Sebuah program pengabdian masyarakat di SMA Negeri 3 Kota Ternate menguji integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran sejarah, mengungkapkan bahwa tingginya kesadaran siswa terhadap AI generatif tidak berbanding lurus dengan kemampuan operasinya
Pendidikan tingkat menengah saat ini menghadapi tantangan ganda: siswa kerap menganggap mata pelajaran sejarah kaku dan berbasis hafalan, sementara guru berupaya mengadopsi kemajuan teknologi ke dalam kelas
Guna mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Khairun merancang program pelatihan interaktif yang melibatkan 50 siswa kelas XII SMA Negeri 3 Kota Ternate di Kecamatan Ternate Selatan
Evaluasi penelitian menunjukkan pola yang khas dalam adopsi teknologi AI generatif di kalangan siswa sekolah menengah
- Kesenjangan Kompetensi: Pasca-pelatihan, hanya 14 persen siswa (7 orang) yang terbukti mampu mengoperasikan ChatGPT secara optimal untuk riset sejarah
. Sebanyak 46 persen (23 orang) berada di tingkat pemula yang baru mengenal atau mencoba, dan 40 persen (20 orang) sisanya bersikap acuh tak acuh atau tidak tahu sama sekali . - Dinamika Adopsi Berdasarkan Gender: Data survei pada 31 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki menunjukkan perbedaan pola interaksi
. Siswa perempuan menunjukkan kemauan mencoba yang lebih tinggi di awal (22,6 persen pada kategori "baru mencoba" banding 15,8 persen pada laki-laki), namun memiliki tingkat ketidakpedulian yang lebih tinggi terhadap pemanfaatan AI (32,3 persen banding 26,3 persen) . Sebaliknya, siswa laki-laki memiliki rasa penasaran tinggi namun lambat dalam praktik, di mana 42,1 persen masih tertahan pada tahap "baru mengenal" . - Peningkatan Motivasi Belajar: Umpan balik kualitatif mencatat bahwa integrasi AI meningkatkan semangat belajar siswa karena mengubah materi sejarah yang padat menjadi dialog interaktif, simulasi tanya jawab, dan penyusunan kerangka tulisan
. - Risiko Penggunaan Tanpa Pengawasan: Peneliti menemukan bahwa penggunaan AI tanpa arahan meningkatkan risiko plagiarisme, penyalinan jawaban tanpa pemahaman, serta ketergantungan pada output digital yang kurang akurat
.
Hasil ini mengindikasikan bahwa sekolah tidak bisa mengasumsikan siswa secara alami memahami cara memanfaatkan perangkat digital untuk kebutuhan akademik
Menegaskan temuan utama kegiatan ini, tim peneliti menyampaikan: "Integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat menjadi solusi alternatif untuk memperkuat kualitas pembelajaran sejarah di sekolah menengah, dengan catatan guru tetap memegang peran sentral dalam mengarahkan siswa agar memanfaatkan alat ini secara kritis dan etis"
Profil Penulis
Abd. Rahman, M.Pd. Peneliti dan staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun, Ternate, Indonesia
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: Socialization of Digital-Based History Learning and Chat-GPT to Students of SMAN 3 Ternate CityNama Jurnal: Indonesian Journal of Society Development (IJSD)
Tahun Publikasi: 2026
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 4, hal. 405–422
DOI:
0 Komentar