Budaya Organisasi dan Dukungan Kerja Tingkatkan Keterikatan ASN di Instalasi Gizi RSUD Dokter Soedarso

Ilustrasi by AI

PONTIANAK — Budaya organisasi dan dukungan organisasi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja aparatur sipil negara (ASN) di Instalasi Gizi RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Temuan ini berasal dari penelitian Muhammad Chairul dan Irfan Mahdi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang diterbitkan pada 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan organisasi memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan budaya organisasi dalam meningkatkan keterikatan pegawai terhadap pekerjaan dan organisasi.

Keterikatan pegawai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pelayanan publik, termasuk pelayanan kesehatan. Pegawai yang memiliki keterikatan kerja tinggi cenderung menunjukkan energi, antusiasme, dedikasi, serta keterlibatan yang lebih besar dalam menjalankan tugas. Dalam lingkungan rumah sakit, kondisi tersebut menjadi penting karena kualitas layanan kepada masyarakat sangat berkaitan dengan bagaimana setiap unit menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten.

RSUD Dokter Soedarso Pontianak merupakan salah satu rumah sakit rujukan di Provinsi Kalimantan Barat. Salah satu unit pendukung pelayanan adalah Instalasi Gizi yang bertanggung jawab terhadap perencanaan menu, pengadaan makanan, produksi makanan, hingga distribusi makanan kepada pasien. Berdasarkan data rumah sakit pada 2026, Instalasi Gizi memiliki 64 pegawai yang terdiri atas 30 ASN, lima pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, dan 29 tenaga non-ASN. Penelitian Chairul dan Mahdi secara khusus melibatkan 30 ASN yang bekerja di instalasi tersebut.

Budaya organisasi di rumah sakit tersebut diarahkan untuk mendukung transformasi pelayanan publik modern. Nilai-nilai organisasi disosialisasikan melalui berbagai saluran, mulai dari poster di area pelayanan, pengarahan dalam apel pagi, media digital, hingga kegiatan bersama. Nilai organisasi juga diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) agar kegiatan operasional berjalan sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan.

Penerapan nilai dasar ASN BerAKHLAK juga menjadi bagian dari budaya kerja. Nilai tersebut mencakup Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut tercermin melalui pelayanan yang ramah, kedisiplinan, tanggung jawab, peningkatan kompetensi, penghargaan terhadap perbedaan, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, serta kerja sama lintas unit.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, masih terdapat sejumlah persoalan dalam pelaksanaan pekerjaan. Data kehadiran ASN di Instalasi Gizi menunjukkan tingkat ketidakhadiran sebesar 1,05 persen pada 2022, turun menjadi 1,01 persen pada 2023, kemudian meningkat menjadi 1,02 persen pada 2024. Wawancara dengan kepala instalasi juga menemukan adanya keterlambatan dan penyelesaian pekerjaan yang belum selalu sesuai target waktu. Selain itu, penggunaan SIMRS belum sepenuhnya optimal karena sebagian pegawai masih melakukan pencatatan manual sebelum memasukkan data ke sistem digital.

Dari sisi dukungan organisasi, rumah sakit telah melakukan modernisasi infrastruktur dan digitalisasi layanan. Dukungan tersebut mencakup penyediaan peralatan berteknologi tinggi, pengembangan fasilitas rumah sakit, penerapan SIMRS, serta program pendidikan dan pengembangan kompetensi bagi tenaga gizi. Rumah sakit juga memberikan kesempatan pengembangan melalui beasiswa dan pendidikan lanjutan bagi tenaga profesional di bidang gizi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 30 ASN di Instalasi Gizi sebagai responden. Data diperoleh melalui wawancara dengan kepala instalasi, kuesioner kepada seluruh responden, serta data sekunder berupa jumlah pegawai, nilai kinerja, dan data kehadiran. Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS versi 18.0.

Hasil analisis menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan pegawai. Nilai koefisien regresi budaya organisasi sebesar 0,221 dengan tingkat signifikansi 0,030. Artinya, semakin baik budaya organisasi yang diterapkan, semakin tinggi pula keterikatan pegawai terhadap pekerjaan. Budaya yang membangun nilai, norma, dan pola perilaku positif dapat mendorong pegawai untuk lebih terlibat dalam pekerjaan dan tujuan organisasi.

Dukungan organisasi menunjukkan pengaruh yang lebih kuat. Koefisien regresinya mencapai 0,319 dengan tingkat signifikansi 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perhatian organisasi, penghargaan terhadap kontribusi pegawai, dukungan atasan, kondisi kerja, serta perhatian terhadap kesejahteraan pegawai berkaitan erat dengan meningkatnya keterikatan kerja. Dalam penelitian ini, pengaruh dukungan organisasi lebih besar dibandingkan budaya organisasi.

Ketika budaya organisasi dan dukungan organisasi dianalisis secara bersamaan, keduanya terbukti berpengaruh signifikan terhadap keterikatan pegawai. Nilai F sebesar 9,802 dengan signifikansi 0,001 menunjukkan adanya pengaruh bersama yang signifikan. Nilai korelasi sebesar 0,649 menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua faktor tersebut dengan keterikatan pegawai. Sementara itu, nilai R² sebesar 0,421 menunjukkan bahwa budaya organisasi dan dukungan organisasi menjelaskan 42,1 persen variasi keterikatan pegawai, sedangkan 57,9 persen lainnya dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa keterikatan pegawai tidak hanya terbentuk dari nilai dan kebiasaan yang berkembang di tempat kerja. Cara organisasi memperlakukan pegawai juga memiliki peran penting. Ketika pegawai merasa kontribusinya dihargai, memperoleh dukungan dari atasan, bekerja dalam kondisi yang memadai, serta mendapatkan perhatian terhadap kesejahteraan dan pengembangan kompetensi, keterikatan mereka terhadap pekerjaan dapat semakin kuat.

Bagi manajemen rumah sakit, hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam memperkuat pengelolaan sumber daya manusia. Peneliti merekomendasikan peningkatan dukungan atasan, pemberian penghargaan yang sesuai terhadap kontribusi pegawai, penyediaan kondisi kerja yang memadai, perhatian terhadap kesejahteraan, serta kesempatan pengembangan kompetensi. Budaya organisasi juga perlu diperkuat melalui komunikasi nilai secara rutin, keteladanan pimpinan, kerja sama antarpegawai, dan evaluasi perilaku kerja secara berkala.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya penggunaan SIMRS secara lebih konsisten dan peningkatan rasa tanggung jawab pegawai dalam menjaga fasilitas yang telah disediakan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat energi, dedikasi, dan keterlibatan pegawai dalam menjalankan tugas sehari-hari. Untuk penelitian berikutnya, peneliti menyarankan agar faktor lain seperti kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan lingkungan kerja turut dikaji.

Secara keseluruhan, penelitian Muhammad Chairul dan Irfan Mahdi menunjukkan bahwa budaya organisasi dan dukungan organisasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan keterikatan kerja ASN di Instalasi Gizi RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Dukungan organisasi menjadi faktor yang relatif lebih kuat, sehingga perhatian terhadap kesejahteraan, kondisi kerja, penghargaan, dukungan pimpinan, dan pengembangan pegawai perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai organisasi.

Profil Penulis

Muhammad Chairul — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Irfan Mahdi — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Organizational Culture and Organizational Support on Employee Engagement among Civil Servants at the Nutrition Installation of Dokter Soedarso Regional General Hospital Pontianak

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 1973–1990.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.131

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar