Edukasi Lingkungan Pesisir Berbasis Masyarakat Dorong Kesadaran Pengelolaan Sampah Laut di Desa Bulutui


Ilustrasi by AI

Peneliti Fandy Yones Latuni dan Meyta Ingrid Kindangen dari Universitas Nusantara Manado menginisiasi program edukasi lingkungan pesisir berbasis masyarakat untuk mengatasi persoalan sampah laut di Desa Bulutui, Minahasa Utara. Kegiatan pengabdian masyarakat bertema "Bulutui Hijau, Laut Bersih, Desa Lestari" ini dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026, dan dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Society Development pada Agustus 2026. Penelitian lapangan ini penting karena menghadirkan pendekatan edukatif dan partisipatif langsung kepada sekitar 50 warga, tokoh masyarakat, dan pemuda lokal guna membangun komitmen bersama dalam menjaga kebersihan laut dan mengelola sampah rumah tangga secara berkelanjutan.

Menjawab Tantangan Pencemaran Sampah di Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir memiliki peran strategis sebagai sumber penghidupan, pangan, kegiatan ekonomi, dan identitas sosial bagi masyarakat lokal. Namun, wilayah ini sangat rentan terhadap pencemaran akibat sampah rumah tangga dan plastik sekali pakai yang tidak dikelola dengan baik.

Sampah yang masuk ke ekosistem laut tidak hanya mengotori pantai, tetapi juga merusak habitat laut, menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, serta mengurangi hasil tangkapan nelayan dan daya tarik wisata. Perubahan perilaku pembuangan sampah di tingkat rumah tangga memerlukan peningkatan pengetahuan lingkungan serta habituasi tindakan nyata di tingkat desa.

Metodologi Edukatif-Partisipatif untuk Aksi Lingkungan

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nusantara Manado menerapkan pendekatan edukatif-partisipatif yang menggabungkan pemaparan materi, diskusi interaktif, dan refleksi aksi lingkungan. Program ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari warga desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemuda.

Materi edukasi yang disampaikan terbagi ke dalam empat fokus utama:

  • Arti Penting Laut: Menjelaskan fungsi laut sebagai penopang ekonomi, sumber pangan, potensi pariwisata, dan warisan bagi generasi mendatang.
  • Dampak Sampah Pesisir: Membedah bahaya sampah plastik, kemasan, botol minuman, kantong plastik, hingga popok sekali pakai terhadap ekosistem dan kesehatan.
  • Tindakan Nyata Perlindungan Laut: Mengajarkan lima langkah praktis harian, yaitu tidak membuang sampah ke laut, menyediakan tempat sampah, mengurangi plastik sekali pakai, membersihkan area pantai, dan terlibat dalam kerja bakti.
  • Pengelolaan Sumber Daya Laut Berkelanjutan: Mengaitkan kelestarian laut dengan peningkatan kesejahteraan melalui perikanan tangkap ramah lingkungan, pengolahan hasil laut, budidaya, dan ekotourism berbasis komunitas.

Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif berdasarkan observasi kualitatif, respon interaktif peserta selama diskusi, serta dokumentasi keberlangsungannya.

Hasil Temuan Utama: Kesadaran Warga dan Peran Pemuda

Hasil kegiatan menunjukkan respons yang sangat positif serta peningkatan pemahaman masyarakat:

  • Pemetaan Sumber Sampah: Peserta berhasil mengidentifikasi berbagai jenis sampah rumah tangga yang berpotensi memicu pencemaran laut dan menyadari pentingnya pemilahan sampah dari rumah.
  • Komitmen Aksi Bersama: Warga sepakat bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya berupa larangan membuang sampah ke laut, tetapi harus didukung penyediaan fasilitas tempat sampah dan kegiatan bersih pantai secara rutin.
  • Peran Pemuda sebagai Penggerak: Generasi muda Desa Bulutui diposisikan sebagai agen perubahan (agents of change) yang siap menjadi teladan hidup bersih dan menggerakkan aksi sosial lingkungan.

Implikasi dan Impact Nyata bagi Masyarakat

Program ini membuktikan bahwa edukasi kontekstual yang menghubungkan isu lingkungan dengan kepentingan langsung masyarakat mampu memicu komitmen kolektif. Keberhasilan kegiatan ini menjadi modal sosial penting untuk pembentukan kelompok pemelihara lingkungan, pengadaan fasilitas tempat sampah di titik strategis, serta pelatihan pemilahan sampah di tingkat desa.

Mengenai dampak jangka panjang program ini, Peneliti Universitas Nusantara Manado, Fandy Yones Latuni, menegaskan pentingnya kesadaran kolektif warga pesisir. "Edukasi lingkungan pesisir merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran bersama," ujar Fandy Yones Latuni. "Ketika masyarakat memahami hubungan langsung antara laut yang bersih, kesehatan publik, dan keberlanjutan ekonomi, tindakan harian yang sederhana dapat menciptakan desa pesisir yang bersih, sehat, dan produktif."

Untuk menjaga keberlanjutan program, peneliti merekomendasikan adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah desa, pembentukan kelompok peduli pesisir, serta penggunaan kuesioner pre-test dan post-test pada kegiatan mendatang untuk mengukur perubahan pengetahuan warga secara kuantitatif.

Profil Penulis

  • Fandy Yones Latuni, S.Pd., M.Si. — Dosen dan peneliti di Universitas Nusantara Manado dengan keahlian di bidang edukasi lingkungan pesisir, pengabdian masyarakat, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
  • Meyta Ingrid Kindangen, S.Pd., M.Si. — Dosen dan peneliti di Universitas Nusantara Manado yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, edukasi lingkungan, dan pengembangan pendidikan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Community-Based Coastal Environmental Management Education through the "Green Bulutui, Clean Sea, Sustainable Village" Program in Bulutui Village, North Minahasa
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Society Development (IJSD)
Tahun Publikasi: 2026
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 4, hal. 361–370
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i4.35

Posting Komentar

0 Komentar