Tekanan Target Membuat Kepemimpinan Semakin Penting
Industri otomotif merupakan salah satu sektor yang menghadapi persaingan tinggi. Kondisi tersebut semakin terasa bagi tenaga penjualan yang berhadapan langsung dengan target penjualan, tuntutan menjaga hubungan dengan pelanggan, serta evaluasi kinerja yang berkelanjutan.
Tangerang menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi pasar otomotif besar. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam artikel menunjukkan bahwa Tangerang memiliki populasi sekitar 3,4 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk tahunan 1,25 persen pada 2024. Kota ini juga disebut sebagai wilayah dengan jumlah kendaraan roda empat tertinggi di Provinsi Banten.
Di tengah potensi pasar tersebut, perusahaan otomotif tidak hanya membutuhkan strategi penjualan yang kuat. Pengelolaan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting karena tekanan target dapat memengaruhi pengalaman dan kepuasan karyawan dalam bekerja.
Dalam konteks tersebut, Manuel Adelio, Christy Ayu Sarah Panjaitan, dan Margareta menyoroti empowering leadership, yaitu gaya kepemimpinan yang memberikan kepercayaan, kewenangan, dukungan, otonomi, dan kesempatan kepada karyawan untuk ikut mengambil keputusan.
Gaya kepemimpinan ini berbeda dari pendekatan yang hanya menekankan pengawasan. Karyawan diberi ruang untuk menyelesaikan persoalan, menyampaikan pendapat, dan mengambil tanggung jawab sesuai dengan kemampuan mereka.
Melibatkan 119 Karyawan Penjualan Otomotif
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Bunda Mulia menggunakan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada 119 karyawan penjualan otomotif di wilayah Tangerang.
Responden dipilih berdasarkan beberapa kriteria, antara lain berusia minimal 18 tahun dan telah bekerja sekurang-kurangnya enam bulan. Setiap responden memberikan penilaian menggunakan skala 1 sampai 5.
Para peneliti mengukur tiga aspek utama, yaitu empowering leadership, organizational commitment, dan job satisfaction. Kepemimpinan yang memberdayakan dilihat dari aspek seperti berbagi informasi, pemberian tanggung jawab, dan keleluasaan dalam menyelesaikan masalah.
Sementara itu, komitmen organisasi mencakup rasa memiliki, keterikatan emosional, dan ketergantungan terhadap tempat kerja. Kepuasan kerja mencakup rasa pencapaian, kesenangan dalam bekerja, dan kepuasan secara keseluruhan.
Data kemudian dianalisis menggunakan SmartPLS 4 untuk melihat hubungan antara ketiga faktor tersebut.
Kepemimpinan Memberdayakan Berpengaruh Kuat terhadap Komitmen
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepemimpinan yang memberdayakan dengan komitmen organisasi.
Nilai pengaruh empowering leadership terhadap organizational commitment mencapai β = 0,637 dengan p = 0,000. Angka tersebut menjadi pengaruh paling kuat dalam hubungan antarvariabel yang diuji.
Temuan ini menunjukkan bahwa ketika karyawan merasa dipercaya, diberi kewenangan, dan dilibatkan dalam pekerjaan, keterikatan mereka terhadap organisasi cenderung semakin kuat.
Pengaruh positif juga ditemukan pada hubungan empowering leadership dengan kepuasan kerja. Nilainya mencapai β = 0,493 dengan p = 0,000.
Artinya, karyawan yang merasakan adanya dukungan dan kebebasan yang memadai dari atasan cenderung memiliki pengalaman kerja yang lebih positif.
Selain itu, organizational commitment juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap job satisfaction, dengan nilai β = 0,394 dan p = 0,000.
Secara keseluruhan, empowering leadership dan organizational commitment mampu menjelaskan 64,6 persen variasi kepuasan kerja. Sementara itu, empowering leadership menjelaskan 40,6 persen variasi komitmen organisasi.
Komitmen Organisasi Menjadi Penghubung
Salah satu temuan penting penelitian Manuel Adelio, Christy Ayu Sarah Panjaitan, dan Margareta adalah peran komitmen organisasi sebagai mediator.
Analisis menunjukkan bahwa organizational commitment secara parsial memediasi hubungan antara empowering leadership dan job satisfaction, dengan nilai pengaruh tidak langsung sebesar β = 0,231 dan p = 0,002.
Temuan tersebut berarti kepemimpinan yang memberdayakan dapat meningkatkan kepuasan kerja melalui dua jalur. Pertama, melalui pengaruh langsung terhadap pengalaman kerja karyawan. Kedua, dengan terlebih dahulu memperkuat keterikatan karyawan terhadap organisasi.
Perspektif ini sejalan dengan teori Leader–Member Exchange (LMX), yang menekankan pentingnya kualitas hubungan antara pemimpin dan bawahan. Hubungan yang dibangun melalui kepercayaan, dukungan, dan penghargaan dapat mendorong sikap kerja yang lebih positif.
Secara etis, temuan Adelio, Panjaitan, dan Margareta dapat dipahami sebagai bukti bahwa karyawan yang merasa dipercaya dan dilibatkan dalam pekerjaan cenderung memiliki keterikatan organisasi dan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Temuan tersebut berasal dari konteks karyawan penjualan otomotif di Tangerang dan tidak secara otomatis mewakili seluruh sektor pekerjaan.
Implikasi bagi Perusahaan Otomotif
Hasil penelitian memberikan sejumlah pertimbangan bagi perusahaan otomotif dalam mengelola tenaga penjualan.
Perusahaan dapat mengembangkan kemampuan supervisor agar tidak hanya berperan sebagai pengawas target, tetapi juga sebagai pemimpin yang memberikan kepercayaan dan dukungan. Karyawan dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka dan diberi tanggung jawab sesuai kemampuan.
Coaching dan umpan balik secara rutin juga dapat digunakan untuk membantu karyawan mengembangkan kemampuan. Pada saat yang sama, perusahaan perlu memperhatikan peluang pengembangan karier, penghargaan atas kontribusi karyawan, dan komunikasi internal yang terbuka.
Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi lingkungan penjualan yang memiliki tekanan target tinggi. Kepemimpinan yang memberdayakan dapat membantu menciptakan keseimbangan antara tuntutan pencapaian kinerja dan kebutuhan karyawan untuk merasa dipercaya serta memiliki kendali atas pekerjaannya.
Profil Penulis
Manuel Adelio merupakan penulis dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bunda Mulia, dengan bidang kajian yang dalam artikel ini berfokus pada kepemimpinan, kepuasan kerja, dan perilaku organisasi.
Christy Ayu Sarah Panjaitan merupakan penulis dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bunda Mulia. Kontribusinya dalam artikel berkaitan dengan kajian kepemimpinan, komitmen organisasi, dan kepuasan kerja.
Margareta merupakan penulis sekaligus corresponding author dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bunda Mulia. Kajian dalam artikel ini berfokus pada kepemimpinan, komitmen organisasi, dan kepuasan kerja dalam konteks tenaga kerja.
Catatan: Artikel jurnal yang menjadi sumber tidak mencantumkan gelar akademik ketiga penulis, sehingga gelar tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi informasi.
Sumber Penelitian
Judul: Effect of Empowering Leadership on Job Satisfaction with Organizational Commitment as a Mediator
Penulis: Manuel Adelio, Christy Ayu Sarah Panjaitan, dan Margareta
Afiliasi: Faculty of Social Sciences and Humanities, Universitas Bunda Mulia
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS)
Volume: 4, Nomor 4
Tahun: 2026
Halaman: 489–498
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i4.28
URL Jurnal: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar