Ade Nurhayati Sapalakai dan Yendra Elvawati dari Universitas PGRI Sumatera Barat meneliti implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) serta berbagai tantangannya di SMAN 1 Pagai Utara Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, pada periode 2024 hingga 2025
Faktor ekonomi keluarga sering kali menjadi kendala utama kelanjutan sekolah anak akibat beban biaya tambahan seperti seragam, buku, dan transportasi
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif
Temuan utama penelitian menunjukkan beberapa poin penting:
- Pelaksanaan PIP melalui tahap identifikasi dan pendaftaran via Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sosialisasi program, hingga distribusi dan pencairan dana
. - Sekolah mengambil peran krusial dalam memperbarui data siswa, melengkapi persyaratan administrasi, dan mendampingi proses pencairan
. - Hambatan operasional meliputi ketidakkonsistenan data kependudukan, minimnya akses internet, kondisi geografis kepulauan dengan risiko cuaca ekstrem, tingginya biaya transportasi laut menuju bank, serta masih adanya siswa terdaftar yang belum menerima dana bantuan
.
Peningkatan efektivitas PIP di wilayah 3T menuntut penguatan tata kelola data, perbaikan jaringan komunikasi, serta perluasan akses layanan perbankan
Profil Penulis
- Ade Nurhayati Sapalakai: Mahasiswa dan peneliti di Fakultas Pascasarjana Universitas PGRI Sumatera Barat
. - Yendra Elvawati: Peneliti dan akademisi di Fakultas Pascasarjana Universitas PGRI Sumatera Barat
.
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Implementation of the Indonesia Smart Program (PIP) at Sman 1 Pagai Utara Selatan, Kepulauan Mentawai Regency
- Nama Jurnal: International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4, No. 8 August 2026: 1273-1284
- DOI:
https://doi.org/10.59890/ijels.v4i8.83
0 Komentar