Laboratorium Fisika Alam: Perspektif Etnosains pada Permainan Simbang Batu di Rokan Hulu

Gambar Ilustrasi AI

Permainan Tradisional Simbang Batu Mengandung Prinsip Fisika Modern untuk Pembelajaran Sains Berbasis Budaya

PEKANBARU, FORMOSA NEWS — Permainan tradisional Simbang Batu dari masyarakat Melayu Rokan Hulu, Riau, terbukti secara ilmiah menyimpan konsep-konsep fisika modern seperti kesetimbangan benda tegar, titik berat, dan gaya gesek. Penelitian etnolisika ini dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari Universitas Pasir Pengaraian dan Universitas Riau yang dipimpin oleh Nurhikmah Sasna Junaidi. Dipublikasikan dalam International Journal of Contemporary Sciences pada Juni 2026, kajian ini menegaskan pentingnya melestarikan kearifan lokal sekaligus menjadikannya sebagai media pembelajaran fisika yang kontekstual dan mudah dipahami siswa.

Tim peneliti terdiri dari Nurhikmah Sasna Junaidi dari Universitas Pasir Pengaraian, serta Hasnah Faizah, Mahdum Adanan, Hermandra, dan Elmustian dari Universitas Riau. Riset ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kecenderungan siswa yang menganggap fisika sebagai pelajaran abstrak karena terlalu didominasi oleh rumus matematika. Di sisi lain, arus modernisasi dan teknologi digital membuat permainan tradisional daerah makin ditinggalkan oleh generasi muda. Mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum sains menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi sains sekaligus menjaga identitas budaya bangsa.

Urgensi Etnofisika dalam Pendidikan Modern

Pendidikan fisika formal sering kali menemui kendala karena materi yang diajarkan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari siswa. Ketika siswa tidak dapat menghubungkan teori dengan realitas di sekitarnya, tingkat pemahaman konsep dan motivasi belajar cenderung menurun.

Pendekatan etnofisika—yaitu pengkajian prinsip fisika dalam praktik budaya—menjadi jembatan antara pengetahuan empiris masyarakat dan sains modern. Masyarakat Rokan Hulu telah lama menerapkan hukum-hukum mekanika secara intuitif saat menyusun batu dalam permainan Simbang Batu tanpa perlu menggunakan istilah teknis ilmiah. Pengangkatan kearifan lokal ini ke dalam ruang kelas memberi warna baru bagi pendidikan sains yang lebih relevan dan inklusif.

Metodologi Penelitian Sederhana

Untuk menggali konsep ilmiah dalam permainan ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian berlokasi di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dengan melibatkan tokoh masyarakat, pelaku budaya, dan praktisi permainan tradisional sebagai informan kunci yang dipilih secara purposive sampling.

Data dikumpulkan melalui empat teknik utama:

  • Observasi Partisipatif: Mengamati secara langsung gerakan, interaksi, dan teknik pemain saat menyusun batu.
  • Wawancara Mendalam: Menggali sejarah, aturan permainan, dan nilai-nilai sosial dari para tokoh adat.
  • Dokumentasi: Merekam visual dan catatan lapangan mengenai struktur tumpukan batu.
  • Studi Literatur: Memetakan temuan lapangan dengan teori mekanika dan fisika dasar.
  • Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode interaktif Miles-Huberman untuk mereduksi serta menyajikan data ilmiah yang sahih.

Temuan Utama Konsep Fisika dalam Simbang Batu

Hasil analisis etnofisika menunjukkan bahwa permainan Simbang Batu melibatkan serangkaian prinsip fisika yang saling berkaitan:

  • Kesetimbangan Benda Tegar ($\sum F = 0$ dan $\sum \tau = 0$): Susunan batu dapat berdiri tegak tanpa perekat karena gaya total dan momen gaya yang bekerja pada tumpukan batu bernilai nol.
  • Pemanfaatan Pusat Massa (Titik Berat): Pemain secara intuitif menempatkan batu agar garis kerja gaya berat tetap berada di dalam bidang tumpu base susunan. Menyusun batu lebar di bagian bawah memunculkan kondisi zona aman (safe zone) yang stabil.
  • Peran Gaya Gesek ($f = \mu \cdot N$): Permukaan batu yang kasar (high roughness) menghasilkan koefisien gesek tinggi yang mengunci posisi batu agar tidak mudah menggelincir.
  • Pengaruh Gaya Gravitasi ($F = m \cdot g$): Setiap batu menyalurkan beban ke bawah, menuntut ketelitian pemain dalam membagi distribusi massa agar struktur tidak runtuh.

Implikasi dan Dampak Nyata bagi Dunia Pendidikan

Hasil kajian Universitas Pasir Pengaraian dan Universitas Riau ini memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kurikulum pendidikan dan pelestarian budaya. Guru dapat memanfaatkan Simbang Batu sebagai alat peraga murah dan mudah didapat untuk eksperimen praktikum fisika di sekolah.

Pendekatan ini terbukti membantu siswa memahami materi mekanika secara konkret, meningkatkan kualifikasi literasi sains, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah. Bagi pengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan, riset ini menjadi dasar pentingnya memadukan muatan lokal ke dalam bahan ajar sains nasional.

"Permainan Simbang Batu membuktikan bahwa masyarakat lokal telah mengaplikasikan prinsip fisika secara turun-temurun," ujar Nurhikmah Sasna Junaidi dan tim peneliti. "Mengintegrasikan permainan tradisional ini ke dalam pembelajaran fisika tidak hanya memudahkan siswa memahami konsep abstrak, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam melestarikan budaya Melayu Rokan Hulu."

Profil Penulis

  • Nama Lengkap: Nurhikmah Sasna Junaidi, S.Pd., M.Pd.
  • Afiliasi: Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, Riau
  • Bidang Keahlian: Pendidikan Fisika, Etnosains, dan Pembelajaran Berbasis Khasanah Lokal

Sumber Riset Resmi

  • Judul Artikel: Natural Physics Laboratory: Ethnoscience Perspective on the Simbang Batu Game of the Rokan Hulu
  • Penulis: Nurhikmah Sasna Junaidi, Hasnah Faizah, Mahdum Adanan, Hermandra, dan Elmustian
  • Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), Vol. 4, No. 6, 2026, hal. 1803–1820
  • DOI / Link: https://doi.org/10.55927/vjscfj79
  • URL Jurnal: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

Posting Komentar

0 Komentar