Motivasi dan Budaya Organisasi Dorong Kinerja Karyawan Sales di Bandung

Ilustrasi by AI

Bandung – Kinerja karyawan di sektor penjualan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target, tetapi juga dipengaruhi oleh dorongan kerja dan budaya yang terbentuk di dalam organisasi. Kondisi tersebut terlihat pada karyawan bagian sales PT Arista Mitra Lestari Cabang Soekarno Hatta, Bandung, yang menjadi objek kajian Zulfatun Ni’mah dan Khaerul Rizal Abdurahman dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Kajian yang diterbitkan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research Volume 5 Nomor 9 tahun 2026 menunjukkan bahwa motivasi kerja dan budaya organisasi memiliki hubungan positif dengan kinerja karyawan, baik secara individual maupun secara bersama-sama. Kedua faktor tersebut mampu menjelaskan 74 persen variasi kinerja karyawan dalam model yang digunakan.

Kondisi kinerja karyawan menjadi perhatian karena terdapat perubahan dalam pencapaian penilaian kerja dari tahun 2024 ke 2025. Jumlah karyawan yang memperoleh kategori “baik” dan “sangat baik” menurun dari 15 orang pada 2024 menjadi 12 orang pada 2025. Sebaliknya, jumlah karyawan dalam kategori “cukup”, “kurang”, dan “sangat kurang” meningkat dari 21 menjadi 24 orang.

Perubahan tersebut berjalan bersamaan dengan meningkatnya ketidakhadiran dan keterlambatan. Data perusahaan menunjukkan jumlah ketidakhadiran meningkat dari 205 kejadian pada 2024 menjadi 246 kejadian pada 2025. Keterlambatan juga naik dari 199 menjadi 235 kejadian dalam periode yang sama.

Selain aspek kehadiran, penerapan nilai budaya organisasi juga menunjukkan kondisi yang belum merata. Nilai “Treat Customers” dan “Servant Leadership” dinilai telah diterapkan cukup baik. Namun, penerapan “Reach for the Stars”, “Uncompromised Integrity”, serta “Team First, Individuals Second” masih belum berjalan secara optimal.

Untuk melihat keterkaitan berbagai faktor tersebut, penelitian melibatkan 35 tenaga sales dan satu orang supervisor. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, serta dokumentasi. Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS 25 dengan analisis regresi linear berganda.

Instrumen penelitian menggunakan skala 1 sampai 5 dan mengukur tiga variabel utama, yaitu motivasi kerja, budaya organisasi, dan kinerja karyawan. Pengujian instrumen menunjukkan seluruh indikator memenuhi kriteria validitas. Nilai Cronbach’s Alpha juga menunjukkan tingkat reliabilitas yang memadai, yakni 0,838 untuk motivasi kerja, 0,926 untuk budaya organisasi, dan 0,903 untuk kinerja karyawan.

Dari sisi motivasi kerja, skor rata-rata berada pada angka 3,29 atau dalam kategori sedang. Dimensi kebutuhan berprestasi memperoleh skor rata-rata 3,64, kebutuhan afiliasi 3,35, sedangkan kebutuhan akan kekuasaan memperoleh skor 2,88.

Budaya organisasi juga berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 3,34. Dimensi inovasi dan keberanian mengambil risiko serta orientasi pada hasil masing-masing memperoleh skor 3,50. Sementara itu, stabilitas menjadi dimensi dengan skor relatif lebih rendah, yaitu 3,07.

Kinerja karyawan secara keseluruhan memperoleh skor rata-rata 3,01 dan berada pada kategori cukup atau memuaskan. Dimensi pelaksanaan tugas memperoleh skor 3,07, tanggung jawab 3,03, kuantitas kerja 3,00, dan kualitas kerja 2,96.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa motivasi kerja memiliki koefisien sebesar 0,221 dengan nilai t sebesar 2,430 dan signifikansi 0,021. Dalam model penelitian, peningkatan motivasi kerja berkaitan dengan peningkatan kinerja karyawan.

Budaya organisasi menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,338, nilai t sebesar 8,925, dan signifikansi 0,000. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara budaya organisasi dan kinerja karyawan.

Ketika kedua variabel dianalisis secara bersamaan, nilai F sebesar 47,030 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa motivasi kerja dan budaya organisasi secara simultan berhubungan signifikan dengan kinerja karyawan. Nilai R² sebesar 0,740 menunjukkan bahwa 74 persen variasi kinerja karyawan dalam model dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, sedangkan 26 persen lainnya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kinerja sales tidak hanya dapat dilihat dari target atau hasil penjualan. Dorongan untuk berprestasi, hubungan dengan rekan kerja, sistem penghargaan, nilai-nilai yang diterapkan perusahaan, serta konsistensi perilaku organisasi menjadi bagian dari lingkungan yang berkaitan dengan kinerja.

Bagi perusahaan, hasil tersebut menjadi dasar untuk memperkuat pengembangan karier, memperjelas mekanisme promosi, serta mengembangkan penghargaan yang berkaitan dengan pencapaian kinerja. Evaluasi berkala juga dapat digunakan untuk memastikan nilai-nilai budaya organisasi diterapkan secara konsisten dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Kajian ini juga membuka ruang bagi penelitian berikutnya untuk memasukkan faktor lain yang dapat berkaitan dengan kinerja karyawan, menggunakan objek perusahaan atau sektor yang berbeda, serta melibatkan sampel yang lebih beragam.

Tentang Penulis

Zulfatun Ni’mah dan Khaerul Rizal Abdurahman merupakan penulis dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Sumber

“The Influence of Work Motivation and Organizational Culture on the Performance of Sales Department Employees at PT. Arista Mitra Lestari, Soekarno Hatta Branch, Bandung.” East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Volume 5 Nomor 9, 2026, halaman 3715–3730.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.306

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research

Posting Komentar

0 Komentar