Kepemimpinan Transformasional Tingkatkan Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior di BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula

Ilustrasi by AI

KEPULAUAN SULA — Kepemimpinan transformasional terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kepulauan Sula. Pengaruh tersebut tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) sebagai variabel mediasi. Temuan ini berasal dari penelitian Fitra Nita Nur, Edi Sugiono, dan Hasanudin dari Universitas Nasional Jakarta yang diterbitkan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) tahun 2026.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi di BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula yang menunjukkan bahwa kompetensi sebagian pegawai masih relatif rendah sehingga kinerja organisasi belum optimal. Permasalahan tersebut terlihat dari aspek kualitas dan kuantitas pekerjaan, ketepatan waktu penyelesaian tugas, serta inisiatif kerja yang belum sepenuhnya memenuhi harapan. Di sisi lain, penerapan kepemimpinan transformasional dinilai belum mampu menghasilkan peningkatan kinerja secara optimal karena masih terdapat pengambilan keputusan yang terpusat serta dukungan kebijakan organisasi yang belum efektif.

Kepemimpinan transformasional dalam penelitian ini mengacu pada konsep Bass yang memiliki empat karakteristik utama, yaitu idealized influence atau charisma, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Pemimpin transformasional tidak hanya berperan sebagai pengawas administratif, tetapi juga berupaya menginspirasi pegawai, memberikan perhatian terhadap kebutuhan individu, mendorong pemikiran kritis dan kreatif, serta membangun komitmen terhadap tujuan organisasi.

Sementara itu, Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan perilaku sukarela pegawai yang berada di luar kewajiban formal pekerjaan dan tidak secara langsung berkaitan dengan sistem penghargaan formal, tetapi secara kolektif dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Penelitian ini mengukur OCB melalui lima dimensi, yaitu altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, dan civic virtue.

Dalam konteks BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula, perilaku tersebut dapat terlihat melalui kesediaan pegawai membantu rekan kerja, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tetap profesional ketika menghadapi kondisi yang kurang ideal, menjaga hubungan harmonis dengan rekan kerja, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan dan perkembangan organisasi. Kepemimpinan transformasional dinilai mampu mendorong munculnya perilaku ekstra-peran tersebut melalui perhatian, inspirasi, pemberdayaan, dan dukungan kepada pegawai.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan teknik saturated sampling. Seluruh populasi yang terdiri atas 42 pegawai BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula dijadikan responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert lima tingkat dan dianalisis menggunakan SmartPLS 4. Model penelitian menempatkan kepemimpinan transformasional sebagai variabel independen, OCB sebagai variabel mediasi, dan kinerja pegawai sebagai variabel dependen.

Profil responden menunjukkan bahwa kelompok usia terbesar berada pada rentang 31–35 tahun, sebanyak 18 orang atau 42,86 persen. Berdasarkan jenis kelamin, 23 responden atau 54,76 persen merupakan laki-laki dan 19 responden atau 45,24 persen perempuan. Dari sisi masa kerja, kelompok terbesar telah bekerja selama 6–10 tahun dan lebih, sebanyak 22 orang atau 52,38 persen. Sementara itu, mayoritas responden berpendidikan S1, yaitu 35 orang atau 83,33 persen.

Hasil pengujian model pengukuran menunjukkan bahwa seluruh indikator penelitian memenuhi kriteria validitas. Nilai cross loading indikator kepemimpinan transformasional berada pada rentang 0,740–0,886, OCB sebesar 0,774–0,877, dan indikator kinerja pegawai sebesar 0,719–0,851. Seluruhnya berada di atas batas minimum 0,70. Nilai Average Variance Extracted (AVE) juga menunjukkan hasil yang memenuhi kriteria, yaitu 0,633 untuk kepemimpinan transformasional, 0,622 untuk OCB, dan 0,660 untuk kinerja pegawai.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Koefisien jalurnya sebesar 0,523, dengan nilai t-statistic 6,789 dan p-value 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik penerapan kepemimpinan transformasional, semakin tinggi pula kinerja pegawai BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula.

Pengaruh positif juga ditemukan antara kepemimpinan transformasional dan OCB. Koefisien jalur mencapai 0,888, dengan t-statistic sebesar 30,109 dan p-value 0,000. Angka tersebut menunjukkan hubungan yang sangat kuat. Dengan demikian, kepemimpinan yang mampu memberikan inspirasi, perhatian individual, stimulasi intelektual, dan keteladanan dapat mendorong pegawai untuk menunjukkan perilaku positif di luar tugas formal mereka.

Selanjutnya, OCB terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Koefisien jalur sebesar 0,466, t-statistic 5,632, dan p-value 0,000 menunjukkan bahwa semakin kuat perilaku kewargaan organisasi pegawai, semakin baik pula kinerja yang dihasilkan. Pegawai yang bersedia membantu rekan kerja, menjaga kerja sama, bertanggung jawab, aktif dalam organisasi, serta menunjukkan inisiatif dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan efektivitas pekerjaan dan pencapaian tujuan organisasi.

Temuan paling penting penelitian ini adalah bahwa OCB berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai. Pengaruh tidak langsung kepemimpinan transformasional terhadap kinerja melalui OCB memiliki koefisien sebesar 0,414, t-statistic 5,814, dan p-value 0,000. Karena pengaruh langsung dan tidak langsung sama-sama signifikan, OCB dikategorikan sebagai partial mediator.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemimpin transformasional dapat meningkatkan kinerja pegawai melalui dua jalur. Pertama, kepemimpinan memberikan pengaruh secara langsung terhadap kemampuan dan pencapaian kerja pegawai. Kedua, kepemimpinan menciptakan kondisi yang mendorong munculnya OCB, seperti kesediaan membantu rekan kerja, kepatuhan terhadap norma kerja, sikap kooperatif, dan keterlibatan aktif dalam organisasi. Perilaku tersebut selanjutnya berkontribusi terhadap peningkatan kinerja pegawai.

Dari perspektif praktis, penelitian merekomendasikan agar pimpinan BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula memperkuat gaya kepemimpinan transformasional dengan tidak hanya berfokus pada fungsi administratif. Pemimpin perlu menjadi agen perubahan yang mampu membangun hubungan interpersonal yang baik dengan bawahan, memberikan umpan balik konstruktif, memperhatikan perkembangan pegawai, serta menyediakan ruang bagi pegawai untuk mengembangkan ide dan potensinya.

Penelitian juga menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang mendukung OCB. Pemimpin dapat mendorong perilaku sukarela dan ekstra-peran melalui keteladanan, motivasi, perhatian individual, pemberdayaan, serta penciptaan lingkungan kerja yang membuat pegawai merasa dihargai dan dipercaya. Dengan demikian, OCB tidak hanya menjadi perilaku individual, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya organisasi yang mendukung pencapaian tujuan secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai maupun OCB, sementara OCB juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. OCB terbukti menjadi mediator parsial dalam hubungan antara kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai. Oleh karena itu, peningkatan kinerja di BKPSDM Kabupaten Kepulauan Sula dapat dilakukan melalui penguatan kepemimpinan transformasional sekaligus membangun budaya OCB di lingkungan kerja.

Peneliti juga mengingatkan bahwa penelitian ini terbatas pada satu instansi dengan jumlah sampel yang relatif terbatas. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan wilayah dan institusi serta mempertimbangkan variabel lain, seperti komitmen organisasi dan kepuasan kerja, untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pegawai.

Profil Penulis

Fitra Nita Nur, Edi Sugiono, dan Hasanudin — Universitas Nasional Jakarta, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Transformational Leadership on Employee Performance is Mediated by Organizational Citizenship Behavior at the Personnel and Human Resources Development Agency (BKPSDM) of Sula Islands Regency

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 8, 2026, hlm. 3589–3604.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.276

Link jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar