Nanokomposit Perak-ZnO Tingkatkan Perlindungan UV dengan Nilai SPF In Vitro 16,299



Samarinda — Nanokomposit berbahan perak (Ag) dan zinc oxide (ZnO) menunjukkan potensi sebagai material pelindung ultraviolet (UV) setelah menghasilkan nilai Sun Protection Factor (SPF) in vitro sebesar 16,299. Temuan ini diperoleh Noor Hindryawati, Angela Bergita, Husna Syaima, Hajar Anuar, Teguh Wirawan, Eva Marliana, Seorja Koesnapadi, dan Irfan Ashari Hiyahara dari Universitas Mulawarman, Samarinda. Penelitian laboratorium dilakukan pada Februari hingga Mei 2024 dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Integrative Research (IJIR). Hasil tersebut penting karena menunjukkan bahwa penambahan perak dapat memperkuat respons perlindungan UV ZnO, meskipun material tersebut masih memerlukan pengujian keamanan dan pengembangan formulasi sebelum dapat diterapkan sebagai produk kosmetik.

Paparan radiasi ultraviolet matahari secara berlebihan dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, penuaan dini, kerusakan akibat oksidasi, hingga meningkatkan risiko kanker kulit. Radiasi UV-A berada pada kisaran 320–400 nanometer, sedangkan UV-B berada pada kisaran 290–320 nanometer dan berkaitan erat dengan kemerahan serta kerusakan biologis langsung pada kulit.

Salah satu bahan anorganik yang banyak diteliti untuk perlindungan UV adalah zinc oxide atau ZnO. Material ini memiliki kemampuan menyerap dan menghamburkan radiasi UV serta memiliki struktur kristal yang stabil. Namun, para peneliti melihat peluang untuk meningkatkan respons optiknya melalui penambahan material lain.

Perak atau silver menjadi salah satu kandidat menarik karena nanopartikel perak memiliki respons optik kuat dan dapat berinteraksi dengan cahaya melalui fenomena surface plasmon resonance. Kombinasi perak dan ZnO kemudian dikembangkan dalam bentuk nanokomposit Ag–ZnO.

Menggabungkan Perak dan ZnO dengan Metode Ultrasonik

Tim peneliti Universitas Mulawarman menggunakan metode sol–gel yang dibantu perlakuan ultrasonik untuk menghasilkan nanokomposit Ag–ZnO. Perlakuan ultrasonik digunakan untuk membantu proses dispersi dan mengurangi penggumpalan partikel selama sintesis.

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik dan Kimia Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman. Pengujian UV–Vis dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik Universitas Mulawarman, sedangkan analisis XRD dan SEM dilakukan di Institut Teknologi Kalimantan. Analisis ukuran partikel dilakukan di Center for Nanoscale Science and Nanotechnology, Institut Teknologi Bandung.

Peneliti membuat tiga komposisi Ag–ZnO dengan konsentrasi AgNO₃ berbeda, yaitu 0,1 mM, 0,4 mM, dan 0,9 mM. Ketiga komposisi tersebut kemudian dibandingkan berdasarkan karakteristik kristal, morfologi, ukuran partikel, kestabilan optik, dan kemampuan perlindungan UV.

Komposisi dengan konsentrasi perak 0,4 mM, yang diberi kode Ag–ZnO(B), menghasilkan kristalinitas tertinggi, yaitu 71,31 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Ag–ZnO(A) dengan 69,94 persen dan Ag–ZnO(C) dengan 67,74 persen. Karena memiliki kristalinitas tertinggi, Ag–ZnO(B) dipilih untuk karakterisasi lebih lanjut.

Struktur Kristal Perak dan ZnO Berhasil Teridentifikasi

Analisis X-ray diffraction (XRD) menunjukkan bahwa nanokomposit Ag–ZnO(B) mengandung dua fase kristal utama. ZnO memiliki struktur heksagonal wurtzite, sedangkan perak memiliki struktur kubik berpusat muka atau face-centered cubic.

Hasil XRD mencatat kristalinitas sebesar 17,99 persen untuk nanopartikel Ag, 61,32 persen untuk ZnO, dan 71,31 persen untuk Ag–ZnO(B). Temuan ini memperlihatkan keberadaan fase kristal perak dan ZnO dalam material komposit, tetapi tingkat kristalinitas saja belum cukup untuk membuktikan efektivitas kosmetik suatu bahan.

Pengamatan menggunakan scanning electron microscopy (SEM) juga menemukan adanya partikel kecil yang menempel pada struktur ZnO berukuran lebih besar. Pola tersebut mendukung interpretasi bahwa nanopartikel perak terdistribusi pada permukaan ZnO.

