Pelatihan AI di SMA Ternate Ungkap Kesenjangan Antara Kesadaran dan Keterampilan Siswa


Ilustrasi by AI 

Sebuah program pengabdian masyarakat di SMA Negeri 3 Kota Ternate menguji integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran sejarah, mengungkapkan bahwa tingginya kesadaran siswa terhadap AI generatif tidak berbanding lurus dengan kemampuan operasinya. Dilaksanakan oleh peneliti Abd. Rahman dan Rusli Muhammad Said dari Universitas Khairun, kegiatan yang berlangsung pada Agustus 2026 ini mengevaluasi cara siswa kelas XII berinteraksi dengan aplikasi ChatGPT milik OpenAI saat menganalisis peristiwa sejarah. Meskipun seluruh siswa peserta telah mengenal AI, survei evaluasi menunjukkan hanya 14 persen yang memiliki keterampilan praktis untuk memanfaatkannya secara efektif dalam tugas akademik. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi AI di tingkat sekolah menengah memerlukan pendampingan terstruktur agar pengenalan pasif dapat berubah menjadi literasi sejarah dan pemikiran kritis yang nyata.

Pendidikan tingkat menengah saat ini menghadapi tantangan ganda: siswa kerap menganggap mata pelajaran sejarah kaku dan berbasis hafalan, sementara guru berupaya mengadopsi kemajuan teknologi ke dalam kelas. Alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT menawarkan peluang untuk menciptakan ruang belajar yang interaktif dengan menyusun ringkasan narasi kompleks, mensimulasikan debat sejarah, hingga merancang kerangka esai analitis. Namun, tanpa pelatihan formal, siswa berisiko menggunakan AI secara tidak etis atau bergantung secara pasif pada informasi yang belum terverifikasi. Menjembatani kesenjangan keterampilan digital melalui pelatihan praktis menjadi kunci utama dalam mempersiapkan siswa menghadapi lingkungan akademik dan profesional yang serba digital.

Guna mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Khairun merancang program pelatihan interaktif yang melibatkan 50 siswa kelas XII SMA Negeri 3 Kota Ternate di Kecamatan Ternate Selatan. Intervensi ini menggabungkan pemaparan teori literasi digital, demonstrasi pengoperasian perangkat lunak melalui layar LED interaktif, serta sesi praktik langsung menggunakan laptop dan ponsel pintar peserta. Guru mata pelajaran sejarah turut difungsikan sebagai fasilitator pendamping. Setelah sesi praktik selesai, peneliti mengumpulkan data empiris menggunakan kuesioner terstruktur, observasi langsung, dan instrumen survei kuantitatif untuk mengukur perubahan kemampuan serta sikap siswa terhadap AI.

Evaluasi penelitian menunjukkan pola yang khas dalam adopsi teknologi AI generatif di kalangan siswa sekolah menengah:

  • Kesenjangan Kompetensi: Pasca-pelatihan, hanya 14 persen siswa (7 orang) yang terbukti mampu mengoperasikan ChatGPT secara optimal untuk riset sejarah. Sebanyak 46 persen (23 orang) berada di tingkat pemula yang baru mengenal atau mencoba, dan 40 persen (20 orang) sisanya bersikap acuh tak acuh atau tidak tahu sama sekali.
  • Dinamika Adopsi Berdasarkan Gender: Data survei pada 31 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki menunjukkan perbedaan pola interaksi. Siswa perempuan menunjukkan kemauan mencoba yang lebih tinggi di awal (22,6 persen pada kategori "baru mencoba" banding 15,8 persen pada laki-laki), namun memiliki tingkat ketidakpedulian yang lebih tinggi terhadap pemanfaatan AI (32,3 persen banding 26,3 persen). Sebaliknya, siswa laki-laki memiliki rasa penasaran tinggi namun lambat dalam praktik, di mana 42,1 persen masih tertahan pada tahap "baru mengenal".
  • Peningkatan Motivasi Belajar: Umpan balik kualitatif mencatat bahwa integrasi AI meningkatkan semangat belajar siswa karena mengubah materi sejarah yang padat menjadi dialog interaktif, simulasi tanya jawab, dan penyusunan kerangka tulisan.
  • Risiko Penggunaan Tanpa Pengawasan: Peneliti menemukan bahwa penggunaan AI tanpa arahan meningkatkan risiko plagiarisme, penyalinan jawaban tanpa pemahaman, serta ketergantungan pada output digital yang kurang akurat.

Hasil ini mengindikasikan bahwa sekolah tidak bisa mengasumsikan siswa secara alami memahami cara memanfaatkan perangkat digital untuk kebutuhan akademik. Lembaga pendidikan dan pembuat kebijakan perlu beralih dari sekadar sosialisasi teknologi ke kurikulum praktik AI yang berkelanjutan dengan penekanan pada verifikasi informasi dan analisis kritis. Strategi pembelajaran juga perlu disesuaikan: siswa perempuan membutuhkan dorongan motivasi terkait relevansi praktis AI dalam studi, sementara siswa laki-laki memerlukan panduan laboratorium terstruktur untuk mengasah keterampilan teknis mereka.

Menegaskan temuan utama kegiatan ini, tim peneliti menyampaikan: "Integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat menjadi solusi alternatif untuk memperkuat kualitas pembelajaran sejarah di sekolah menengah, dengan catatan guru tetap memegang peran sentral dalam mengarahkan siswa agar memanfaatkan alat ini secara kritis dan etis".

Profil Penulis

Abd. Rahman, M.Pd. Peneliti dan staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun, Ternate, Indonesia. Fokus kajian ilmiahnya meliputi pendidikan sejarah berbasis digital, teknologi pembelajaran, dan inovasi kurikulum sekolah menengah. Kontak korespondensi: randy5eman@yamail.com.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: Socialization of Digital-Based History Learning and Chat-GPT to Students of SMAN 3 Ternate City
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Society Development (IJSD)
Tahun Publikasi: 2026
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 4, hal. 405–422
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i4.41

Posting Komentar

0 Komentar