Pelatihan navigasi berbasis Bridge Resource Management (BRM) terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan operasional taruna pelayaran saat menjalani praktik pelayaran di kapal
Latar belakang penelitian ini berakar pada tingginya angka kecelakaan kapal di dunia yang sebagian besar dipicu oleh kesalahan manusia (human error), seperti penurunan kesadaran situasi (situational awareness) dan lemahnya koordinasi antar-awak kapal
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan convergent parallel mixed-method yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan navigasi berbasis BRM memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap kesiapan taruna di atas kapal
Berikut adalah temuan utama penelitian pada empat dimensi kesiapan taruna:
- Pengetahuan Navigasi: Taruna menunjukkan pemahaman yang sangat baik dalam membaca peta laut, menentukan posisi kapal, serta memahami prosedur tugas jaga navigasi
. - Keterampilan Teknis: Taruna mampu mengoperasikan peralatan navigasi elektronik dengan aktif, meskipun masih memerlukan bimbingan saat menghadapi skenario pelayaran yang kompleks
. - Kesiapan Mental dan Fisik: Terjadi penurunan fokus dan keraguan dalam mengambil keputusan cepat saat taruna dihadapkan pada situasi darurat simulated
. - Sikap Profesional: Kedisiplinan komunikasi formal dan tata tertib pengisian buku catatan harian kapal (logbook) mulai terbentuk, tetapi masih membutuhkan pembinaan berkelanjutan
.
Secara kualitatif, observasi menunjukkan bahwa taruna umumnya cukup kuat pada tingkat persepsi dan pemahaman situasi
Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan bagi dunia pendidikan maritim, industri pelayaran, dan pembuat kebijakan publik
Para peneliti merekomendasikan empat langkah strategis untuk mengoptimalkan pelatihan BRM di masa depan:
- Menyusun modul terstruktur yang mengintegrasikan studi kasus kecelakaan kapal nyata dan simulasi kondisi darurat
. - Meningkatkan intensitas pendampingan serta latihan navigasi pada skenario perairan sempit dan padat
. - Memperkuat latihan manajemen krisis anjungan agar taruna terbiasa merespons risiko secara terkoordinasi
. - Membudayakan sesi pengarahan (briefing) sebelum simulasi dan evaluasi (debriefing) setelah simulasi untuk memperkuat sikap profesional
.
Profil Penulis
- Vidiana Anggeranika, S.Si.T., M.M. – Dosen dan peneliti di Politeknik Pelayaran Banten dengan kepakaran di bidang navigasi laut, keselamatan pelayaran, dan pendidikan vokasi maritim
. - Ade Taopik Hidayatuloh, M.Pd. – Dosen di Politeknik Pelayaran Banten yang berfokus pada pengembangan metodologi pembelajaran maritim dan manajemen sumber daya anjungan
. - Rabbani Ischak, M.Mar. – Pengajar dan instruktur simulator di Politeknik Pelayaran Banten dengan keahlian praktis dalam operasi kapal niaga dan standar STCW
.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Effectiveness of Bridge Resource Management-Based Watchkeeping Training in Improving Cadet Readiness on Board: A Mixed-Method Study at Banten Maritime PolytechnicJurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS), Vol. 5, No. 3, Tahun 2026, Halaman 137–152
DOI:
0 Komentar