Model AR-Kolb Tingkatkan Kepercayaan Diri dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMA di Makassar

Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Makassar - Muhammad Zia-ulHaq, Arismunandar, Abd. Haris, dan Suciani Latif dari Universitas Negeri Makassar mengembangkan model pembelajaran fisika berbasis Augmented Reality (AR) yang dipadukan dengan siklus belajar pengalaman David Kolb. Model yang disebut AR-Kolb tersebut diterapkan pada 144 siswa kelas XI IPA dari empat SMA di Kota Makassar dan menunjukkan peningkatan signifikan pada efikasi diri serta hasil belajar fisika. Temuan ini penting karena menawarkan pendekatan pembelajaran yang membuat konsep fisika abstrak lebih konkret, interaktif, dan dekat dengan konteks kehidupan siswa di wilayah maritim Sulawesi Selatan.

Artikel berjudul “Development of A Deep Learning Model Based on Augmented Reality to Improve Self-Efficacy and Physics Learning Outcomes of Senior High School Students in Makassar City” diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) Vol. 5 No. 3 tahun 2026, halaman 405–410. Artikel tersebut tercatat memiliki DOI 10.55927/jiph.v5i3.28.

Fisika masih menghadapi masalah konsep abstrak

Pembelajaran fisika di tingkat SMA sering menghadapi persoalan ketika siswa harus memahami fenomena yang tidak mudah diamati secara langsung. Pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan rumus juga dapat membuat siswa kurang memahami hubungan antara konsep fisika dengan kehidupan sehari-hari.

Artikel tersebut mencatat bahwa skor literasi sains Indonesia dalam PISA 2022 berada pada angka 383, masih jauh di bawah rata-rata OECD. Di Kota Makassar, tingkat efikasi diri siswa dalam pembelajaran fisika juga berada pada kategori sedang hingga rendah, dengan rata-rata 3,15 pada skala lima poin.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan AR-Kolb. Teknologi Augmented Reality memungkinkan objek tiga dimensi dan simulasi fenomena fisika ditampilkan melalui perangkat digital sehingga siswa dapat berinteraksi dengan konsep yang sebelumnya sulit divisualisasikan.

Namun, Zia-ulHaq dan rekan-rekannya tidak hanya mengembangkan media AR. Mereka menggabungkannya dengan model pembelajaran yang mengikuti siklus pengalaman Kolb dan pendekatan deep learning untuk mendorong pemahaman konseptual yang lebih mendalam.

Menggabungkan AR, pengalaman Kolb, dan budaya maritim Makassar

Model AR-Kolb mengintegrasikan empat tahapan pembelajaran dari David Kolb, yaitu pengalaman konkret, pengamatan reflektif, konseptualisasi abstrak, dan eksperimen aktif.

Dalam praktiknya, siswa terlebih dahulu memperoleh pengalaman melalui simulasi AR. Mereka kemudian mengamati dan merefleksikan fenomena yang muncul, menghubungkannya dengan konsep serta rumus fisika, lalu mencoba menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi baru.

Keunikan lainnya terletak pada penggunaan konteks maritim lokal Makassar. Simulasi mencakup objek dan fenomena seperti kapal pinisi, gelombang laut, medan gaya, serta permainan tradisional. Dengan pendekatan tersebut, konsep fisika tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi dikaitkan dengan lingkungan dan budaya yang dikenal siswa.

Menurut temuan yang dilaporkan Muhammad Zia-ulHaq dan tim dari Universitas Negeri Makassar, pendekatan tersebut membuat pengalaman belajar lebih relevan sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk membangun keyakinan terhadap kemampuan mereka sendiri.

Diuji pada 144 siswa SMA di Makassar

Pengembangan AR-Kolb menggunakan pendekatan Research and Development dengan menggabungkan kerangka Borg dan Gall, ADDIE, serta Bergman dan Moore. Tahapannya mencakup analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan prototipe, validasi ahli, uji coba terbatas, pengujian lapangan, revisi, hingga finalisasi produk.

Sebanyak 144 siswa kelas XI IPA dari empat sekolah di Makassar terlibat dalam pengujian. Sekolah tersebut terdiri atas SMA Negeri 9, SMAS Zion, SMA Negeri 2, dan SMA Katolik Rajawali.

Sebanyak 72 siswa ditempatkan dalam kelompok eksperimen yang menggunakan model AR-Kolb, sedangkan 72 siswa lainnya berada dalam kelompok kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional.

Para peneliti mengukur efikasi diri siswa, hasil belajar fisika, kepraktisan model, serta pelaksanaan setiap tahapan pembelajaran. Instrumen efikasi diri diadaptasi dari skala Bandura dengan reliabilitas Cronbach’s alpha minimal 0,87.

Efikasi diri siswa meningkat lebih besar

Perbedaan antara kelompok AR-Kolb dan kelompok kontrol terlihat dari skor sebelum dan sesudah pembelajaran.

Pada aspek efikasi diri, kelompok eksperimen meningkat dari rata-rata 3,15 menjadi 4,28. Nilai N-Gain mencapai 0,68. Sementara kelompok kontrol hanya meningkat dari 3,12 menjadi 3,48 dengan N-Gain 0,19.

Pada hasil belajar fisika, kelompok AR-Kolb mengalami peningkatan rata-rata dari 52,4 menjadi 84,7 dengan N-Gain 0,68. Kelompok kontrol meningkat dari 51,9 menjadi 66,8 dengan N-Gain 0,31.

Analisis ANCOVA juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol pada skor setelah pembelajaran untuk kedua variabel, dengan nilai p < 0,001 setelah perbedaan skor awal diperhitungkan.

Validasi ahli memberikan skor rata-rata minimal 91 persen, yang menempatkan AR-Kolb dalam kategori sangat valid. Uji kepraktisan dari guru dan siswa juga mencapai minimal 89 persen, atau kategori sangat praktis.

Simulasi membuat siswa lebih percaya diri

Peningkatan efikasi diri menjadi salah satu temuan penting. Dalam pembelajaran fisika, keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya dapat memengaruhi motivasi, ketekunan, dan keberanian menghadapi soal yang sulit.

AR memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba simulasi secara aman dan berulang. Ketika siswa berhasil memanipulasi objek tiga dimensi atau memahami hubungan antara fenomena dan konsep fisika, pengalaman keberhasilan tersebut dapat memperkuat keyakinan bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah.

Zia-ulHaq dan tim menjelaskan bahwa pengalaman konkret melalui AR kemudian diperkuat dengan refleksi, pengembangan konsep, dan eksperimen aktif. Integrasi tersebut membuat siswa tidak sekadar menghafal formula, tetapi memahami bagaimana konsep fisika bekerja dan dapat digunakan pada situasi lain.

Berpotensi diterapkan di sekolah dengan keterbatasan infrastruktur

Model AR-Kolb juga dirancang dalam format yang dapat digunakan secara offline. Karakteristik ini dinilai penting bagi sekolah yang masih menghadapi keterbatasan akses internet atau infrastruktur digital.

Para peneliti merekomendasikan agar guru fisika SMA memanfaatkan model tersebut terutama ketika mengajarkan materi yang bersifat abstrak. Paket pembelajaran yang dikembangkan mencakup aplikasi AR offline, modul pembelajaran, lembar kerja siswa, serta panduan TPACK.

Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika dan dinas pendidikan juga dapat mempertimbangkan model tersebut untuk pengembangan pembelajaran yang lebih luas. Pemerintah daerah disarankan mendukung penyediaan perangkat sederhana dan pelatihan guru agar model dapat direplikasi di sekolah lain.

Meski demikian, penelitian ini masih terbatas pada empat SMA di Kota Makassar dan sejumlah topik fisika tertentu. Penelitian lanjutan disarankan menguji model pada wilayah Sulawesi Selatan yang lebih beragam, materi seperti fisika modern dan termodinamika, serta dampak jangka panjang terhadap retensi pengetahuan dan minat siswa terhadap karier STEM.

Profil penulis

Muhammad Zia-ulHaq merupakan penulis utama artikel dan berafiliasi dengan Universitas Negeri Makassar, Indonesia. Ia menulis artikel bersama Arismunandar, Abd. Haris, dan Suciani Latif, yang seluruhnya tercantum sebagai penulis dari Universitas Negeri Makassar. Artikel mencantumkan Arismunandar sebagai promotor, Abd. Haris sebagai co-promotor, dan Suciani Latif sebagai anggota tim promotor. Fokus artikel berada pada pengembangan pembelajaran fisika, deep learning, Augmented Reality, experiential learning, dan peningkatan efikasi diri siswa.

Sumber penelitian

Judul: Development of A Deep Learning Model Based on Augmented Reality to Improve Self-Efficacy and Physics Learning Outcomes of Senior High School Students in Makassar City
Penulis: Muhammad Zia-ulHaq, Arismunandar, Abd. Haris, Suciani Latif
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar, Indonesia
Jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)
Volume: 5, Nomor 3, 2026, halaman 405–410
DOI: 10.55927/jiph.v5i3.28

Posting Komentar

0 Komentar