Evaluasi Daya Dukung Lingkungan dan Kapasitas Akomodasi untuk Penggunaan Ruang Hunian di Kota Mataram

Gambar Ilustrasi AI

Krisis Ruang Permukiman Mengancam Kota Mataram, Kecamatan Ampenan Mengalami Defisit Terparah

MATARAM — Pesatnya laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mulai memicu ancaman serius terhadap ketersediaan ruang hidup yang aman dan berkelanjutan. Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Roman Ongka Wijaya, Endah Wahyuningsih, dan Tajidan Tajidan dari Universitas Mataram menemukan bahwa daya dukung permukiman di Kota Mataram mengalami penurunan signifikan. Penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2026 ini memperingatkan bahwa tiga dari enam kecamatan di Kota Mataram sudah mengalami defisit lahan permukiman, dengan Kecamatan Ampenan mencatatkan tingkat krisis paling parah.

Penelitian ini penting dilakukan karena Kota Mataram berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN), pusat pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pariwisata di Nusa Tenggara Barat. Status ini memicu daya tarik migrasi yang tinggi dan konversi lahan produktif menjadi kawasan terbangun. Jika tidak dikendalikan, akumulasi penduduk akan melampaui kapasitas lingkungan untuk mendukung kehidupan warga secara sehat dan aman.

Latar Belakang dan Tantangan Lingkungan

Pertumbuhan penduduk Kota Mataram yang mencapai rata-rata 1,34% per tahun dengan jumlah penduduk melampaui 440 ribu jiwa berbanding terbalik dengan luas wilayahnya yang terbatas, yakni hanya sekitar 61,30 kilometer persegi. Ketidakseimbangan ini memicu fenomena penumpukan pemukiman yang tak terkendali (urban sprawl).

Pengalihan fungsi lahan pertanian produktif dan Sawah Yang Dilindungi (LSD) menjadi perumahan telah mengubah struktur hidrologi kota. Berkurangnya area resapan air meningkatkan risiko banjir saat musim hujan, sementara kepadatan hunian yang tinggi tanpa dukungan sanitasi yang memadai—seperti Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T)—berpotensi mencemari air tanah dan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.

Metodologi Penelitian Sederhana

Untuk mengevaluasi kondisi tersebut, tim peneliti dari Universitas Mataram menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis Pemetaan Sistem Informasi Geografis (SIG). Peneliti menganalisis citra satelit Sentinel-2 tahun 2025 dengan algoritma Classification and Regression Tree (CART) untuk memetakan penutupan lahan aktual.

Penelitian ini menumpuk (overlay) sembilan parameter Satuan Kemampuan Lahan (SKL)—seperti morfologi, kestabilan lereng, ketersediaan air, drainase, hingga kerentanan bencana—sesuai regulasi Kementerian Pekerjaan Umum No. 20/2007. Proyeksi penduduk dihitung secara geometris hingga tahun 2035 untuk mengukur Kebutuhan Lahan Permukiman (KLP), Daya Dukung Permukiman (DDPm), serta Daya Tampung (DT) optimal kawasan.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang di Kota Mataram telah didominasi oleh kawasan terbangun:

  • Lahan Terbangun Dominan: Lahan permukiman aktual di Kota Mataram telah mencapai 4.238,58 hektar atau 70,19% dari total luas kota (6.039,01 hektar).
  • Kepadatan Penduduk Tinggi: Rata-rata kepadatan penduduk aktual di pemukiman mencapai 109,36 jiwa/ha. Kecamatan Ampenan mencatatkan kepadatan tertinggi sebesar 128,59 jiwa/ha, disusul Kecamatan Mataram sebesar 113,43 jiwa/ha.
  • Luas Lahan Layak Permukiman (LPm): Setelah dikurangi kawasan lindung dan rawan bencana serta memperhitungkan batas tutupan bangunan maksimal 50%, luas lahan yang benar-benar layak dan aman untuk permukiman di Kota Mataram hanya tersisa 1.853,91 hektar.
  • Defisit Daya Dukung Spasial:

    Tiga kecamatan sudah mengalami defisit daya dukung permukiman (DDPm < 1) sejak tahun 2025, yaitu Ampenan (0,95), Cakranegara (0,92), dan Mataram (1,05 / memburuk jadi 0,96 pada 2035).
  • Tiga kecamatan masih mengalami surplus, yaitu Sekarbela (2,17), Sandubaya (1,65), dan Selaparang (1,52).
  • Proyeksi Daya Tampung Penduduk: Total daya tampung ideal kawasan permukiman Kota Mataram adalah 617.968 jiwa. Sisa kapasitas tampung penduduk diproyeksikan merosot drastis sebesar 30,4%, dari 153.606 jiwa pada tahun 2025 menjadi tersisa 106.923 jiwa pada tahun 2035.
  • Defisit Lahan Terparah: Kecamatan Ampenan mengalami defisit lahan paling parah, yaitu -169,41 hektar pada tahun 2025 dan diproyeksikan membengkak menjadi -228,59 hektar pada tahun 2035. Sementara itu, Kecamatan Sekarbela menjadi satu-satunya wilayah yang konsisten memiliki surplus lahan terbesar (119,49 ha pada 2025 hingga 84,69 ha pada 2035).

Implikasi dan Dampak Bagi Kebijakan Publik

Hasil studi ini memberikan implikasi penting bagi pemerintah daerah dalam merespons ketidakseimbangan tata ruang. Tanpa pengendalian berjarak, kualitas hidup warga di wilayah defisit akan semakin terdegradasi akibat kemacetan ruang, munculnya pemukiman kumuh, dan krisis lingkungan.

Peneliti merekomendasikan arahan pembangunan berbasis zonasi prioritas:

  • Prioritas 1 (Kawasan Pengembangan Utama): Kecamatan Sekarbela diarahkan sebagai pusat pertumbuhan hunian baru dengan kepadatan sedang (60–80 jiwa/ha) yang dilengkapi infrastruktur sanitasi dan pengolahan limbah terpadu.
  • Prioritas 2 (Kawasan Terkendali): Kecamatan Sandubaya dan Selaparang dikembangkan secara terencana dengan pemanfaatan lahan kosong secara terukur.
  • Prioritas 3 (Kawasan Penataan Strict/Ketat): Kecamatan Ampenan, Cakranegara, dan Mataram harus menghentikan perizinan rumah tapak secara horizontal (moratorium). Pembangunan di wilayah ini wajib diarahkan ke hunian vertikal (rusun/apartemen), revitalisasi kawasan kumuh, dan penyiapan Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik minimal 30%. "Evaluasi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup harus menjadi dasar utama dalam pembentukan atau revisi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Mataram, sehingga pembangunan pemukiman tetap berada dalam koridor daya dukung lingkungan yang berkelanjutan," jelas peneliti dalam laporan ilmiahnya.

Profil Penulis

  1. Roman Ongka Wijaya, S.T., M.Env. — Mahasiswa/Peneliti Utama Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Lingkungan, Pascasarjana Universitas Mataram. Keahlian di bidang analisis spasial Sistem Informasi Geografis (SIG) dan tata ruang lingkungan.
  2. Ir. Endah Wahyuningsih, M.P. — Dosen/Peneliti Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Lingkungan, Pascasarjana Universitas Mataram. Keahlian di bidang ekologi lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.
  3. Dr. Ir. Tajidan, M.S. — Dosen/Peneliti Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram. Keahlian di bidang sosial-ekonomi pertanian, daya dukung wilayah, dan pemanfaatan ruang.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar