Mobilisasi Dini Setelah Operasi Patah Tulang Pergelangan Kaki Mempercepat Pemulihan Jangka Pendek

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bengkulu - Mobilisasi dini tanpa gips setelah operasi patah tulang mata kaki dapat mempercepat pemulihan fungsi kaki selama tiga hingga empat bulan pertama. Temuan tersebut muncul dalam systematic review komprehensif yang ditulis Wellyan Rahmat Adilio dan Pramudya Akbar Bahari dari Faculty of Medicine, University of Bengkulu, dan diterbitkan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) pada 2026. Kajian ini penting karena menunjukkan bahwa pasien dapat memperoleh pemulihan fungsi yang lebih cepat tanpa peningkatan bermakna pada risiko kegagalan fiksasi tulang, selama mobilisasi dilakukan dengan perlindungan dan waktu yang tepat.

Kajian tersebut membandingkan dua pendekatan setelah operasi open reduction and internal fixation (ORIF) pada patah tulang maleolus lateral atau bagian bawah tulang fibula di pergelangan kaki. Pendekatan pertama menggunakan mobilisasi dini tanpa gips, biasanya dengan perangkat yang dapat dilepas seperti ankle brace, orthosis, atau walking boot. Pendekatan kedua menggunakan imobilisasi tradisional dengan gips.

Menurut Adilio dan Bahari, perdebatan mengenai rehabilitasi setelah operasi patah tulang pergelangan kaki masih berlangsung. Gips selama beberapa minggu memang membantu melindungi hasil operasi, tetapi imobilisasi berkepanjangan juga dapat menyebabkan kekakuan sendi, penurunan massa otot, keterbatasan gerak, serta berkurangnya kemandirian pasien. Sebaliknya, mobilisasi terlalu cepat tanpa perlindungan yang memadai dapat menimbulkan masalah pada penyembuhan luka.

Melibatkan lebih dari 3.600 peserta

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih kuat, Adilio dan Bahari menggabungkan bukti dari 25 laporan yang berasal dari 23 kelompok penelitian independen dengan total 3.613 peserta. Kajian dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 dan membandingkan berbagai hasil pemulihan pasien yang menjalani ORIF setelah mengalami patah tulang pergelangan kaki.

Salah satu ukuran utama yang digunakan adalah Olerud-Molander Ankle Score (OMAS), yaitu skor yang menggambarkan fungsi pergelangan kaki berdasarkan kondisi dan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Hasil kajian menunjukkan keuntungan mobilisasi dini paling terlihat pada fase awal pemulihan.

  • Pada enam hingga delapan minggu setelah operasi, skor fungsi pergelangan kaki lebih tinggi sekitar 9,42 poin pada kelompok mobilisasi dini.
  • Pada 12 minggu hingga empat bulan, keunggulannya masih terlihat sekitar 6,12 poin.
  • Setelah 12 bulan, perbedaannya turun menjadi hanya 0,71 poin dan tidak lagi bermakna secara statistik maupun klinis.

Dengan kata lain, manfaat mobilisasi dini terutama muncul pada masa awal rehabilitasi. Seiring waktu, pasien yang menggunakan gips dan pasien yang menjalani mobilisasi dini cenderung mencapai tingkat fungsi yang sama.

Analisis terhadap pola waktu juga memperkuat temuan tersebut. Efek mobilisasi dini menurun secara bertahap dan menjadi tidak dapat dibedakan dari nol sekitar satu tahun setelah operasi.

Rentang gerak dan aktivitas kembali lebih cepat

Manfaat mobilisasi dini tidak hanya terlihat dari skor fungsi pergelangan kaki. Kajian juga menemukan peningkatan rentang gerak sendi pada enam minggu pertama. Dua uji acak dengan 160 peserta menunjukkan keuntungan rata-rata sekitar 10,12 derajat dibandingkan imobilisasi dengan gips.

Pasien yang menjalani mobilisasi dini juga cenderung lebih cepat kembali bekerja. Dari tiga uji dengan 157 peserta, waktu kembali bekerja rata-rata lebih singkat sekitar 28,92 hari. Namun, penulis menekankan bahwa hasil ini perlu dibaca secara hati-hati karena perbedaan jenis pekerjaan, aturan ketenagakerjaan, dan sistem cuti dapat memengaruhi waktu seseorang kembali bekerja.

Waktu untuk kembali ke aktivitas sebelum cedera atau mencapai kemampuan menumpu berat badan secara mandiri juga lebih singkat sekitar 11,92 hari pada kelompok mobilisasi dini.

