Influencer Marketing Terbukti Mendorong Minat Beli Motor Listrik di Bandung

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung- Konten influencer di media sosial terbukti berpengaruh terhadap minat masyarakat membeli sepeda motor listrik di Kota Bandung. Temuan ini berasal dari penelitian Fery Firmansyah dan Eka Septiarini dari Jenderal Achmad Yani University, Cimahi, yang dipublikasikan pada 2026. Penelitian menggunakan survei terhadap 162 responden untuk melihat bagaimana pemasaran melalui influencer, keterlibatan di media sosial, dan intensitas penggunaan media sosial berkaitan dengan minat membeli sepeda motor listrik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer marketing tidak hanya berpengaruh langsung terhadap minat beli, tetapi juga bekerja melalui keterlibatan konsumen di media sosial. Sebaliknya, tingginya frekuensi penggunaan media sosial tidak terbukti menjadi perantara yang signifikan dalam hubungan tersebut.

Temuan ini penting di tengah upaya meningkatkan adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Sepeda motor listrik menawarkan alternatif transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, tetapi konsumen masih mempertimbangkan berbagai hal seperti harga, daya tahan baterai, jarak tempuh, fasilitas pengisian daya, serta layanan purnajual. Karena itu, informasi yang mudah dipahami konsumen menjadi bagian penting dalam mendorong keputusan pembelian.

Media sosial menjadi sumber informasi konsumen

Firmansyah dan Septiarini mencatat bahwa perubahan teknologi digital turut mengubah cara konsumen mencari informasi sebelum membeli produk. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana pemasaran, edukasi produk, dan pembentukan persepsi konsumen.

Kondisi tersebut semakin relevan bagi sepeda motor listrik karena produk ini masih membutuhkan edukasi kepada calon pengguna. Konsumen perlu memahami manfaat kendaraan listrik, efisiensi biaya, teknologi baterai, jarak tempuh, hingga kemudahan pengisian daya.

Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa meskipun jumlah kendaraan listrik roda dua di Indonesia telah meningkat hingga lebih dari 127.000 unit pada 2025, porsinya masih kecil dibandingkan sepeda motor berbahan bakar minyak. Penulis mencatat penjualan sepeda motor listrik nasional turun dari 77.078 unit pada 2024 menjadi 55.059 unit pada 2025. Ketidakpastian kebijakan subsidi dan pertimbangan konsumen menjadi sejumlah faktor yang disebut dalam artikel.

Melibatkan 162 calon konsumen di Bandung

Firmansyah dan Septiarini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kuesioner berskala lima poin. Responden merupakan warga Kota Bandung berusia minimal 17 tahun, memiliki SIM C, tertarik membeli sepeda motor listrik, serta pernah melihat konten influencer mengenai sepeda motor listrik di media sosial. Sebanyak 162 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan Google Forms.

Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear, regresi berganda, pengujian hipotesis, serta Sobel test untuk mengetahui apakah keterlibatan dan penggunaan media sosial berperan sebagai perantara. Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS versi 25 dengan tingkat signifikansi 5 persen.

Keterlibatan di media sosial menjadi kunci

Secara deskriptif, responden memberikan penilaian tinggi terhadap influencer marketing dengan skor rata-rata 3,87. Aspek dengan skor tertinggi adalah pengetahuan influencer mengenai produk, yakni 3,98. Namun, tingkat kepercayaan konsumen terhadap informasi yang disampaikan influencer memperoleh skor paling rendah, yaitu 3,50. Temuan ini menunjukkan bahwa influencer dinilai cukup kredibel dan relevan, tetapi aspek kepercayaan terhadap informasi masih perlu diperkuat.

Keterlibatan konsumen di media sosial juga tergolong tinggi dengan skor rata-rata 3,90. Aktivitas yang paling tinggi adalah memberikan tanda suka atau like, dengan skor 4,06, sedangkan komentar memperoleh skor 3,64. Artinya, keterlibatan konsumen lebih sering muncul dalam bentuk interaksi pasif dibandingkan diskusi aktif.

Sementara itu, penggunaan media sosial memperoleh rata-rata 4,18, yang tergolong tinggi. Frekuensi mengakses media sosial setiap hari menjadi indikator dengan skor tertinggi, yakni 4,38. Minat beli sepeda motor listrik sendiri memperoleh rata-rata 4,17, dengan keinginan membeli sebagai indikator tertinggi, yaitu 4,23.

Analisis regresi memperlihatkan pengaruh yang lebih kuat. Influencer marketing menjelaskan 47,7 persen variasi minat beli dalam regresi sederhana. Keterlibatan media sosial bahkan menjelaskan 50 persen variasi minat beli. Ketika influencer marketing, keterlibatan media sosial, dan penggunaan media sosial dianalisis secara bersamaan, ketiganya menjelaskan 64,4 persen variasi minat beli.

Yang paling menarik, Sobel test menunjukkan bahwa social media engagement terbukti menjadi mediator antara influencer marketing dan minat beli. Dengan kata lain, konten influencer dapat mendorong minat membeli ketika konten tersebut berhasil membuat konsumen memperhatikan, tertarik, memahami, menyukai, mengomentari, atau membagikannya.

Sebaliknya, social media usage tidak terbukti menjadi mediator. Penggunaan media sosial memang berpengaruh terhadap minat beli ketika diuji secara sederhana, tetapi pengaruh tersebut menjadi tidak signifikan ketika influencer marketing dan keterlibatan media sosial diperhitungkan secara bersamaan. Hasil Sobel test menghasilkan nilai signifikansi 0,298, sehingga hubungan mediasi tersebut tidak terbukti.

Bukan sekadar sering melihat media sosial

Menurut Firmansyah dan Septiarini, temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan konsumen lebih penting daripada sekadar seberapa sering seseorang menggunakan media sosial. Frekuensi membuka media sosial tidak otomatis membuat konsumen lebih tertarik membeli sepeda motor listrik. Yang lebih menentukan adalah bagaimana konsumen memproses dan merespons informasi yang mereka lihat.

Bagi pelaku industri sepeda motor listrik, hasil ini memberikan arah yang cukup jelas. Perusahaan disarankan memilih influencer yang kredibel, relevan dengan target konsumen, dan mampu menjelaskan produk secara edukatif. Strategi konten juga sebaiknya mendorong interaksi melalui komentar, berbagi konten, dan diskusi, bukan hanya mengejar jumlah tayangan.

Penulis juga menyarankan adanya kolaborasi pemerintah dan industri dalam kampanye edukasi kendaraan listrik melalui media sosial. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan pemahaman sekaligus mempercepat penerimaan masyarakat terhadap sepeda motor listrik.

Profil Penulis

Fery Firmansyah — Jenderal Achmad Yani University, Cimahi, Indonesia. Gelar akademik dan profil keahlian formal tidak dicantumkan dalam artikel. Bidang kajian yang tercermin dalam artikel meliputi pemasaran digital, influencer marketing, perilaku konsumen, dan minat beli kendaraan listrik.

Eka Septiarini — Jenderal Achmad Yani University, Cimahi, Indonesia; penulis korespondensi. Gelar akademik dan profil keahlian formal tidak dicantumkan dalam artikel. Kajian dalam artikel berfokus pada pemasaran digital, keterlibatan media sosial, perilaku konsumen, dan kendaraan listrik.

Sumber Penelitian

Firmansyah, Fery & Septiarini, Eka. “The Influence of Influencer Marketing on Purchase Intention Mediated by Social Media Engagement and Social Media Usage on Electric Motorcycles in Bandung City.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, hlm. 2907–2926. DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.182.

Posting Komentar

0 Komentar