Pelatihan Bridge Resource Management Terbukti Meningkatkan Kesiapan Taruna Pelayaran Saat Bertugas di Atas Kapal


Ilustrasi by AI 

Pelatihan navigasi berbasis Bridge Resource Management (BRM) terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan operasional taruna pelayaran saat menjalani praktik pelayaran di kapal. Temuan ini diungkapkan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Vidiana Anggeranika, Ade Taopik Hidayatuloh, dan Rabbani Ischak dari Politeknik Pelayaran Banten. Penelitian yang diterbitkan pada September 2026 ini meneliti pentingnya penguasaan keterampilan non-teknis, seperti komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan, untuk menunjang keselamatan pelayaran internasional serta mengurangi risiko kecelakaan akibat faktor manusia.

Latar belakang penelitian ini berakar pada tingginya angka kecelakaan kapal di dunia yang sebagian besar dipicu oleh kesalahan manusia (human error), seperti penurunan kesadaran situasi (situational awareness) dan lemahnya koordinasi antar-awak kapal. Standar internasional Standards of Training, Certification and Watchkeeping (STCW) telah mewajibkan penerapan BRM untuk memastikan setiap perwira dan taruna memiliki kesiapan mental, teknis, serta sikap profesional saat bertugas di anjungan kapal. Meskipun demikian, beberapa studi terdahulu di level internasional menunjukkan hasil yang bervariasi terkait efektivitas pelatihan tersebut, sehingga evaluasi kontekstual di lembaga pendidikan vokasi maritim Indonesia menjadi sangat penting.

Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan convergent parallel mixed-method yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan. Peneliti mengumpulkan data dari 67 taruna Program Studi Nautika di Politeknik Pelayaran Banten yang sedang atau telah menyelesaikan praktik pelayaran. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terstruktur dengan 20 butir pernyataan. Sementara itu, data kualitatif digali melalui observasi partisipatif pada simulasi anjungan kapal (Bridge Simulator) serta wawancara mendalam. Uji statistik menunjukkan instrumen penelitian memiliki keandalan tinggi dengan nilai Cronbach's alpha sebesar 0,866 untuk variabel pelatihan dan 0,951 untuk variabel kesiapan taruna.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan navigasi berbasis BRM memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap kesiapan taruna di atas kapal. Berdasarkan analisis regresi linier sederhana, diperoleh koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,541. Artinya, pelatihan BRM mampu menjelaskan 54,1% variasi kesiapan taruna, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor ekstrinternal seperti disiplin individu, kondisi psikologis, dan lingkungan kerja. Nilai koefisien regresi sebesar 0,949 mengindikasikan bahwa setiap peningkatan kualitas pelatihan BRM akan secara langsung meningkatkan kesiapan taruna secara substansial.

Berikut adalah temuan utama penelitian pada empat dimensi kesiapan taruna:

  • Pengetahuan Navigasi: Taruna menunjukkan pemahaman yang sangat baik dalam membaca peta laut, menentukan posisi kapal, serta memahami prosedur tugas jaga navigasi.
  • Keterampilan Teknis: Taruna mampu mengoperasikan peralatan navigasi elektronik dengan aktif, meskipun masih memerlukan bimbingan saat menghadapi skenario pelayaran yang kompleks.
  • Kesiapan Mental dan Fisik: Terjadi penurunan fokus dan keraguan dalam mengambil keputusan cepat saat taruna dihadapkan pada situasi darurat simulated.
  • Sikap Profesional: Kedisiplinan komunikasi formal dan tata tertib pengisian buku catatan harian kapal (logbook) mulai terbentuk, tetapi masih membutuhkan pembinaan berkelanjutan.

Secara kualitatif, observasi menunjukkan bahwa taruna umumnya cukup kuat pada tingkat persepsi dan pemahaman situasi. Namun, mereka cenderung mengalami hambatan pada tingkat proyeksi, yaitu kemampuan memprediksi perkembangan situasi lalu lintas kapal di masa depan saat berada dalam kondisi cuaca buruk atau kepadatan lalu lintas tinggi. Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa peningkatan kualitas pelatihan tidak cukup hanya dengan menambah durasi jam pelajaran, melainkan harus difokuskan pada penyusunan skenario simulasi yang lebih realistis dan kompleks.

Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan bagi dunia pendidikan maritim, industri pelayaran, dan pembuat kebijakan publik. Bagi akademi pelayaran, hasil studi ini menjadi landasan untuk memperbarui kurikulum simulasi anjungan agar lebih menekankan manajemen krisis dan pengambilan keputusan cepat. Bagi perusahaan pelayaran, penerapan BRM yang optimal pada taruna dapat meminimalkan risiko insiden tubrukan kapal serta meningkatkan efisiensi operasional. Dalam ranah kebijakan, temuan ini mendukung penguatan standar keselamatan pelayaran nasional yang berpatokan pada regulasi IMO (International Maritime Organization).

Para peneliti merekomendasikan empat langkah strategis untuk mengoptimalkan pelatihan BRM di masa depan:

  1. Menyusun modul terstruktur yang mengintegrasikan studi kasus kecelakaan kapal nyata dan simulasi kondisi darurat.
  2. Meningkatkan intensitas pendampingan serta latihan navigasi pada skenario perairan sempit dan padat.
  3. Memperkuat latihan manajemen krisis anjungan agar taruna terbiasa merespons risiko secara terkoordinasi.
  4. Membudayakan sesi pengarahan (briefing) sebelum simulasi dan evaluasi (debriefing) setelah simulasi untuk memperkuat sikap profesional.

Profil Penulis

  • Vidiana Anggeranika, S.Si.T., M.M. – Dosen dan peneliti di Politeknik Pelayaran Banten dengan kepakaran di bidang navigasi laut, keselamatan pelayaran, dan pendidikan vokasi maritim.
  • Ade Taopik Hidayatuloh, M.Pd. – Dosen di Politeknik Pelayaran Banten yang berfokus pada pengembangan metodologi pembelajaran maritim dan manajemen sumber daya anjungan.
  • Rabbani Ischak, M.Mar. – Pengajar dan instruktur simulator di Politeknik Pelayaran Banten dengan keahlian praktis dalam operasi kapal niaga dan standar STCW.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Effectiveness of Bridge Resource Management-Based Watchkeeping Training in Improving Cadet Readiness on Board: A Mixed-Method Study at Banten Maritime Polytechnic
Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS), Vol. 5, No. 3, Tahun 2026, Halaman 137–152
DOI: https://doi.org/10.55927/fjss.v5i3.15

Posting Komentar

0 Komentar