Perkembangan media sosial dan marketplace telah mengubah cara masyarakat membeli produk bekas, khususnya pakaian. Thrifting kini tidak lagi hanya identik dengan upaya mendapatkan barang murah. Bagi sebagian konsumen, terutama generasi muda, pakaian bekas dari merek ternama juga menjadi bagian dari gaya hidup, ekspresi identitas, dan cara memperoleh produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam lingkungan digital, proses belanja tersebut semakin cepat. Interaksi konsumen di grup Facebook dapat berlangsung secara langsung melalui unggahan produk, komentar, dan persaingan untuk menjadi pembeli pertama. Ketika proses komunikasi sosial itu terhubung dengan sistem transaksi cepat melalui marketplace seperti Shopee, konsumen dapat terdorong untuk mengambil keputusan tanpa banyak pertimbangan.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Fachry Yuda Pratama, Novita Rifaul Kirom, dan Mohammad Dullah. Mereka menelaah dua faktor utama yang diduga memicu pembelian spontan, yaitu diskon harga dan daya tarik produk bermerek.
Diskon Harga Memberi Pengaruh Paling Besar
Hasil analisis menunjukkan bahwa diskon harga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif.
Variabel diskon harga memperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,986, dengan nilai statistik t sebesar 7,586 dan tingkat signifikansi 0,000. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin menarik diskon yang diberikan penjual, semakin besar pula kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian tanpa perencanaan sebelumnya.
Di antara dua faktor yang diuji dalam penelitian ini, diskon harga menjadi faktor yang paling dominan.
Penawaran harga khusus dapat menciptakan persepsi bahwa konsumen sedang memperoleh kesempatan yang menguntungkan. Ketika diskon disertai batas waktu, jumlah produk yang terbatas, atau persaingan dengan pembeli lain, dorongan untuk segera membeli menjadi semakin kuat.
Dalam komunitas thrifting online, kondisi tersebut sering muncul ketika penjual menawarkan produk melalui unggahan di media sosial dan pembeli berlomba memberikan respons terlebih dahulu. Konsumen dapat merasa bahwa menunda keputusan berarti kehilangan kesempatan memperoleh produk dengan harga yang lebih murah.
Fenomena ini sejalan dengan konsep perilaku pembelian impulsif yang menggambarkan keputusan belanja sebagai tindakan spontan yang sering dipengaruhi oleh dorongan emosional.
Produk Bermerek Juga Mendorong Pembelian Spontan
Selain diskon, penelitian ini menemukan bahwa produk bermerek atau branded products juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif.
Produk bermerek mencatat koefisien regresi sebesar 0,310, nilai t sebesar 2,631, dan tingkat signifikansi 0,010.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan merek yang dikenal konsumen dapat meningkatkan dorongan untuk membeli secara spontan.
Daya tarik produk bermerek dalam pasar thrifting tidak hanya berkaitan dengan nama merek. Konsumen juga dapat menghubungkan merek tertentu dengan kualitas bahan, daya tahan, prestise, dan nilai sosial.
Dalam perdagangan pakaian bekas, produk bermerek sering dianggap memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan produk tanpa identitas merek yang kuat. Konsumen merasa memperoleh kesempatan untuk memiliki produk yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau jika dibeli dalam kondisi baru.
Kelangkaan produk juga dapat memperkuat keputusan spontan. Banyak produk thrifting tersedia hanya dalam satu ukuran dan satu unit. Kondisi tersebut dapat menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan, terutama ketika beberapa calon pembeli menunjukkan minat terhadap produk yang sama.
Kombinasi Diskon dan Merek Menjelaskan 74 Persen Perilaku Impulsif
Ketika kedua faktor dianalisis secara bersamaan, hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif.
Uji simultan menghasilkan nilai F sebesar 143,559 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sementara itu, nilai koefisien determinasi atau R Square sebesar 0,740.
Artinya, kombinasi diskon harga dan produk bermerek dapat menjelaskan sekitar 74 persen variasi perilaku pembelian impulsif responden dalam penelitian ini.
Sisa 26 persen kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang belum dimasukkan dalam model penelitian. Faktor tersebut dapat mencakup kualitas tampilan produk, interaksi penjual dengan konsumen, aktivitas belanja melalui siaran langsung, tingkat kepercayaan konsumen, kelangkaan barang, hingga kemampuan keuangan pembeli.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan belanja spontan dalam perdagangan digital bukan sekadar persoalan harga murah. Konsumen juga mempertimbangkan nilai yang melekat pada produk, termasuk citra dan reputasi merek.
Penting bagi Penjual dan Pelaku Usaha Thrifting
Bagi pelaku usaha fesyen bekas, hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan respons konsumen.
Diskon yang jelas dan terbatas dapat menciptakan rasa urgensi. Namun, daya tarik promosi akan semakin kuat jika penjual juga mampu menunjukkan nilai produk secara meyakinkan.
Foto label merek, kondisi produk, kualitas bahan, ukuran, serta informasi harga yang transparan dapat membantu konsumen memahami nilai barang yang ditawarkan. Dalam lingkungan social e-commerce, penyampaian informasi yang cepat dan visual yang menarik juga berpotensi meningkatkan perhatian konsumen.
Namun, strategi tersebut juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan oleh konsumen. Pembelian impulsif dapat membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Karena itu, konsumen perlu tetap mempertimbangkan kebutuhan, kondisi keuangan, dan manfaat produk sebelum menyelesaikan transaksi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan social e-commerce menciptakan lingkungan belanja yang semakin dinamis. Interaksi sosial, persaingan antar pembeli, promosi terbatas, dan kekuatan merek dapat bekerja secara bersamaan dalam membentuk keputusan konsumen.
Penelitian Berikutnya Dapat Menelaah TikTok Shop dan Shopee Live
Para penulis mencatat bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya menguji dua faktor utama, yaitu diskon harga dan produk bermerek.
Penelitian lanjutan dapat memasukkan faktor lain seperti kualitas pelayanan, kepercayaan konsumen, fitur live streaming, kelangkaan produk, serta metode pembayaran digital seperti layanan paylater.
Ruang lingkup penelitian juga dapat diperluas ke platform perdagangan digital lain, termasuk TikTok Shop dan Shopee Live. Langkah tersebut dinilai penting untuk memahami perubahan perilaku konsumen dalam ekosistem belanja digital yang terus berkembang.
Secara keseluruhan, studi yang ditulis Fachry Yuda Pratama, Novita Rifaul Kirom, dan Mohammad Dullah memperlihatkan bahwa harga murah dan daya tarik merek merupakan kombinasi kuat dalam mendorong pembelian spontan di pasar thrifting online. Di antara keduanya, diskon harga menjadi faktor dengan pengaruh paling besar.
Profil Singkat Penulis
Fachry Yuda Pratama merupakan salah satu penulis penelitian ini. Informasi mengenai gelar akademik, afiliasi universitas, dan bidang keahlian tidak dicantumkan dalam naskah yang tersedia.
Novita Rifaul Kirom merupakan penulis kedua dalam penelitian ini. Naskah yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik, afiliasi universitas, maupun bidang keahlian secara rinci.
Mohammad Dullah merupakan penulis ketiga sekaligus corresponding author penelitian ini. Informasi mengenai gelar akademik, afiliasi universitas, dan bidang keahlian tidak tersedia dalam naskah yang diberikan.
Sumber Penelitian
Judul artikel: The Effect of Price Discounts and Branded Products on Impulsive Buying Behavior in the Thrifting Community in Social E-Commerce: A Study on Sales in Facebook Groups and Shopee in 2026
Penulis: Fachry Yuda Pratama, Novita Rifaul Kirom, dan Mohammad Dullah
Tahun: 2026
Status naskah: Diterima pada 23 Agustus 2026
0 Komentar