SINGKAWANG — Motivasi kerja dan persepsi dukungan organisasi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja Kota Singkawang. Temuan tersebut berasal dari penelitian Riza Putri Amanda dan Irfan Mahdi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang diterbitkan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) tahun 2026. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan organisasi memberikan kontribusi yang relatif lebih kuat terhadap perilaku inovatif dibandingkan motivasi.
Perilaku inovatif menjadi semakin penting dalam organisasi pemerintahan karena ASN tidak hanya dituntut menjalankan pekerjaan administratif secara rutin, tetapi juga mampu menghasilkan, memperkenalkan, dan menerapkan gagasan baru untuk meningkatkan efektivitas pelayanan. Penelitian ini memandang motivasi sebagai dorongan yang mengarahkan individu untuk mencapai tujuan kerja, sedangkan dukungan organisasi berkaitan dengan sejauh mana pegawai merasa kontribusinya dihargai dan kesejahteraannya diperhatikan.
Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja Kota Singkawang merupakan perangkat daerah yang menjalankan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal dan ketenagakerjaan. Pada 2026, instansi tersebut memiliki 56 pegawai yang terdiri atas 35 ASN, delapan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan 13 tenaga honorer. Sistem kehadiran pegawai menggunakan perangkat fingerprint dengan ketentuan jam kerja yang berbeda antara Senin–Kamis dan Jumat.
Salah satu bentuk inovasi yang telah diterapkan adalah digitalisasi pelayanan publik melalui Online Single Submission (OSS) dan SICANTIK (Sistem Informasi Cerdas Pelayanan Perizinan untuk Publik). Penggunaan kedua sistem tersebut membantu mempercepat proses pelayanan, mempermudah pengelolaan data, mengurangi pekerjaan administrasi manual, serta memungkinkan pegawai memantau perkembangan pengajuan perizinan secara lebih efektif. Digitalisasi juga mendorong pegawai untuk beradaptasi dengan teknologi dan menggunakan metode kerja baru.
Namun, penerapan layanan digital masih menghadapi sejumlah tantangan. Kemampuan teknologi pegawai belum merata sehingga tidak semua ASN memiliki tingkat penguasaan OSS dan SICANTIK yang sama. Sebagian pegawai masih membutuhkan bantuan atau waktu tambahan ketika menjalankan aplikasi. Selain itu, pegawai harus memberikan penjelasan dan pendampingan langsung kepada masyarakat maupun pelaku usaha yang belum memahami prosedur perizinan secara daring. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan teknologi saja belum otomatis menghasilkan perilaku inovatif; diperlukan kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, serta dukungan fasilitas dan bimbingan organisasi.
Data kehadiran juga menunjukkan dinamika yang perlu diperhatikan. Tingkat ketidakhadiran ASN tercatat sebesar 1,48 persen pada 2022, turun menjadi 1,06 persen pada 2023, kemudian meningkat menjadi 2,34 persen pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 4,84 persen pada 2025. Sementara itu, total menit keterlambatan mencapai 136.422 menit pada 2022, meningkat menjadi 156.238 menit pada 2023, kemudian turun menjadi 105.147 menit pada 2024 dan 84.215 menit pada 2025.
Kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi ASN juga mengalami fluktuasi. Pada 2022 terdapat enam ASN yang mengikuti pendidikan dan pelatihan, meningkat menjadi delapan orang pada 2023, kemudian turun drastis menjadi dua orang pada 2024. Menurut keterangan dalam penelitian, keterbatasan kuota peserta, anggaran, serta prioritas jabatan menjadi beberapa faktor yang menyebabkan tidak semua pegawai dapat mengikuti pelatihan setiap tahun. Padahal, pendidikan dan pelatihan dapat memperkuat motivasi sekaligus memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun perilaku kerja inovatif.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Variabel independennya adalah motivasi (X1) dan perceived organizational support atau persepsi dukungan organisasi (X2), sedangkan variabel dependennya adalah perilaku inovatif (Y). Data diperoleh melalui wawancara, kuesioner, serta data sekunder dari Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja Kota Singkawang. Dari 35 ASN yang ada, kepala dinas tidak dimasukkan sebagai responden sehingga penelitian melibatkan 34 ASN dengan teknik sampling jenuh.
Instrumen penelitian dinyatakan valid dan reliabel. Seluruh item pada variabel motivasi, persepsi dukungan organisasi, dan perilaku inovatif memiliki nilai r-count di atas r-table sebesar 0,338. Sementara itu, nilai Cronbach’s Alpha masing-masing variabel adalah 0,881 untuk motivasi, 0,676 untuk persepsi dukungan organisasi, dan 0,666 untuk perilaku inovatif, yang semuanya berada di atas batas 0,60.
Hasil regresi linear berganda menghasilkan persamaan Y = 1,597 + 0,112X1 + 0,537X2. Koefisien motivasi sebesar 0,112 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit motivasi diperkirakan meningkatkan perilaku inovatif sebesar 0,112 unit. Sementara itu, koefisien persepsi dukungan organisasi sebesar 0,537 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit dukungan organisasi diperkirakan meningkatkan perilaku inovatif sebesar 0,537 unit.
Secara parsial, motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif. Nilai t-hitung sebesar 2,082 lebih besar daripada t-tabel 1,690 dengan signifikansi 0,046 < 0,05. Dengan demikian, hipotesis pertama diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ASN dengan dorongan internal dan eksternal yang lebih kuat cenderung lebih bersedia mengeksplorasi permasalahan, mengembangkan gagasan, serta menerapkan perbaikan dalam pekerjaan.
Persepsi dukungan organisasi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif, dengan nilai t-hitung 4,298 dan signifikansi 0,000. Nilai tersebut menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan motivasi. Pegawai yang merasa kontribusinya dihargai dan memperoleh sumber daya, arahan, bantuan teknis, pelatihan, serta fasilitas kerja yang memadai akan lebih percaya diri dalam mencoba prosedur dan metode kerja baru.
Ketika kedua variabel diuji secara bersama-sama, motivasi dan persepsi dukungan organisasi terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku inovatif. Nilai F-hitung sebesar 12,971 > F-tabel 3,32 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis ketiga diterima. Nilai korelasi (R) sebesar 0,675 menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua variabel independen dengan perilaku inovatif.
Nilai R² sebesar 0,456 menunjukkan bahwa motivasi dan persepsi dukungan organisasi mampu menjelaskan 45,6 persen variasi perilaku inovatif ASN, sedangkan 54,4 persen sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku inovatif merupakan fenomena yang tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi dan dukungan organisasi, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan faktor individual maupun organisasi lainnya.
Dalam konteks pelayanan digital, penelitian menegaskan bahwa motivasi dan dukungan organisasi perlu berjalan secara bersamaan. Motivasi mendorong pegawai untuk belajar, mengambil inisiatif, dan bertahan ketika menghadapi kesulitan. Di sisi lain, dukungan organisasi menyediakan kondisi yang memungkinkan inisiatif tersebut diwujudkan. Tanpa pelatihan, arahan pimpinan, bantuan teknis, dan penghargaan terhadap gagasan, motivasi pegawai belum tentu berkembang menjadi perilaku inovatif.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merekomendasikan agar Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja Kota Singkawang memperkuat dukungan organisasi melalui perlakuan yang adil, dukungan pimpinan yang konsisten, penghargaan terhadap kontribusi pegawai, serta akses yang lebih merata terhadap program pengembangan. Kriteria pemilihan peserta pendidikan dan pelatihan juga perlu dibuat secara jelas dan transparan serta disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi dan tanggung jawab pekerjaan.
Instansi juga disarankan menyediakan ruang formal bagi ASN untuk menyampaikan, mendiskusikan, dan menguji gagasan baru. Usulan pegawai perlu mendapatkan umpan balik yang konstruktif, sedangkan gagasan yang layak dapat didukung melalui mekanisme tindak lanjut yang jelas. Pada saat yang sama, motivasi dapat dipertahankan melalui target kerja yang jelas, penghargaan atas kontribusi, kesempatan pengembangan diri, dan pemberian tanggung jawab yang memungkinkan pegawai memanfaatkan kompetensinya.
Secara keseluruhan, penelitian Amanda dan Mahdi menunjukkan bahwa motivasi dan persepsi dukungan organisasi merupakan faktor penting dalam mendorong perilaku inovatif ASN di Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja Kota Singkawang. Dukungan organisasi menjadi faktor yang relatif lebih kuat, sehingga penciptaan lingkungan kerja yang menghargai kontribusi pegawai, memberikan dukungan pengembangan, serta menyediakan fasilitas dan arahan yang memadai menjadi bagian penting dalam membangun ASN yang lebih inovatif.
Profil Penulis
Riza Putri Amanda dan Irfan Mahdi — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of Motivation and Perceived Organizational Support on the Innovative Behavior of Civil Servants at the Singkawang City Investment and Labor Office
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 1991–2008.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.132
Link jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar