Bandung — Ulasan positif di internet dan persepsi konsumen terhadap kualitas produk terbukti mendorong minat membeli kembali bedak Marcks di Kabupaten Bandung. Temuan tersebut diungkap Mulkiah dan Faizal Fardhani Sigarlaki dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, melalui penelitian terhadap 120 konsumen yang pernah membeli dan menggunakan bedak Marcks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dari konsumen melalui platform digital dan persepsi terhadap kualitas produk sama-sama memiliki pengaruh positif terhadap keputusan konsumen untuk kembali membeli produk tersebut.
Perubahan perilaku konsumen di industri kosmetik membuat pengalaman pengguna dan informasi yang beredar di internet semakin penting. Konsumen kini dapat menemukan berbagai ulasan, pengalaman penggunaan, rekomendasi, maupun penilaian produk sebelum memutuskan melakukan pembelian. Kondisi ini membuat electronic word of mouth (e-WOM) atau komunikasi dari konsumen melalui media digital menjadi salah satu sumber informasi yang dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Bedak Marcks menjadi salah satu produk kosmetik yang menarik untuk dikaji karena telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Produk yang diproduksi PT Kimia Farma tersebut telah dikenal sejak dekade 1970-an dan 1980-an. Namun, data Top Brand Index menunjukkan adanya penurunan posisi Marcks dalam kategori bedak wajah. Indeks Marcks turun dari 20,60 persen pada 2021 menjadi 11,20 persen pada 2025. Pada periode yang sama, Wardah mencapai 14,80 persen dan Make Over 12,70 persen. Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi konsumen dan tantangan bagi merek untuk mempertahankan minat pembelian ulang.
Dalam situasi tersebut, pengalaman konsumen yang dibagikan secara online dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi calon maupun pengguna lama. Ulasan positif mengenai manfaat produk, pengalaman penggunaan, serta keandalan produk dapat meningkatkan keyakinan konsumen. Di sisi lain, kualitas produk yang dirasakan konsumen juga menjadi pertimbangan penting karena konsumen cenderung kembali membeli produk ketika kinerja produk sesuai dengan harapan.
Mulkiah dan Faizal Fardhani Sigarlaki menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei. Penelitian melibatkan 120 konsumen bedak Marcks di Kabupaten Bandung yang sebelumnya telah membeli dan menggunakan produk tersebut. Responden dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 19 pernyataan dengan skala Likert lima tingkat dan dianalisis menggunakan IBM SPSS versi 27.
Peneliti terlebih dahulu memastikan instrumen penelitian dapat digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Pengujian dilakukan melalui uji validitas Pearson Product-Moment dan reliabilitas Cronbach’s Alpha. Satu indikator pada variabel electronic word of mouth tidak memenuhi kriteria validitas sehingga dikeluarkan dari analisis, sementara indikator lainnya dinyatakan valid dan reliabel. Analisis kemudian dilanjutkan dengan pengujian asumsi, regresi linear berganda, serta uji t dan uji F.
Hasil analisis menunjukkan bahwa electronic word of mouth memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Nilai koefisien regresinya mencapai 0,217, dengan nilai t sebesar 7,826 dan signifikansi 0,000. Artinya, semakin positif informasi dan ulasan yang diterima konsumen mengenai bedak Marcks melalui media digital, semakin besar kecenderungan mereka untuk kembali membeli produk tersebut.
Pengaruh yang lebih kuat terlihat pada persepsi kualitas produk. Koefisien regresi mencapai 0,330, dengan nilai t sebesar 18,635 dan signifikansi 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa konsumen yang menilai produk memiliki kualitas sesuai harapan cenderung memiliki keinginan lebih besar untuk melakukan pembelian ulang. Persepsi tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan produk menjalankan fungsinya, daya tahan, serta pengalaman konsumen ketika menggunakan bedak Marcks.
Ketika electronic word of mouth dan persepsi kualitas produk diuji secara bersama-sama, keduanya juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Nilai F sebesar 3,07 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa keputusan konsumen untuk membeli kembali tidak hanya berkaitan dengan informasi yang mereka peroleh secara online, tetapi juga dengan penilaian terhadap kualitas produk. Ulasan positif yang didukung pengalaman menggunakan produk sesuai harapan dapat memperkuat kepuasan dan mendorong konsumen untuk melakukan pembelian ulang.
Temuan tersebut memberikan gambaran penting bagi industri kosmetik. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan bagaimana sebuah merek mempromosikan produknya, tetapi juga memperhatikan pengalaman pengguna lain dan kualitas yang mereka rasakan sendiri. Karena itu, reputasi digital dan kualitas produk perlu dikelola secara bersamaan.
Bagi PT Kimia Farma sebagai produsen Marcks, hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan untuk memperkuat strategi komunikasi digital. Perusahaan dapat mendorong konsumen untuk membagikan pengalaman positif melalui berbagai platform digital, meningkatkan interaksi di media sosial, dan mengelola ulasan pelanggan secara aktif. Langkah tersebut dapat membantu membangun kepercayaan sekaligus memperluas penyebaran informasi positif mengenai produk.
Pada saat yang sama, peningkatan kualitas produk tetap menjadi bagian penting dari strategi mempertahankan konsumen. Peneliti merekomendasikan penguatan pengendalian kualitas, perbaikan kemasan, serta peningkatan atribut produk yang menjadi perhatian konsumen. Kombinasi antara pengalaman digital yang positif dan kualitas produk yang sesuai harapan diharapkan dapat memperkuat minat beli ulang dan membantu Marcks mempertahankan daya saing di pasar kosmetik.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Responden berasal dari beberapa wilayah di Kabupaten Bandung dan mayoritas berusia 17–25 tahun. Karena itu, penelitian berikutnya disarankan melibatkan konsumen dengan karakteristik usia dan latar belakang yang lebih beragam serta wilayah penelitian yang lebih luas. Peneliti juga merekomendasikan penyempurnaan instrumen pengukuran electronic word of mouth, khususnya indikator mengenai ulasan negatif yang belum memenuhi kriteria validitas.
Mulkiah dan Faizal Fardhani Sigarlaki menyimpulkan bahwa electronic word of mouth dan persepsi kualitas produk merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan minat konsumen untuk kembali membeli bedak Marcks. Temuan ini menunjukkan bahwa mempertahankan konsumen di industri kosmetik membutuhkan kombinasi antara komunikasi digital yang positif dan kualitas produk yang mampu memenuhi harapan pengguna.
Penulis
Mulkiah — