporan evaluasi PSN dari Bappenas
Temuan Utama dan Kegagalan Struktural
Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek infrastruktur memanfaatkan daya tahan sosial warga untuk meredam dampak proyek, namun di saat bersamaan merusak ruang hidup yang menopang daya tahan tersebut
- Kegagalan Kebijakan: Tidak ada regulasi di tingkat daerah maupun pusat yang mewajibkan keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam perencanaan atau menetapkan standar ganti rugi berbasis aset sosio-kultural
. - Kegagalan Penilaian (Valuation): Sistem kompensasi proyek hanya menilai harga ekonomi tanah dan bangunan fisik, tetapi mengabaikan nilai jaringan sosial, pengetahuan ekologi, dan identitas budaya lokal
. - Kegagalan Partisipasi: Proses perencanaan berlangsung secara top-down (dari atas ke bawah)
. Konsultasi publik yang dilakukan umumnya sekadar formalitas tanpa mengubah keputusan mendasar yang telah ditetapkan . - Kegagalan Institusional: Lembaga pemerintah yang seharusnya melindungi hak-hak warga lebih banyak berperan sebagai pemudah jalan bagi masuknya investasi
. - Kegagalan Keberlanjutan: Proyek berfokus pada target penyelesaian fisik jangka pendek tanpa memiliki rencana pemulihan modal sosial atau program pemberdayaan berbasis identitas lokal setelah konstruksi selesai
.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa modal sosial seperti tradisi gotong royong dan kekerabatan terpaksa bekerja keras sebagai jaring pengaman mandiri bagi warga yang tergusur, tanpa pernah mendapat bantuan atau pembaruan dari anggaran proyek
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi
Studi ini memberikan peringatan penting bagi pembuat kebijakan, perencana kota, dan pengembang infrastruktur
Untuk mengatasi persoalan ini, para peneliti menyarankan dua langkah strategis
"Penyebab utama dari masalah ini bukanlah niat buruk dari para perencana PSN, melainkan paradigma pembangunan yang secara struktural memisahkan pembangunan ekonomi dari pembangunan sosial-budaya. Akibatnya, modal sosial masyarakat maritim Bugis-Makassar, filosofi siri' na pacce, dan jaringan solidaritas komunal dieksploitasi sebagai landasan dan peredam dampak proyek tanpa pernah diakui, diberi kompensasi, atau diperbarui."
— Nurmi Nonci, Universitas Bosowa
Profil Penulis
Nurmi Nonci adalah akademisi dan peneliti sosiologi dari Universitas Bosowa, Makassar, Indonesia
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: When Concrete Buries Roots: National Strategic Projects and the Quiet Destruction of Bugis-Makassar Social CapitalNama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 6, No. 5, Halaman 1148–1153)
DOI :
0 Komentar