Obat Jerawat Isotretinoin Saat Hamil Berisiko Memicu Gangguan Komunikasi dan Pendengaran Anak


Ilustrasi by AI 

Paparan obat jerawat isotretinoin selama masa kehamilan berisiko mengganggu perkembangan saraf otak dan struktur telinga janin, yang memicu gangguan komunikasi jangka panjang pada anak dengan Foetal Retinoid Syndrome (FRS). Dampak biologis dan klinis ini terungkap dalam penelitian sintesis literatur yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Bengkulu, yaitu Tiara Febriati, Aribawa Ajid Bhaskara, Altaria Erthafauziah Opaladu, Mustika Ismayanti, Tri Agustina, dan Risti Dwi Ocktaviani. Diterbitkan pada Agustus 2026 di International Journal of Integrative Sciences, studi ini menegaskan pentingnya pemeriksaan pendengaran berkala serta intervensi terapi multidisiplin sejak dini untuk mengoptimalkan kemampuan bahasa anak.

Pentingnya Kesadaran Risiko Isotretinoin Bagi Kesehatan Publik

Isotretinoin merupakan senyawa turunan vitamin A yang sangat efektif untuk mengatasi jerawat parah (acne vulgaris). Meski demikian, obat ini tergolong sebagai teratogen kuat yang berbahaya jika dikonsumsi wanita hamil. Penggunaan isotretinoin pada trimester pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir bawaan hingga 20–35 persen serta memicu keguguran spontan hingga 35 persen.

Meskipun program pencegahan kehamilan sudah diterapkan di berbagai negara, kasus paparan tak disengaja pada janin masih ditemukan. Selama ini, perhatian medis lebih banyak tertuju pada kelainan fisik luar seperti bentuk wajah atau jantung. Padahal, hingga 60 persen anak yang terlihat normal saat lahir berisiko mengalami gangguan perkembangan saraf, hambatan kognitif, dan kecerdasan di kemudian hari. Perkembangan komunikasi merupakan indikator utama tumbuh kembang saraf anak, namun dampaknya akibat FRS belum banyak dibahas secara menyeluruh.

Metodologi Penelusuran Literatur Berbasis Bukti ilmiah

Para peneliti dari Universitas Bengkulu menggunakan metode kajian literatur naratif untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti ilmiah terkini.

  • Sumber Data: Pencarian data dilakukan melalui basis data ilmiah tepercaya seperti PubMed, NCBI, dan Google Scholar.
  • Kriteria Seleksi: Penelitian mencakup artikel ilmiah, kajian sistematis, hingga laporan kasus yang terbit antara tahun 2016 hingga 2026.
  • Kata Kunci Utama: Peneliti menggunakan kombinasi kata kunci termasuk "Foetal Retinoid Syndrome", "isotretinoin", "communication development", "speech and language development", dan "hearing impairment".
  • Fokus Analisis: Tim menyintesis data mengenai mekanisme kerusakan seluler, kelainan bentuk telinga, gangguan jaringan otak, hingga efektivitas terapi tumbuh kembang.

Temuan Utama: Jalur Kerusakan Komunikasi pada Anak

Hasil sintesis data menunjukkan bahwa gangguan komunikasi pada anak dengan FRS terjadi akibat kombinasi masalah biologis dan struktur tubuh:

  • Gangguan Jalur Saraf dan Gen FOXP2: Isotretinoin mengaktifkan reseptor retinoid secara berlebihan sehingga mengganggu pembentukan jaringan otak cortico-striato-thalamo-cortical yang mengatur motorik bicara. Obat ini juga mengganggu fungsi gen FOXP2, yaitu gen utama yang mengontrol kemampuan berbahasa dan bicaranya anak.
  • Cacat Struktur Telinga dan Gangguan Dengar: Penggunaan retinoid mengganggu perkembangan lengkung faring pada minggu keempat kehamilan. Akibatnya, bayi dapat lahir dengan bentuk daun telinga tidak sempurna (microtia/anotia) atau penyempitan liang telinga. Kondisi ini menyebabkan penurunan pendengaran konduktif yang menghambat proses penyerapan bahasa sejak bayi.
  • Hambatan Komunikasi Menyeluruh: Masalah yang dialami anak tidak terbatas pada keterlambatan bicara (speech delay), tetapi mencakup kesulitan memahami instruksi (bahasa reseptif), menyampaikan keinginan (bahasa ekspresif), gangguan artikulasi, hingga kesulitan berinteraksi sosial.

Implikasi Realistis dan Manfaat Bagi Pelayanan Kesehatan

Temuan penelitian ini memberikan panduan penting bagi dokter, orang tua, serta pembuat kebijakan kesehatan untuk mengubah pola penanganan anak yang terpapar isotretinoin. Evaluasi medis tidak boleh berhenti pada kondisi fisik luar bayi saat lahir, melainkan harus dilanjutkan dengan pemantauan tumbuh kembang secara berkala.

Penelitian menunjukkan bahwa intervensi dini yang dimulai sejak anak berusia 6 bulan memberikan hasil yang signifikan. Terapi bicara, terapi okupasi, pemeriksaan pendengaran serial, serta lingkungan keluarga yang aktif memberikan stimulasi bahasa menjadi faktor pelindung utama dalam membantu anak berkomunikasi.

"Syndrom Retinoid Janin meningkatkan risiko hambatan komunikasi melalui gangguan sistem saraf pusat, kelainan struktur telinga, penurunan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan secara umum," ungkap tim peneliti Universitas Bengkulu dalam laporan ilmiah mereka. "Oleh karena itu, anak dengan FRS membutuhkan pendekatan multidisiplin yang mencakup penilaian komunikasi, evaluasi pendengaran berkala, terapi dini, serta dukungan penuh dari lingkungan keluarga."

Profil Peneliti

  • Tiara Febriati, S.Ked. – Peneliti utama dari Universitas Bengkulu yang berfokus pada bidang patologi perkembangan anak dan sains kesehatan klinis.
  • Aribawa Ajid Bhaskara, S.Ked. – Peneliti dari Universitas Bengkulu dengan keahlian pada studi teratologi dan gangguan perkembangan saraf janin.
  • Altaria Erthafauziah Opaladu, S.Ked. – Peneliti medis Universitas Bengkulu yang mendalami sindrom kongenital dan kesehatan anak.
  • Mustika Ismayanti, S.Ked. – Akademisi dan peneliti dari Universitas Bengkulu di bidang kedokteran maternal-fetal dan tumbuh kembang anak.
  • Tri Agustina, S.Ked. – Peneliti bidang kesehatan dari Universitas Bengkulu yang meneliti gangguan bahasa dan patologi bicara anak.
  • Risti Dwi Ocktaviani, S.Ked. – Peneliti Universitas Bengkulu dengan fokus keahlian pada penanganan gangguan pendengaran dan intervensi dini anak.

Informasi Sumber Penelitian

Judul Artikel: Communication Difficulties in A Young Child with Foetal Retinoid Syndrome: A Review
Nama Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/ijis.v5i8.59
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar