Temuan ini penting karena Danau Burung merupakan danau banjiran yang dimanfaatkan masyarakat Petuk Katimpun sebagai salah satu lokasi penangkapan ikan. Sebelum penelitian tersebut dilakukan, informasi mengenai jenis dan sebaran ikan di Danau Burung masih terbatas. Data mengenai kondisi ikan dan kualitas air dapat menjadi informasi awal untuk mendukung pengelolaan sumber daya perikanan dan konservasi ekosistem danau.
Danau Burung Menjadi Habitat Beragam Jenis Ikan
Penelitian mencatat 12 spesies ikan yang berasal dari delapan famili. Ikan yang ditemukan antara lain Cyclocheilichthys heteronema atau puhing, Osteochilus melanopleura atau kalabau, Systomus rubripinnis atau brakas, Pristolepis grootii atau patung, Belontia hasselti atau kakapar, Trichopodus leerii, Mystus bocourti, Bagroides melapterus atau bapuntin, Oxyeleotris marmorata atau betutu, Pangasius conchophilus atau lawang, Macrognathus circumcinctus atau jajili, serta Clarias alluaudi atau pentet. Secara keseluruhan, peneliti memperoleh 24 individu ikan.
Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Belontia hasselti dengan lima individu atau sekitar 20,83 persen dari total tangkapan. Berikutnya adalah Cyclocheilichthys heteronema sebanyak empat individu atau 16,67 persen. Pristolepis grootii dan Bagroides melapterus masing-masing tercatat tiga individu atau 12,50 persen.
Peneliti menduga rendahnya jumlah ikan yang tertangkap berkaitan dengan kondisi lingkungan, kedalaman danau, perubahan ketinggian air, serta musim. Sebagai danau banjiran, Danau Burung mengalami perubahan kondisi ketika musim hujan. Naiknya permukaan air dapat membuat ikan bergerak menuju kawasan rawa atau area yang tergenang di sekitar danau untuk mencari makanan dan tempat berkembang biak.
Kondisi tersebut juga dapat menjelaskan perbedaan hasil tangkapan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang dikutip dalam jurnal mencatat 14 jenis ikan yang ditangkap nelayan pada 2018, tetapi hanya tujuh jenis yang sama dengan hasil penelitian terbaru. Perbedaan alat tangkap dan musim pengambilan sampel disebut sebagai faktor yang mungkin memengaruhi hasil tersebut.
Keanekaragaman Sedang dan Tidak Ada Spesies yang Mendominasi
Analisis menggunakan indeks Shannon-Wiener menunjukkan keanekaragaman ikan Danau Burung berada pada kategori sedang, dengan nilai indeks antara 1 dan 3. Sementara itu, indeks dominasi Simpson berada pada kisaran 0,0002 hingga 0,0280, jauh di bawah nilai 1 yang digunakan sebagai indikator dominasi tinggi.
Artinya, meskipun jumlah individu setiap spesies berbeda, tidak ada satu jenis ikan yang secara kuat mendominasi komunitas ikan di Danau Burung. Kondisi ini menunjukkan keberadaan komunitas ikan yang relatif beragam berdasarkan hasil pengambilan sampel penelitian.
Penelitian juga menemukan bahwa famili Cyprinidae merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan. Peneliti mengaitkan keberadaan kelompok tersebut dengan kemampuan anggotanya beradaptasi terhadap perubahan kualitas air dan ketersediaan makanan. Sementara itu, jumlah spesies dari famili lainnya relatif lebih sedikit dan dapat dipengaruhi oleh preferensi habitat, pola makan, serta pergerakan ikan.
Kualitas Air Menunjukkan Beberapa Masalah
Selain mengidentifikasi ikan, peneliti mengukur sejumlah parameter fisik dan kimia air di lima stasiun pengamatan. Suhu air berada pada kisaran 27,6–28,2 derajat Celsius, kedalaman 2,03–2,70 meter, dan total padatan tersuspensi atau TSS mencapai 35,67–79,1 mg/L.
Data Awal untuk Pengelolaan Danau
Menurut Ardani, Elvince, Singarimbun, dan Simamora, hasil penelitian menyediakan informasi dasar mengenai komposisi spesies, kelimpahan, keanekaragaman, dominasi ikan, serta kondisi fisik dan kimia perairan Danau Burung. Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami kondisi sumber daya ikan di kawasan yang juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan perikanan.
Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan. Jumlah ikan yang berhasil dikumpulkan relatif sedikit dan periode pengamatan terbatas sehingga belum sepenuhnya menggambarkan perubahan komunitas ikan sepanjang musim. Penelitian berikutnya disarankan membandingkan kondisi pada musim hujan dan musim kemarau untuk melihat pola perpindahan ikan serta hubungan antara perubahan tinggi air dan penggunaan habitat.
Profil Penulis
Budhi Ardani — Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya.
Rosana Elvince — Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya. Rosana Elvince tercatat sebagai corresponding author penelitian.
Enjelika Br Singarimbun — Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya.
Rena Arinia Simamora — Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya.
Jurnal tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis secara individual, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan dalam profil.
0 Komentar