![]() |
| Illustration by Ai |
Desa Bungin Permai di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, masih tergolong desa tertinggal berdasarkan hasil analisis Indeks Desa Membangun (IDM). Temuan tersebut disampaikan oleh Muhammad Arsyad, Peribadi, Bakri Yusuf, Megawati Asrul Tawulo, dan La Patuju dari Universitas Halu Oleo dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Integrative Research (IJIR). Studi ini penting karena menawarkan model pembangunan sosial berkelanjutan yang dapat membantu desa-desa tertinggal mempercepat pembangunan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Pembangunan desa menjadi salah satu agenda utama dalam upaya mengurangi
kesenjangan wilayah di Indonesia. Namun, banyak desa masih menghadapi berbagai
tantangan, mulai dari keterbatasan layanan pendidikan dan kesehatan hingga
rendahnya aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut membuat pembangunan
sering kali berjalan tidak merata dan belum mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat secara optimal.
Menurut tim peneliti dari
Universitas Halu Oleo, pembangunan desa tidak cukup hanya berfokus pada
infrastruktur. Pembangunan juga perlu memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan secara bersamaan agar hasilnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pendekatan inilah yang menjadi dasar pengembangan Model Pembangunan Sosial
Berkelanjutan yang mereka usulkan.
Untuk memahami kondisi Desa Bungin Permai secara mendalam, para peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif dengan memadukan observasi lapangan, survei
menggunakan instrumen resmi Indeks Desa Membangun, wawancara mendalam, diskusi
kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), serta dokumentasi lapangan.
Analisis kemudian dilakukan dengan menggabungkan perhitungan indeks desa,
analisis fenomenologi, dan analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Desa Bungin Permai memperoleh nilai IDM sebesar 0,520. Angka
tersebut menempatkan desa ini dalam kategori desa tertinggal. Rendahnya
nilai tersebut terutama disebabkan oleh lemahnya ketahanan sosial dan ketahanan
ekonomi masyarakat. Sementara itu, aspek ketahanan lingkungan menunjukkan
kondisi yang relatif lebih baik dibandingkan dua dimensi lainnya.
Penelitian ini mengidentifikasi
beberapa faktor utama yang menghambat kemajuan desa, antara lain:
- Keterbatasan akses dan kualitas pendidikan.
- Layanan kesehatan yang belum optimal.
- Permasalahan sanitasi dan fasilitas dasar.
- Infrastruktur yang masih terbatas.
- Lemahnya kelembagaan ekonomi masyarakat desa.
Meski menghadapi berbagai
tantangan, penelitian juga menemukan sejumlah potensi besar yang dapat menjadi
modal pembangunan. Salah satunya adalah kuatnya modal sosial masyarakat Bajo
yang tinggal di wilayah tersebut. Selain itu, sumber daya pesisir yang melimpah
dinilai memiliki nilai strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat
apabila dikelola secara berkelanjutan.
Berdasarkan temuan tersebut, tim
peneliti mengembangkan Model Pembangunan Sosial Berkelanjutan yang
mengintegrasikan tiga dimensi utama, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Model ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan ekonomi
lokal, konservasi lingkungan, serta tata kelola pemerintahan desa yang
partisipatif. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan pembangunan yang
tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjaga
keberlanjutan lingkungan dan memperkuat kohesi sosial.
Muhammad Arsyad dan
rekan-rekannya menjelaskan bahwa pembangunan desa yang berhasil harus
melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Kolaborasi antara
pemerintah desa, lembaga lokal, kelompok masyarakat, akademisi, dan pihak
eksternal menjadi faktor penting untuk memastikan program pembangunan berjalan
efektif dan sesuai kebutuhan lokal.
Penelitian ini juga memperluas
fungsi Indeks Desa Membangun. Selama ini IDM lebih sering digunakan sebagai
alat ukur status perkembangan desa. Melalui model yang dikembangkan, IDM tidak
hanya berfungsi sebagai instrumen evaluasi, tetapi juga sebagai kerangka
analisis untuk memahami hubungan antara ketahanan sosial, ketahanan ekonomi,
dan ketahanan lingkungan dalam pembangunan desa.
Dari sisi kebijakan publik, hasil
penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah maupun pemerintah
pusat dalam merancang program pembangunan desa yang lebih tepat sasaran. Dengan
memahami faktor-faktor yang menyebabkan ketertinggalan desa, intervensi
pembangunan dapat difokuskan pada sektor yang benar-benar membutuhkan
perhatian. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efektivitas penggunaan dana
pembangunan sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Bagi masyarakat, model yang
ditawarkan memberikan gambaran bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya
tentang pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang berhasil juga harus memperkuat
kualitas pendidikan, kesehatan, partisipasi masyarakat, dan pelestarian lingkungan.
Ketika ketiga aspek tersebut berkembang secara seimbang, desa memiliki peluang
lebih besar untuk keluar dari status tertinggal dan mencapai pembangunan yang
inklusif.
Secara keseluruhan, penelitian
ini menunjukkan bahwa Desa Bungin Permai memiliki tantangan pembangunan yang
nyata, tetapi juga memiliki modal sosial dan sumber daya lokal yang besar.
Dengan menerapkan Model Pembangunan Sosial Berkelanjutan yang terintegrasi,
desa-desa tertinggal dapat memiliki peta jalan yang lebih jelas untuk mencapai
kemajuan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Profil Penulis
Dr. Muhammad Arsyad
merupakan akademisi dari Universitas Halu Oleo yang memiliki fokus kajian pada
pembangunan pedesaan, pembangunan sosial, dan kebijakan pembangunan
berkelanjutan. Penelitian ini ditulis bersama Peribadi, Bakri Yusuf,
Megawati Asrul Tawulo, dan La Patuju, yang juga berasal dari
Universitas Halu Oleo dan memiliki perhatian pada isu pembangunan masyarakat,
ketahanan sosial, serta pengembangan wilayah berbasis potensi lokal.
Sumber Penelitian
Arsyad, Muhammad; Peribadi;
Yusuf, Bakri; Tawulo, Megawati Asrul; Patuju, La. “Sustainable Social
Development Model in the Analysis of the Village Index of Developing Bungin
Permai Village, Tinanggea District, South Konawe Regency, Indonesia.” International
Journal of Integrative Research (IJIR), Vol. 4, No. 8, 2026, hlm. 697–722.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i8.243.

0 Komentar