Kanvas Dinamis Gondangdia: Mengintegrasikan Dekonstruktivisme dan Fasad Kinetik dalam Desain Museum Seni Kontemporer


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Fasad Bergerak dan Arsitektur Dekonstruksi Hadirkan Museum Seni Ramah Iklim di Jakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Elshaday Meylansari Sitompul, Margareta Maria Sudarwani, dan Stepanus Andi Saputra dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa menghadirkan solusi arsitektur inovatif untuk menjawab krisis ruang pameran seni di Jakarta sekaligus memitigasi radiasi sinar matahari ekstrem pada bangunan modern.

Menjawab Tantangan Ruang Seni dan Iklim Tropis

Kota Jakarta memiliki ekosistem seni yang terus berkembang pesat, ditopang oleh lebih dari 24.000 seniman aktif dan 12.000 penikmat seni. Namun, ibu kota mengalami keterbatasan ruang pameran khusus yang mampu menampung instalasi seni media baru berukuran besar dan interaktif. Di sisi lain, laju pembangunan di kawasan transit seperti Gondangdia makin didominasi gedung komersial yang seragam, sehingga mengikis karakter budaya lokalTantangan tak berhenti pada aspek estetika urban. Iklim tropis Jakarta yang panas dengan radiasi matahari tinggi menjadi ancaman serius bagi pelestarian karya seni. Penggunaan dinding kaca statis pada gedung modern kerap memicu panas berlebih di dalam ruangan dan membebankan penggunaan pendingin udara (AC) secara berlebihan.

Metode Evaluasi Tapak Berbasis Data Ekologis
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim peneliti Universitas Kristen Indonesia menerapkan metodologi deskriptif kualitatif sesuai standar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Penelitian ini mengevaluasi lahan seluas 4.500 meter persegi di Jalan M.H. Thamrin, GondangdiaProses analisis dilakukan melalui tiga tingkatan:

  • Makro: Memetakan aturan tata ruang kota, Rasio Kecukupan Bangunan (KDB 55%), serta Koefisien Lantai Bangunan (KLB 7,0).
  • Meso: Menganalisis aksesibilitas transportasi publik, termasuk Stasiun Commuter Line Gondangdia, Halte Transjakarta Sarinah, dan Stasiun MRT Bundaran HI.
  • Mikro: Merekam data cuaca harian, arah angin, dan lintasan matahari menggunakan data BMKG serta Meteoblue.
Tim peneliti juga melakukan studi banding langsung ke Galeri Nasional Indonesia untuk mengamati sirkulasi pengunjung dan tata cahaya, serta menganalisis karya arsitektur dunia seperti Jewish Museum Berlin, Heydar Aliyev Center, dan Al-Bahr Towers.

Temuan Utama Desain Museum
Inovasi utama dari rancangan ini terletak pada perpaduan dua konsep arsitektur modern:
  • Transformasi Motif Batik Betawi: Bentuk dasar bangunan mengadaptasi motif pucuk rebung dari batik Betawi yang melambangkan pertumbuhan dan ketahanan. Motif ini dipecah dan diputar melalui teknik dekonstruksi hingga membentuk massa bangunan yang dinamis, tidak simetris, dan menjadi penanda visual (landmark) baru di pusat kota.
  • Fasad Kinetik Otomatis: Atap kaca (skylight) dan dinding bagian timur dilengkapi dengan panel kinetik berbentuk segitiga berukuran 125 x 250 sentimeter.
  • Material Ringan dan Tahan Panas: Panel bergerak ini menggunakan material membran Ethylene Tetrafluoroethylene (ETFE) dengan bingkai aluminium. Material ETFE dipilih karena memiliki bobot hanya 1/100 dari kaca standar namun mampu mengisolasi panas dengan sangat baik.
  • Sistem Kontrol Sensor pintar: Penggerak hidrolik-pneumatik terhubung ke Building Management System (BMS). Saat kondisi redup, panel akan membuka secara mendatar untuk memasukkan cahaya alami. Ketika radiasi matahari memuncak, panel akan mengembang membentuk payung tiga dimensi untuk memblokir sinar UV dan menurunkan suhu interior.
Implikasi dan Dampak Nyata Bagi Kota Modern
Hasil penelitian ini memberikan sumbangan berharga bagi pengembangan kota berkelanjutan di kawasan tropis. Penerapan fasad bergerak terbukti mampu menekan konsumsi energi pendingin ruangan sekaligus melindungi lukisan dan media digital dari kerusakan akibat paparan sinar ultravioletBagi pemerintah daerah dan pengembang properti, konsep ini menjadi acuan dalam merancang fasilitas publik berorientasi transit (TOD) yang ramah lingkungan tanpa menghilangkan identitas budaya lokal.

Profil Penulis
Elshaday Meylansari Sitompul, S.Ars. adalah lulusan Sarjana Arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia. Ia memiliki keahlian di bidang perancangan museum seni kontemporer, arsitektur dekonstruksi, dan fasad bangunan ramah lingkungan.
Ir. Margareta Maria Sudarwani, S.T., M.T. adalah dosen dan peneliti di Departemen Arsitektur Universitas Kristen Indonesia. Fokus keahliannya meliputi perancangan kota, teori arsitektur, dan pelestarian warisan budaya.
Stepanus Andi Saputra, S.T., M.Ars. adalah akademisi dan peneliti arsitektur di Universitas Kristen Indonesia. Bidang keahliannya mencakup teknologi bangunan, pemodelan digital, dan sistem arsitektur dinamis.

Sumber Penelitian
Elshaday Meylansari Sitompul, Margareta Maria Sudarwani, Stepanus Andi Saputra. Dynamic Canvas of Gondangdia: Integrating Deconstructivism and Kinetic Facades in Contemporary Art Museum Design. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol, 5 No. 8 Hal 1773-1785
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.108
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar