Menelusuri Tipologi Fasad Arsitektur Jengki Era Pascakemerdekaan di Kota Denpasar

Ilustrasi by AI

Studi mendalam mengenai tipologi bentuk dan elemen fasad arsitektur Jengki pada tiga bangunan rumah di Denpasar dilakukan oleh Nyoman Ratih Prajnyani Salain, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi dari Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, pada Agustus 2026. Penelitian ini sangat penting karena arsitektur Jengki merupakan warisan era modern awal pascakemerdekaan yang menghubungkan jejak kolonial dengan ekspresi nasional, namun kini semakin terancam oleh tekanan pembangunan baru dan renovasi yang mengubah bentuk aslinya.

Dalam sejarah perkembangannya, diskursus arsitektur di Bali umumnya lebih banyak berfokus pada bangunan tradisional, keagamaan, maupun kolonial, sehingga arsitektur Jengki kerap terpinggirkan. Di tengah pesatnya pembangunan perkotaan Denpasar, bangunan bergaya Jengki menghadapi ancaman alih fungsi dan modifikasi fasad—seperti penambahan kanopi atau penggantian material—yang berisiko menghilangkan keaslian sejarah arsitektur lokal tersebut.

Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus terbatas pada tiga bangunan rumah tinggal di Jalan Pulau Natuna, Jalan Patih Jelantik, dan Jalan Hasanuddin. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi foto, serta deskripsi arsitektural terperinci yang kemudian dianalisis secara komparatif berdasarkan literatur karakteristik arsitektur Jengki.

Analisis terhadap ketiga bangunan tersebut mengonfirmasi sejumlah temuan utama berikut:

  • Tiga bangunan menunjukkan dominasi atap pelana curam dengan kemiringan 35 hingga lebih dari 50 derajat sebagai penanda visual utama sekaligus respons terhadap iklim tropis.

  • Bidang dinding depan tidak sepenuhnya simetris dan cenderung miring, menghindari geometri tegak lurus konvensional yang kaku.

  • Penggunaan roster geometris dan lubang angin kecil berfungsi optimal sebagai ventilasi pasif sekaligus elemen ornamen estetika fasad.

  • Teras yang menonjol berfungsi sebagai ruang transisi tropis yang mendukung aktivitas sosial.

  • Kondisi pelestarian ketiga bangunan mencakup spektrum yang beragam, mulai dari bangunan yang relatif utuh, unit yang terbengkalai, hingga bangunan yang telah mengalami renovasi modern.

Hasil penelitian ini memberikan implikasi luas bagi pelestarian pusaka arsitektur perkotaan, termasuk perlunya penyusunan panduan konservasi fasad Jengki, integrasi topik ini ke dalam kurikulum pendidikan arsitektur, serta penguatan kebijakan pelestarian kawasan. Menurut para peneliti dari Universitas Udayana, pembacaan tipologis ini mempertegas posisi arsitektur Jengki sebagai komponen penting warisan modern awal di Bali yang membutuhkan dokumentasi dan perlindungan terarah.

Profil Penulis

  • Nyoman Ratih Prajnyani Salain – Peneliti dan akademisi di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, dengan keahlian di bidang arsitektur.
  • I Nyoman Widya Paramadhyaksa – Peneliti dan akademisi di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, dengan keahlian di bidang arsitektur.
  • Tri Anggraini Prajnawrdhi – Peneliti dan akademisi di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, dengan keahlian di bidang arsitektur.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Typology of Forms and Facade Elements of Jengki Architecture in Denpasar
  • Nama Jurnal: International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), Vol. 4, No. 8
  • Tahun Publikasi: Agustus 2026
  • DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i8.46

Posting Komentar

0 Komentar