Harga Terjangkau dan Influencer Tepercaya Lebih Memikat Gen Z Dibandingkan Teknologi AI di Industri Kopi


Ilustrasi by AI 

Strategi penetapan harga yang tepat serta kredibilitas influencer terbukti menjadi penentu utama daya tarik merek (brand attractiveness) Fore Coffee di mata Generative Z (Gen Z) Indonesia, sementara penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak memberikan pengaruh signifikan. Temuan ilmiah tersebut diungkapkan oleh tiga peneliti Universitas Triatma Mulya, yaitu Muthia Azhari Boyoh, Luh Komang Candra Dewi, dan Herindiyah Kartika Yuni, dalam studi bertajuk "The Effect of Artificial Intelligence Use, Influencer Credibility, and Pricing Strategy on Fore Coffee's Brand Attractiveness Among Generation Z in Indonesia" yang dipublikasikan pada Agustus 2026 di Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA). Penelitian ini penting karena memberikan gambaran bahwa kecanggihan teknologi digital bukanlah jaminan utama untuk memikat hati generasi muda jika tidak diimbangi dengan nilai ekonomi dan komunikasi yang tepercaya.

Perubahan Perilaku Konsumen Kopi dan Gen Z

Persaingan kedai kopi lokal maupun internasional di Indonesia kini bergerak sangat cepat. Kualitas produk semata tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar. Industri kopi terdorong untuk berfokus pada pengalaman pelanggan, identitas merek, dan keterikatan digital.

Fenomena ini bersinggungan langsung dengan masuknya Gen Z (lahirnya kurun 1997–2012) sebagai kelompok konsumen utama. Sebagai kelompok yang tumbuh di era digital, Gen Z sangat mudah membandingkan harga, ulasan, dan kualitas produk melalui platform media sosial. Namun, kemudahan teknologi tidak lantas membuat mereka langsung setia pada suatu merek. Mereka sangat sensitif terhadap harga, menilai kesesuaian merek dengan gaya hidup mereka, serta mencari informasi yang autentik dan tepercaya.

Metodologi Penelitian Sederhana

Untuk mengukur fenomena tersebut pada Fore Coffee—salah satu rantai kopi lokal terkemuka di Indonesia—tim peneliti merancang penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori.

Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur kepada 100 responden Gen Z di Indonesia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Seluruh responden memenuhi kriteria spesifik:

  • Berusia dalam rentang Gen Z (1997–2012).
  • Telah membeli produk Fore Coffee dalam enam bulan terakhir.
  • Pengguna aktif aplikasi Fore Coffee.
  • Pernah melihat atau mengikuti konten influencer Fore Coffee di media sosial.

Selanjutnya, data yang terkumpul diolah secara statistik menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 31.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan fakta menarik terkait interaksi teknologi, media sosial, dan strategi harga:

  • Strategi Harga Menjadi Faktor Terkuat ($\beta = 0,358; p < 0,001$): Strategi harga—yang mencakup keterjangkauan, keadilan harga, fleksibilitas diskon, dan kesesuaian nilai (value for money)—menjadi pendorong paling dominan dalam membentuk daya tarik merek Fore Coffee di mata Gen Z.
  • Kredibilitas Influencer Berpengaruh Signifikan ($\beta = 0,349; p < 0,001$): Tingkat keahlian, kejujuran, daya tarik, dan kesesuaian citra influencer dengan merek terbukti secara signifikan mampu meningkatkan persepsi positif Gen Z terhadap merek.
  • Penggunaan AI Tidak Berpengaruh Signifikan ($\beta = 0,143; p = 0,155$): Fitur berbasis AI pada aplikasi (seperti personalisasi dan efisiensi pesanan) tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap daya tarik merek.
  • Pengaruh Simultan ($R^2 = 0,477; F = 29,164; p < 0,001$): Secara bersama-sama, penggunaan AI, kredibilitas influencer, dan strategi harga berkontribusi menjelaskan 47,7% variasi daya tarik merek Fore Coffee.

Catatan Paradoks Digital: Meskipun fitur AI dalam aplikasi memperoleh skor rata-rata positif dari responden (3,95 dari skala 5), statistik membuktikan bahwa fitur ini tidak membuat merek menjadi lebih menarik. Bagi Gen Z, kemudahan transaksi berbasis teknologi sudah dianggap sebagai standar layanan wajib, bukan keunggulan pembeda.

Implikasi Bagi Dunia Bisnis dan Pemasaran

Temuan ini memberikan panduan praktis bagi manajemen bisnis ritel dan pengembang merek di Indonesia:

  1. AI Sebagai Pendukung, Bukan Jualan Utama: Perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan kebiasaan pamer teknologi AI. Fitur AI lebih cocok diposisikan sebagai alat bantu efisiensi operasional dan kenyamanan layanan pelanggan.
  2. Kemitraan Influencer yang Tepat: Pemilihan influencer tidak cukup sekadar melihat jumlah pengikut (followers). Kesesuaian karakter influencer dengan nilai-nilai merek serta tingkat kepercayaan publik jauh lebih menentukan ketertarikan Gen Z.
  3. Pentingnya Strategi Harga Berbasis Nilai: Perusahaan kopi perlu terus mengoptimalkan program promosi, penukaran poin loyalty, dan paket hemat tanpa mengorbankan persepsi kualitas premium-affordable merek mereka.

Profil Peneliti

  • Muthia Azhari Boyoh, S.SE., M.M. 

    Dosen dan peneliti di Fakultas Bisnis dan Pariwisata, Universitas Triatma Mulya. Menguasai bidang keahlian Manajemen Pemasaran, Perilaku Konsumen, dan Strategi Pemasaran Digital.
  • Luh Komang Candra Dewi, S.SE., M.M. 

    Dosen dan peneliti di Universitas Triatma Mulya. Berfokus pada bidang Keuangan, Manajemen Bisnis, dan Perilaku Ekonomi Konsumen.
  • Herindiyah Kartika Yuni, S.SE., M.M. Dosen dan akademisi di Universitas Triatma Mulya. Memiliki kepakaran dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, Pemasaran Ritel, dan Manajemen Pelayanan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: The Effect of Artificial Intelligence Use, Influencer Credibility, and Pricing Strategy on Fore Coffee's Brand Attractiveness Among Generation Z in Indonesia
Nama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 6, No. 8, Agustus 2026)
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i8.115
URL Resmi:https://journalmudima.my.id/index.php/mudima

Posting Komentar

0 Komentar