![]() |
| Illustration by AI |
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur memerlukan pemahaman yang kuat terhadap kondisi geologi dan potensi bahaya gempa agar pembangunan infrastruktur dapat berlangsung aman dan berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan oleh Wira Hadi Kusuma dan Harmita Lestari dari Universitas Negeri Makassar pada tahun 2026 mengungkap karakteristik seismik kawasan Sepaku, salah satu wilayah utama pengembangan IKN. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya empat zona yang memerlukan perhatian khusus karena berpotensi mengalami deformasi tanah akibat aktivitas seismik.
Temuan tersebut menjadi penting
karena IKN dirancang sebagai kota masa depan yang mengusung konsep “kota di
dalam hutan”. Untuk mewujudkan konsep tersebut, pembangunan tidak hanya harus
memperhatikan aspek lingkungan, tetapi juga kondisi bawah permukaan tanah yang
dapat memengaruhi ketahanan bangunan terhadap gempa bumi. Variasi ketebalan
sedimen, kondisi air tanah, dan sifat mekanik tanah dapat menyebabkan perbedaan
respons gempa meskipun berada dalam wilayah yang sama.
Wilayah IKN sendiri berada dalam
lingkungan geologi Cekungan Kutai, salah satu cekungan sedimen terbesar di
Indonesia yang terbentuk sejak era Kenozoikum. Kawasan ini memiliki lapisan
sedimen yang tebal dan kompleks akibat proses sedimentasi sungai, delta, serta
aktivitas tektonik yang berlangsung selama jutaan tahun. Kondisi tersebut
menjadikan analisis karakteristik seismik lokal sangat penting untuk mendukung
perencanaan pembangunan yang aman.
Dalam penelitian ini, tim
peneliti menggunakan metode Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR)
dan Ground Shear Strain (GSS). Metode HVSR memanfaatkan getaran alami
tanah atau mikrogetaran untuk mengidentifikasi frekuensi dominan dan
karakteristik lapisan bawah permukaan. Sementara itu, metode GSS digunakan
untuk memperkirakan tingkat regangan tanah yang mungkin terjadi ketika gempa
mengguncang suatu wilayah. Data mikrogetaran dianalisis pada rentang frekuensi
0–20 Hz dengan proses penyaringan khusus untuk memperoleh informasi yang
relevan mengenai kondisi tanah di Sepaku.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa periode dominan tanah di kawasan studi berkisar antara 0,1 hingga 1,1
detik. Nilai ini menunjukkan adanya variasi karakteristik lapisan tanah
yang cukup signifikan di wilayah Sepaku. Daerah dengan periode dominan yang
lebih panjang diduga memiliki lapisan sedimen yang lebih tebal atau lebih lunak
dibandingkan daerah lain. Kondisi semacam ini penting diperhatikan karena dapat
memperkuat gelombang gempa dan meningkatkan beban yang diterima bangunan.
Penelitian juga menemukan bahwa
indeks kerentanan seismik di wilayah tersebut berada pada kisaran 0,001
hingga 0,016 s²/cm. Nilai yang lebih tinggi umumnya ditemukan pada lokasi
yang memiliki frekuensi dominan rendah dan lapisan sedimen yang lebih lunak.
Meski bukan indikator langsung kerusakan bangunan, indeks ini memberikan
gambaran awal mengenai potensi amplifikasi gelombang gempa di suatu lokasi.
Salah satu temuan paling penting
adalah identifikasi empat zona dengan nilai Ground Shear Strain (GSS) tinggi,
yaitu sekitar 0,5–0,8. Zona-zona ini berpotensi mengalami deformasi
tanah akibat gempa, termasuk pemadatan tanah, ketidakstabilan lereng, dan
proses yang berkaitan dengan likuefaksi. Para peneliti menegaskan bahwa temuan
ini belum berarti likuefaksi pasti akan terjadi, tetapi cukup untuk menjadikan
wilayah tersebut sebagai prioritas investigasi lebih lanjut.
Selain itu, penelitian menemukan
bahwa percepatan tanah maksimum regional atau Peak Ground Acceleration (PGA)
di kawasan studi relatif rendah, yakni sekitar 0,05 g. Namun, rendahnya
nilai PGA tidak berarti risiko gempa dapat diabaikan. Karakteristik tanah lokal
dapat memperkuat guncangan sehingga respons permukaan tanah berbeda dari
kondisi regional. Oleh karena itu, evaluasi geoteknik lokal tetap diperlukan
sebelum pembangunan infrastruktur dilakukan.
Menurut Wira Hadi Kusuma dan
Harmita Lestari dari Universitas Negeri Makassar, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kawasan IKN tidak dapat diperlakukan sebagai wilayah yang
homogen dari sudut pandang respons seismik. Perbedaan periode dominan, indeks kerentanan
seismik, nilai GSS, kondisi air tanah, dan karakteristik sedimen menunjukkan
bahwa setiap lokasi membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda.
Berdasarkan hasil analisis,
peneliti mengusulkan tiga kategori wilayah pembangunan. Zona pertama memiliki
kondisi tanah yang relatif baik dan dapat dikembangkan dengan investigasi
geoteknik standar. Zona kedua memerlukan studi tambahan sebelum pembangunan
infrastruktur besar dilakukan. Sementara itu, zona ketiga yang memiliki periode
dominan panjang, nilai GSS tinggi, dan kondisi geologi yang lebih kompleks
harus menjadi prioritas untuk investigasi mendalam seperti pengeboran tanah,
Standard Penetration Test (SPT), Cone Penetration Test (CPT), pemantauan air
tanah, hingga analisis respons seismik spesifik lokasi.
Implikasi penelitian ini sangat
besar bagi pembangunan IKN. Dengan memahami variasi karakteristik tanah sejak
tahap awal, pemerintah dan perencana kota dapat mengurangi risiko kerusakan
infrastruktur akibat gempa bumi, meningkatkan keselamatan masyarakat, serta
mengoptimalkan biaya pembangunan jangka panjang. Penelitian ini juga memberikan
dasar awal untuk penyusunan peta mikrozonasi gempa yang lebih rinci di kawasan
ibu kota baru Indonesia.
Profil Penulis
Wira Hadi Kusuma, S.T., M.T.
merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar yang
memiliki fokus kajian pada geofisika, karakterisasi tapak seismik, mikrozonasi
gempa, dan mitigasi bencana geologi. Dalam penelitian ini, ia bertindak sebagai
penulis korespondensi.
Harmita Lestari adalah
peneliti dari Universitas Negeri Makassar yang berkontribusi dalam
kajian geologi teknik dan analisis bahaya geologi untuk mendukung pembangunan
infrastruktur yang tangguh terhadap bencana.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Seismic
Site Characterization and Ground Shear Strain Assessment for the Development of
Indonesia's New Capital City, East Kalimantan
Penulis: Wira Hadi Kusuma, Harmita Lestari
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced
Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 779–792
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i8.304

0 Komentar