Namun, penelitian juga menemukan persoalan berupa aglomerasi atau penggumpalan partikel. Analisis particle size analyzer menunjukkan ukuran rata-rata 75,7 nanometer untuk Ag, 325 nanometer untuk ZnO, dan 730 nanometer untuk Ag–ZnO(B). Ukuran rata-rata yang lebih besar pada ZnO dan terutama Ag–ZnO(B) menunjukkan terbentuknya populasi partikel yang mengalami agregasi.

SPF Ag–ZnO Hampir Dua Kali Lipat dari ZnO

Temuan paling menonjol terlihat pada pengujian aktivitas SPF menggunakan spektrofotometri UV–Vis. Nanopartikel Ag menghasilkan nilai SPF 7,126, ZnO menghasilkan 8,362, sedangkan Ag–ZnO(B) mencapai 16,299.

Dengan demikian, Ag–ZnO(B) menghasilkan respons SPF sekitar 94,9 persen lebih tinggi dibandingkan ZnO tanpa penambahan perak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi Ag dan ZnO memberikan perlindungan UV in vitro yang lebih kuat dibandingkan masing-masing material secara terpisah.

Dalam kategori yang digunakan oleh penelitian, nilai tersebut disebut sebagai “ultra protection”. Sementara itu, berdasarkan klasifikasi BPOM yang dicantumkan dalam artikel, SPF 16,299 berada pada tingkat moderat. Penting dicatat bahwa istilah kategori perlindungan dalam penelitian tidak boleh langsung dianggap sebagai klaim resmi untuk produk kosmetik komersial.

Peningkatan respons perlindungan tersebut diduga berkaitan dengan kontribusi kedua material. ZnO memberikan penyerapan kuat pada wilayah UV, sementara keberadaan Ag menambahkan respons optik pada panjang gelombang sekitar 405–410 nanometer. Kombinasi karakteristik optik tersebut mendukung peningkatan interaksi material dengan radiasi cahaya.

Belum Bisa Langsung Disebut sebagai Sunscreen Komersial

Meski memberikan hasil menjanjikan, penelitian ini belum membuktikan bahwa Ag–ZnO(B) dapat langsung digunakan sebagai bahan tabir surya komersial. Pengukuran SPF dilakukan secara in vitro menggunakan dispersi dalam air, bukan menggunakan formulasi sunscreen jadi dan bukan melalui pengujian langsung pada kulit manusia.

Artikel juga menekankan bahwa pengujian UV–Vis secara in vitro merupakan metode awal untuk memperkirakan SPF. Untuk menetapkan klaim SPF pada kosmetik, pengujian in vivo menjadi standar utama dalam konteks yang dijelaskan oleh BPOM.

Karena itu, pengembangan berikutnya perlu mencakup optimasi dispersi, pengujian kestabilan terhadap penyinaran dalam waktu lebih lama, evaluasi sitotoksisitas dan efek oksidatif, serta pengujian keamanan kulit. Material juga perlu diuji dalam formulasi topikal yang lengkap sebelum potensi penggunaannya sebagai bahan kosmetik dapat dinilai lebih jauh.

Bagi pengembangan teknologi perlindungan UV, hasil ini memberikan arah bahwa rekayasa kombinasi material dapat meningkatkan kemampuan penyaringan radiasi dibandingkan penggunaan ZnO saja. Komposisi Ag 0,4 mM menjadi titik penting dalam penelitian karena menghasilkan kristalinitas tertinggi sekaligus nilai SPF paling kuat pada material komposit yang diuji.

Profil Singkat Penulis

Penelitian ini ditulis oleh Noor Hindryawati, Angela Bergita, Husna Syaima, Hajar Anuar, Teguh Wirawan, Eva Marliana, Seorja Koesnapadi, dan Irfan Ashari Hiyahara, seluruhnya berafiliasi dengan Universitas Mulawarman, Samarinda. Noor Hindryawati tercatat sebagai corresponding author dengan alamat surel hindryawati@gmail.com. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun profil bidang keahlian individual masing-masing penulis secara terperinci, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber lain.

Sumber Penelitian

Judul: Ultrasonic-Assisted Sol–Gel Synthesis of Ag–ZnO Nanocomposites for Enhanced in Vitro Sun Protection Factor
Penulis: Noor Hindryawati, Angela Bergita, Husna Syaima, Hajar Anuar, Teguh Wirawan, Eva Marliana, Seorja Koesnapadi, Irfan Ashari Hiyahara
Afiliasi: Universitas Mulawarman, Samarinda
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)
Volume/Edisi: Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 723–736
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i8.245
Website jurnal: https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijir

 

 


Posting Komentar

0 Komentar