Hubungan Antara Postur Kerja dan Beban Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal di Kalangan Pengukir Beton Bertulang: Sebuah Studi Potong Lintang

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bali - Postur Kerja Buruk dan Beban Kerja Tinggi Memicu Keluhan Otot-Tulang Pekerja Ukir Beton di Bali. Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Agung Haryawan dari Universitas Udayana dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa memberikan bukti empiris mengenai interaksi antara tekanan biomekanik dan beban fisiologis pada kelompok pekerja informal yang selama ini jarang diteliti.

Latar belakang penelitian ini berakar dari tingginya angka Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) di industri konstruksi global. Pekerja ukir beton bertulang secara rutin melakukan aktivitas fisik berat seperti memotong, membengkokkan, mengikat, dan mengangkat material besi beton. Aktivitas tersebut sering dilakukan dalam posisi membungkuk dalam jangka waktu lama, menjangkau area tinggi, dan menangani beban berat. Kondisi kerja yang ekstrem ini berpotensi memicu cedera kumulatif pada punggung bawah, bahu, pergelangan tangan, dan lutut.

Metodologi penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan cross-sectional analitis. Peneliti melibatkan 35 pekerja ukir beton laki-laki berusia 35 hingga 65 tahun dengan pengalaman kerja minimal satu tahun. Evaluasi postur kerja diukur menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai tingkat risiko ergonomis. Beban kerja fisiologis diukur melalui denyut nadi kerja selama 10 detik saat beraktivitas. Sementara itu, tingkat keluhan otot dan tulang (Musculoskeletal Disorders/MSDs) dinilai menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM).

Temuan utama penelitian ini menunjukkan keterkaitan yang sangat kuat antara postur kerja, beban kerja, dan tingkat keparahan keluhan otot-tulang:

  • Risiko Postur Kerja: Sebanyak 42,9% pekerja berada pada kategori risiko REBA tinggi, 45,7% risiko sedang, dan 11,4% risiko rendah.
  • Bebat Kerja Fisiologis: Mayoritas pekerja (74,3%) mengalami beban kerja sedang, 20% beban kerja berat, dan 5,7% beban kerja ringan.
  • Tingkat Keluhan Otot: Sebanyak 60% pekerja melaporkan keluhan MSDs tingkat sedang, 22,9% tingkat berat, dan 17,1% tingkat ringan.
  • Korelasi Statistik: Analisis Spearman menunjukkan korelasi positif yang kuat antara risiko postur kerja dan tingkat keluhan otot ($r = 0,767; p < 0,001$). Beban kerja juga berbanding lurus dengan keluhan otot ($r = 0,624; p < 0,001$). Selain itu, postur kerja yang buruk terbukti meningkatkan beban kerja fisiologis pekerja ($r = 0,708; p < 0,001$).
  • Keeratan Hubungan: Analisis Gamma mempertegas bahwa risiko postur kerja ($\gamma = 0,905$) memiliki pengaruh sedikit lebih dominan dibanding beban kerja ($\gamma = 0,872$) dalam memicu keparahan keluhan otot.
Implikasi dari penelitian ini sangat krusial bagi dunia usaha, keselamatan kerja, dan kebijakan publik di sektor konstruksi. Penataan ulang pola kerja, perbaikan ergonomi peralatan, penyediaan pelatihan posisi tubuh yang benar, serta pengaturan waktu istirahat yang terstruktur dapat mengurangi potensi cacat fisik dan meningkatkan produktivitas pekerja. Interventions ini juga membantu menurunkan biaya pengobatan akibat cedera kerja di industri informal.

Profil Penulis
I Gusti Agung Haryawan adalah seorang akademisi dan peneliti dari Universitas Udayana, Bali, Indonesia. Beliau memiliki keahlian di bidang ergonomi, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), serta fisiologi kerja.

Sumber Penelitian
I Gusti Agung Haryawan. Association Between Work Posture and Workload and Musculoskeletal Complaints Among Reinforced Concrete Carvers: A Cross-Sectional Study. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol, 5 No. 8 Hal 1759-1772.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.107
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar