Penelitian yang diterbitkan pada 2026 dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL) ini mencakup China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Para peneliti melihat hubungan antara arus FDI dan tingkat pengangguran sekaligus mempertimbangkan faktor kelembagaan yang dapat menentukan apakah investasi asing benar-benar menghasilkan pekerjaan.
Mengapa FDI Belum Tentu Menciptakan Banyak Pekerjaan?
FDI selama ini dikenal sebagai salah satu sumber modal penting bagi pembangunan ekonomi. Investasi dari perusahaan asing dapat membawa modal, teknologi, pengetahuan manajemen, peningkatan produktivitas, akses ke pasar internasional, serta mendorong perkembangan industri dan jaringan pemasok lokal.
Namun, peningkatan investasi tidak selalu berarti peningkatan lapangan kerja dalam jumlah yang sama. Investasi pada sektor yang padat modal, misalnya, dapat meningkatkan produksi secara signifikan tetapi membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja. Hal serupa dapat terjadi pada investasi berbasis teknologi tinggi ketika perusahaan menggunakan otomatisasi dan inovasi yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja tertentu.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa hasil penelitian mengenai hubungan FDI dan pengangguran sebelumnya tidak selalu sama. Sebagian penelitian menemukan bahwa FDI menciptakan lapangan kerja melalui ekspansi industri dan produksi berorientasi ekspor. Namun, investasi asing pada sektor tertentu juga dapat meningkatkan produktivitas atau menekan perusahaan domestik sehingga kebutuhan tenaga kerja justru berkurang.
Menganalisis 10 Negara Selama 15 Tahun
Nugroho dan Subiyantoro menggunakan data panel dari 10 negara selama 2010–2024. Data berasal dari World Bank, IMF, UNCTAD, International Labour Organization (ILO), dan World Governance Indicators.
Variabel utama yang dianalisis adalah tingkat pengangguran dan arus FDI sebagai persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Peneliti juga memasukkan sejumlah faktor lain, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, nilai tukar, kualitas regulasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto.
Untuk membandingkan karakteristik masing-masing negara, penelitian menggunakan beberapa model analisis data panel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Fixed Effects Model (FEM) menjadi model yang dipilih karena terdapat perbedaan karakteristik yang kuat antarnegara. Analisis akhir menggunakan 150 observasi dari 10 negara, dengan masing-masing negara memiliki 15 observasi tahunan.
FDI Berkaitan dengan Penurunan Pengangguran
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa peningkatan FDI berkaitan dengan penurunan tingkat pengangguran. Penulis menyebut koefisien FDI dalam model Fixed Effects bernilai negatif dan signifikan secara statistik, yang berarti peningkatan arus investasi asing diikuti kecenderungan turunnya tingkat pengangguran.
Dalam model yang ditampilkan pada Tabel 2 di halaman 320, variabel FDI yang diprediksi (LFDIhat) memiliki koefisien -3,769813, dengan nilai probabilitas 0,072. Angka tersebut menunjukkan hubungan negatif dan berada pada tingkat signifikansi 10 persen, meskipun tidak mencapai ambang 5 persen yang sering digunakan dalam penelitian statistik.
Dengan kata lain, hasil penelitian memberikan bukti bahwa investasi asing dapat membantu mengurangi pengangguran, tetapi kekuatan hubungan tersebut tidak seragam di seluruh negara.
Vietnam, Indonesia, dan Malaysia Menunjukkan Dampak Lebih Kuat
Perbedaan dampak FDI terlihat jelas antarnegara. Penelitian menemukan bahwa pengaruh FDI terhadap pengurangan pengangguran relatif lebih kuat di Vietnam, Indonesia, dan Malaysia.
Ketiga negara tersebut memiliki karakteristik investasi yang banyak terkait dengan sektor manufaktur padat karya. Ketika perusahaan asing membangun atau memperluas kegiatan produksi, kebutuhan terhadap tenaga kerja dapat meningkat sehingga menciptakan peluang pekerjaan baru.
Sebaliknya, dampaknya relatif lebih lemah di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Penelitian mengaitkan kondisi ini dengan konsentrasi FDI pada sektor yang lebih padat teknologi dan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Artinya, nilai investasi yang besar tidak selalu menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Kualitas Pemerintahan Menjadi Faktor Penentu
Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah penekanannya pada kualitas institusi. Menurut hasil penelitian, negara dengan regulasi yang transparan, birokrasi yang efisien, pemerintahan yang kuat, dan kebijakan yang dapat diprediksi lebih mampu mengubah investasi asing menjadi manfaat bagi pasar tenaga kerja.
Temuan tersebut mengubah cara melihat FDI. Persoalannya bukan hanya seberapa banyak modal asing yang masuk, tetapi juga seberapa siap suatu negara mengelola investasi tersebut.
Yan Ari Nugroho dan Heru Subiyantoro menegaskan bahwa dampak FDI terhadap pasar tenaga kerja bersifat kondisional. Negara dengan tata kelola yang lebih kuat, kepastian regulasi, dan kemampuan menyerap investasi lebih baik memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh manfaat ketenagakerjaan yang berkelanjutan.
Implikasi bagi Kebijakan Investasi
Temuan ini memberikan pesan penting bagi pemerintah negara-negara ASEAN dan Asia Timur. Strategi menarik investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan insentif investasi atau keringanan fiskal jangka pendek.
Penelitian merekomendasikan peningkatan kepastian regulasi, reformasi tata kelola, penegakan kontrak, pengembangan keterampilan tenaga kerja, dan peningkatan kapasitas industri. Pemerintah juga didorong untuk mengembangkan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Bagi Indonesia, temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menarik investasi asing perlu diikuti dengan kebijakan yang memastikan investasi menciptakan keterkaitan dengan industri domestik dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja. Dengan demikian, FDI tidak berhenti sebagai aliran modal, tetapi dapat menjadi sumber penciptaan pekerjaan dan peningkatan kapasitas ekonomi.
Profil Penulis
Yan Ari Nugroho — Universitas Borobudur, Indonesia. Penulis tercatat sebagai corresponding author dalam artikel dan berfokus pada kajian investasi asing, pengangguran, serta hubungan antara investasi dan kondisi kelembagaan.
Heru Subiyantoro — Universitas Borobudur, Indonesia. Namanya tercantum sebagai penulis kedua dalam penelitian mengenai FDI, pengangguran, dan kualitas institusi.
0 Komentar