Temuan ini menjadi relevan bagi pelaku usaha kuliner di tengah semakin banyaknya kedai kopi dan kafe di Kabupaten Kubu Raya. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan rasa atau jenis makanan dan minuman, tetapi juga menilai apakah kualitas yang diterima sepadan dengan harga yang harus dibayar.
Persaingan Kedai Kopi Semakin Ketat
Pertumbuhan kedai kopi dan kafe telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Tempat makan dan minum tidak lagi hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi ruang untuk bersosialisasi, bekerja, berkumpul, hingga mengikuti gaya hidup.
Kondisi tersebut turut terlihat di Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. Pada 2026, terdapat sedikitnya 21 usaha kedai kopi dan kafe yang tercatat beroperasi di wilayah tersebut. Warunk Evergreen menjadi salah satu usaha yang berada di kawasan Jalan Adisucipto Km 11,8.
Warunk Evergreen telah beroperasi sejak 2019 dengan menawarkan berbagai pilihan menu, mulai dari kopi, minuman non-kopi, makanan utama hingga makanan ringan. Berdasarkan data usaha 2025, harga menu berada pada kisaran Rp6.000 hingga Rp28.000, sedangkan kopi robusta filter dijual sekitar Rp8.000 per cangkir.
Namun, perkembangan usaha tidak sepenuhnya berjalan stabil. Pendapatan Warunk Evergreen tercatat turun dari sekitar Rp343,86 juta pada 2022 menjadi Rp323,97 juta pada 2023, kemudian kembali turun menjadi Rp318,62 juta pada 2024. Pada 2025, pendapatan sedikit meningkat menjadi sekitar Rp319,18 juta, tetapi masih berada di bawah pencapaian 2022.
Situasi tersebut berlangsung ketika konsumen memiliki semakin banyak pilihan usaha kuliner di kawasan yang sama.
100 Konsumen Menjadi Responden
Untuk melihat faktor yang berkaitan dengan keputusan pembelian, Wulan Putri Anggraini dan Samsuddin menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif.
Sebanyak 100 konsumen Warunk Evergreen menjadi responden. Mereka dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berusia minimal 17 tahun dan pernah melakukan pembelian atas keputusan sendiri.
Data diperoleh melalui kuesioner serta wawancara dengan pihak pengelola dan karyawan. Peneliti juga menggunakan data sekunder berupa daftar usaha kedai kopi dan kafe, menu dan harga, serta laporan pendapatan Warunk Evergreen.
Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan regresi linear berganda. Sebelum menguji hubungan antarvariabel, instrumen penelitian terlebih dahulu melalui pengujian validitas dan reliabilitas.
Hasilnya menunjukkan seluruh butir pertanyaan untuk variabel kualitas produk, harga, dan keputusan pembelian dinyatakan valid. Instrumen juga dinilai reliabel dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,778 untuk kualitas produk, 0,800 untuk harga, dan 0,815 untuk keputusan pembelian.
Kualitas Produk Menjadi Faktor Paling Kuat
Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen Warunk Evergreen.
Nilai koefisien regresinya mencapai 0,378, dengan nilai t sebesar 5,111 dan tingkat signifikansi 0,000. Karena nilai signifikansi berada di bawah 0,05, hubungan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik.
Kualitas produk dalam kajian ini tidak hanya berkaitan dengan rasa. Konsumen juga mempertimbangkan performa produk, fitur tambahan, konsistensi, kesesuaian dengan standar, serta aspek estetika seperti tampilan, aroma, warna, dan penyajian.
Bagi usaha kuliner, hasil tersebut menunjukkan bahwa menjaga kualitas menu secara konsisten menjadi bagian penting dalam mempertahankan keputusan konsumen.
Konsumen yang memperoleh produk sesuai harapan memiliki alasan lebih kuat untuk memilih produk tersebut dibandingkan alternatif lain yang tersedia.
Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Martini dan rekan-rekan (2021) serta Syaifuddin (2024), yang juga menemukan adanya pengaruh positif kualitas produk terhadap keputusan pembelian.
Harga Juga Memengaruhi Pilihan Konsumen
Selain kualitas, harga juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Hasil regresi menunjukkan koefisien harga sebesar 0,199, dengan nilai t sebesar 2,854 dan signifikansi 0,005. Artinya, penilaian konsumen terhadap harga memiliki hubungan yang signifikan dengan keputusan mereka untuk membeli.
Namun, temuan ini tidak berarti bahwa menaikkan harga otomatis membuat konsumen semakin tertarik membeli.
Dalam penelitian tersebut, harga lebih berkaitan dengan bagaimana konsumen menilai keterjangkauan, kesesuaian harga dengan kualitas, kesesuaian harga dengan manfaat, serta daya saing harga dibandingkan produk sejenis.
Dengan kata lain, konsumen mempertimbangkan apakah uang yang mereka keluarkan sebanding dengan pengalaman dan produk yang diterima.
Harga yang murah belum tentu menarik jika kualitas produk mengecewakan. Sebaliknya, produk berkualitas juga dapat kehilangan daya tarik jika konsumen merasa harga yang ditawarkan tidak sepadan.
Kualitas dan Harga Menjelaskan 41,4% Keputusan Pembelian
Ketika kualitas produk dan harga diuji secara bersama-sama, keduanya terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Uji F menghasilkan nilai 34,208, jauh lebih tinggi dibandingkan nilai F tabel sebesar 3,09. Tingkat signifikansinya mencapai 0,000, sehingga pengaruh kedua variabel secara simultan dinyatakan signifikan.
Kekuatan hubungan keduanya dengan keputusan pembelian juga tergolong kuat. Nilai koefisien korelasi atau R mencapai 0,643.
Sementara itu, nilai R-Square sebesar 0,414 menunjukkan bahwa kualitas produk dan harga secara bersama-sama menjelaskan 41,4% variasi keputusan pembelian konsumen.
Sebanyak 58,6% sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Faktor lain tersebut dapat menjadi ruang bagi penelitian berikutnya, misalnya kualitas pelayanan, promosi, lokasi, suasana tempat, variasi menu, citra merek, kepuasan pelanggan, maupun pengalaman konsumen.
Implikasi bagi Bisnis Kuliner
Temuan Wulan Putri Anggraini dan Samsuddin dari Universitas Muhammadiyah Pontianak memberikan gambaran bahwa strategi bisnis Warunk Evergreen tidak cukup hanya mengandalkan harga.
Pengelola perlu menjaga kualitas makanan dan minuman secara konsisten, termasuk rasa, aroma, tampilan, bahan, porsi, serta kesesuaian produk dengan harapan konsumen.
Pada saat yang sama, harga perlu ditempatkan dalam konteks nilai yang diterima pelanggan. Harga yang dianggap wajar akan lebih mudah diterima ketika konsumen merasa kualitas dan manfaat produk sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Strategi tersebut menjadi semakin penting karena konsumen di Sungai Raya memiliki banyak pilihan tempat makan dan minum. Persaingan tidak hanya terjadi pada jumlah menu, tetapi juga pada pengalaman konsumen ketika menentukan pilihan.
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku UMKM kuliner dalam menyusun strategi produk dan harga. Pemilik usaha dapat menggunakan evaluasi konsumen untuk mengetahui menu yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dikembangkan.
Penulis dan Fokus Keahlian
Wulan Putri Anggraini dan Samsuddin merupakan penulis dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Artikel ini berfokus pada kajian manajemen pemasaran dan perilaku konsumen, khususnya hubungan antara kualitas produk, harga, dan keputusan pembelian pada bisnis kuliner.
Gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam naskah sumber.
Sumber Penelitian
Judul artikel: The Effect of Product Quality and Price on Purchase Decisions at Warunk Evergreen Kubu Raya
Penulis: Wulan Putri Anggraini dan Samsuddin
Afiliasi: Faculty of Economics and Business, Universitas Muhammadiyah Pontianak
Tahun publikasi: 2026
Jurnal: IJMBI
ISSN-E: 3025-5589
DOI: 10.59890/ijmbi.v4i4.41
0 Komentar