Dari sisi kualitas hidup, dua uji acak yang melibatkan 380 peserta menunjukkan keuntungan jangka pendek bagi pasien yang menjalani mobilisasi dini. Beberapa studi juga melaporkan kepuasan pasien yang lebih tinggi dan kemandirian yang lebih baik dalam menjalankan aktivitas keluarga maupun sosial.

Tidak meningkatkan kegagalan fiksasi, tetapi luka tetap perlu diperhatikan

Salah satu pertanyaan penting dalam rehabilitasi setelah operasi adalah apakah pasien yang lebih cepat bergerak memiliki risiko lebih besar mengalami kegagalan pemasangan implan atau tulang kembali bergeser.

Dalam kajian Adilio dan Bahari, lima studi dengan 546 peserta hanya mencatat tiga kejadian terkait integritas struktur hasil operasi. Analisis gabungan tidak menunjukkan peningkatan bermakna pada risiko kegagalan fiksasi, kehilangan posisi tulang, atau non-union.

Namun, terdapat perhatian khusus terhadap komplikasi luka. Analisis empat studi menunjukkan arah risiko komplikasi luka yang lebih tinggi pada mobilisasi dini, meskipun hasil gabungan dalam dataset tersebut tidak mencapai signifikansi statistik. Penulis mengaitkan risiko ini dengan gerakan pada area sayatan operasi ketika jaringan belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, kajian tidak menyarankan pasien langsung bergerak bebas tanpa perlindungan. Salah satu kesimpulan praktis yang ditekankan adalah pentingnya memberikan waktu bagi luka untuk pulih sebelum melakukan gerakan tanpa perlindungan. Kajian menyebut periode sekitar 10–14 hari sebagai waktu yang perlu dipertimbangkan sebelum mobilisasi tanpa perlindungan, sementara pembebanan dengan perlindungan seperti walking boot dapat dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan protokol klinis.

Bukan berarti semua pasien harus meninggalkan gips

Adilio dan Bahari menegaskan bahwa hasil kajian tidak berarti penggunaan gips harus dihapuskan. Mobilisasi dini lebih banyak didukung pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti patah tulang fibula tipe Weber B yang terisolasi, fiksasi yang stabil, kondisi jaringan lunak yang baik, serta tidak terdapat masalah tertentu seperti ketidakstabilan sindesmosis.

Sebaliknya, gips masih dapat memiliki peran pada pasien dengan kondisi kulit yang rentan, neuropati perifer, diabetes yang tidak terkontrol, osteoporosis berat, patah tulang terbuka, atau kondisi lain yang membuat mobilisasi dini kurang sesuai.

Temuan ini membuat rehabilitasi setelah operasi patah tulang pergelangan kaki semakin mengarah pada pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien, bukan satu protokol yang diterapkan kepada semua orang.

Implikasi bagi pemulihan pasien

Secara keseluruhan, kajian menunjukkan bahwa mobilisasi dini tanpa gips memberikan keuntungan terutama pada tiga hingga empat bulan pertama setelah operasi. Pasien dapat memperoleh fungsi pergelangan kaki yang lebih baik, rentang gerak yang lebih luas, kualitas hidup jangka pendek yang lebih baik, serta kembali bekerja dan beraktivitas lebih cepat.

Namun, manfaat tersebut tidak tampak lagi dalam jangka panjang. Setelah sekitar satu tahun, fungsi pasien dari kedua pendekatan cenderung setara. Karena itu, nilai utama mobilisasi dini bukan menciptakan perbedaan permanen, melainkan membantu pasien melewati fase awal pemulihan dengan lebih cepat dan fungsional.

Profil Penulis

Wellyan Rahmat Adilio
Afiliasi: Faculty of Medicine, University of Bengkulu.
Bidang kajian dalam artikel: ortopedi, rehabilitasi pascaoperasi patah tulang pergelangan kaki, mobilisasi dini, dan evaluasi bukti klinis.

Pramudya Akbar Bahari
Afiliasi: Faculty of Medicine, University of Bengkulu.
Bidang kajian dalam artikel: ortopedi dan rehabilitasi pascaoperasi patah tulang pergelangan kaki.

Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis di luar konteks kajian tersebut, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari klaim yang tidak didukung sumber.

Sumber Penelitian

Judul: Comprehensive Systematic Review: Comparison of Early Mobilization Without Cast versus Traditional Cast Immobilization Following Open Reduction Internal Fixation (ORIF) of Lateral Malleolus Fractures
Penulis: Wellyan Rahmat Adilio, Pramudya Akbar Bahari
Afiliasi: Faculty of Medicine, University of Bengkulu
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 1817–1834

Posting Komentar

0 Komentar