Kualitas Produk Paling Menentukan Keputusan Pembelian Converse di Jakarta

Ilustrasi by AI

JAKARTA — Kualitas produk menjadi faktor paling kuat yang mendorong konsumen membeli sepatu Converse di DKI Jakarta, mengungguli pengaruh celebrity endorsement dan storytelling marketing. Temuan ini berasal dari penelitian Dicky Andhika Putra dan Firman Fauzi dari Universitas Mercu Buana yang dilakukan pada Agustus–Desember 2025 dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS). Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga strategi pemasaran tersebut sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, tetapi kualitas produk memberikan pengaruh terbesar.

Temuan tersebut memberikan gambaran penting bagi industri alas kaki yang semakin kompetitif. Di tengah maraknya pemasaran melalui media sosial, influencer, dan konten kreatif, konsumen tetap mempertimbangkan pengalaman nyata terhadap produk. Untuk Converse, kualitas, kenyamanan, daya tahan, dan kesesuaian produk dengan kebutuhan konsumen menjadi pertimbangan yang sangat menentukan sebelum pembelian.

Persaingan Pasar Sneaker Semakin Ketat

Converse merupakan merek alas kaki yang telah lama dikenal melalui identitas klasiknya, terutama model Chuck Taylor All Star. Namun, perubahan tren fashion dan gaya hidup membuat persaingan di pasar sneaker semakin dinamis.

Penelitian Putra dan Fauzi mencatat bahwa Adidas dan Nike masih menjadi merek sneaker yang lebih disukai konsumen Indonesia, dengan tingkat preferensi masing-masing 62,4 persen dan 61,9 persen. Converse berada di posisi ketiga dengan preferensi 45,1 persen. Daya tarik Converse masih ditopang desain klasik dan keterkaitannya dengan budaya streetwear serta gaya kasual perkotaan.

DKI Jakarta menjadi lokasi yang relevan untuk melihat perubahan perilaku tersebut karena merupakan pusat ekonomi sekaligus salah satu pusat perkembangan gaya hidup modern dan industri fashion.

Peneliti juga mencatat adanya sejumlah tantangan. Konsumen muda, khususnya Generasi Z, cenderung menginginkan konten visual yang lebih segar. Strategi celebrity endorsement juga menghadapi persaingan dari merek yang menggandeng figur publik dengan jangkauan lebih luas.

Pada sisi produk, sebagian konsumen mempertanyakan kenyamanan dan ergonomi sol Converse yang dianggap lebih berat dibandingkan sneaker dengan teknologi bantalan yang lebih ringan.

Survei Awal Menunjukkan Tiga Faktor Utama

Sebelum penelitian utama dilakukan, survei awal memberikan gambaran mengenai faktor yang dianggap berpengaruh terhadap pembelian Converse.

Sebanyak 93,8 persen responden menyatakan bahwa storytelling emosional membuat mereka lebih yakin membeli Converse. Sementara itu, 90,6 persen tertarik membeli karena celebrity endorsement, dan 90,6 persen mempercayai kualitas produk Converse.

Sebanyak 84,4 persen responden juga mengatakan pengalaman positif sebelumnya mendorong mereka melakukan pembelian kembali. Sebaliknya, pengaruh diskon harga dan kualitas layanan masing-masing hanya mencapai 43,8 persen.

Data awal tersebut kemudian diuji melalui penelitian kuantitatif untuk melihat apakah storytelling marketing, celebrity endorsement, dan kualitas produk benar-benar memiliki hubungan signifikan dengan keputusan pembelian.

Penelitian Melibatkan 150 Konsumen Converse

Dicky Andhika Putra dan Firman Fauzi melakukan penelitian selama lima bulan, dari Agustus hingga Desember 2025, di lima wilayah administratif DKI Jakarta.

Penelitian melibatkan 150 konsumen Converse berusia 17–45 tahun yang berdomisili di Jakarta, pernah membeli, dan pernah menggunakan produk Converse. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Data dikumpulkan melalui kuesioner dan kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 4.0.

Secara sederhana, metode tersebut digunakan untuk melihat seberapa kuat masing-masing faktor—storytelling marketing, celebrity endorsement, dan kualitas produk—berhubungan dengan keputusan konsumen untuk membeli Converse.

Kualitas Produk Menjadi Faktor Terkuat

Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga faktor yang diuji memang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

Namun, kekuatan pengaruhnya berbeda.

  • Kualitas produk: koefisien 0,406 dengan nilai p = 0,001.
  • Celebrity endorsement: koefisien 0,341 dengan nilai p = 0,003.
  • Storytelling marketing: koefisien 0,234 dengan nilai p = 0,020.

Dengan demikian, kualitas produk menjadi prediktor paling dominan dalam model penelitian.

Ketiga variabel tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan 89,1 persen variasi keputusan pembelian konsumen dalam model penelitian. Angka ini menunjukkan bahwa storytelling marketing, celebrity endorsement, dan kualitas produk memiliki daya jelaskan yang kuat terhadap keputusan pembelian dalam kelompok konsumen yang diteliti.

Storytelling Tetap Berpengaruh

Meskipun bukan faktor terkuat, storytelling marketing tetap memiliki pengaruh positif dan signifikan.

Konsumen menilai cerita yang disampaikan Converse cukup efektif dalam membantu mereka memahami pesan yang ingin disampaikan. Namun, kemampuan cerita untuk mempertahankan rasa penasaran dan keterlibatan emosional konsumen dinilai masih dapat diperkuat.

Putra dan Fauzi dari Universitas Mercu Buana menyarankan agar strategi storytelling Converse lebih mampu membangun alur emosional dan mempertahankan perhatian audiens, terutama konsumen Generasi Z yang terbiasa dengan konten visual cepat dan dinamis.

Artinya, pemasaran tidak cukup hanya menyampaikan informasi mengenai produk. Cerita yang kuat dapat membantu konsumen membangun hubungan emosional dengan merek.

Celebrity Endorsement Membentuk Daya Tarik Merek

Penggunaan figur publik juga terbukti berpengaruh terhadap keputusan pembelian Converse.

Responden memberikan penilaian tinggi terhadap jangkauan sosial dan tingkat kesukaan terhadap influencer yang digunakan. Kehadiran figur publik yang dikenal dan disukai dapat meningkatkan daya tarik merek serta membentuk persepsi positif terhadap Converse.

Namun, terdapat catatan penting. Tingkat kepercayaan konsumen terhadap informasi produk yang disampaikan influencer relatif lebih rendah dibandingkan aspek popularitas dan daya tariknya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa popularitas figur publik belum tentu sama dengan kredibilitas informasi. Strategi endorsement akan lebih kuat apabila figur yang dipilih tidak hanya terkenal, tetapi juga dianggap dapat dipercaya dan relevan dengan produk.

Konsumen Tetap Menilai Produk yang Mereka Pakai

Temuan paling kuat dalam penelitian berkaitan dengan kualitas produk.

Responden memberikan penilaian positif terhadap kualitas, desain, dan daya tahan Converse. Konsistensi kualitas menjadi salah satu atribut yang paling kuat. Namun, kesesuaian manfaat produk dengan kebutuhan individu masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Hal ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli simbol atau citra merek. Mereka juga mempertimbangkan apakah sepatu tersebut nyaman, tahan lama, memiliki desain yang sesuai, dan memberikan manfaat yang sepadan dengan kebutuhan mereka.

Bagi merek fashion, temuan tersebut penting karena popularitas kampanye pemasaran pada akhirnya tetap berhadapan dengan pengalaman konsumen ketika produk digunakan.

Rekomendasi untuk Strategi Converse

Berdasarkan hasil penelitian, Putra dan Fauzi memberikan beberapa rekomendasi bagi Converse.

Pertama, memperbarui storytelling marketing agar lebih relevan dengan gaya hidup Generasi Z. Cerita dapat dibuat dengan alur yang lebih menarik dan memiliki daya emosional lebih kuat.

Kedua, memperluas strategi celebrity endorsement dengan mempertimbangkan figur publik yang memiliki jangkauan lebih luas sekaligus kredibilitas tinggi.

Ketiga, meningkatkan kualitas produk, terutama aspek ergonomi dan kenyamanan sol. Manfaat produk juga perlu dikomunikasikan secara lebih spesifik sesuai kebutuhan konsumen.

Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa strategi pemasaran dan pengembangan produk sebaiknya berjalan bersama. Kampanye yang menarik dapat membawa konsumen menuju produk, tetapi kualitas produk membantu menentukan apakah konsumen benar-benar yakin untuk membeli.

Implikasi bagi Industri Fashion dan Pemasaran Digital

Bagi industri fashion, penelitian ini memberikan pesan bahwa pemasaran digital tidak dapat menggantikan kualitas produk.

Storytelling dan figur publik memang dapat menarik perhatian konsumen. Namun, ketika konsumen mempertimbangkan keputusan pembelian secara lebih serius, kualitas produk menjadi faktor yang lebih dominan dalam model penelitian ini.

Bagi merek yang menyasar Generasi Z dan konsumen perkotaan, strategi yang efektif perlu menggabungkan produk berkualitas, komunikasi yang relevan, dan figur publik yang kredibel.

Meski demikian, hasil penelitian perlu dibaca dalam konteksnya. Sampel hanya mencakup 150 konsumen Converse di DKI Jakarta dan menggunakan teknik pengambilan sampel non-probabilitas. Karena itu, hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi kepada seluruh konsumen Converse di Indonesia. Penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar dan wilayah yang lebih beragam diperlukan untuk menguji temuan tersebut.

Profil Penulis

Dicky Andhika Putra — Penulis utama dan corresponding author, Universitas Mercu Buana.

Firman Fauzi, — Penulis, Universitas Mercu Buana. Artikel juga mencatat peran Firman Fauzi sebagai pembimbing dalam proses penyusunan penelitian.

Artikel sumber tidak mencantumkan bidang keahlian spesifik Dicky Andhika Putra. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap faktual.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Influence of Storytelling Marketing, Celebrity Endorsement, and Product Quality on Converse Consumer Purchase Decisions in DKI Jakarta
Penulis: Dicky Andhika Putra, Firman Fauzi
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 8
Tahun Publikasi: 2026
Halaman: 939–954
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i8.50
URL Resmi Jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar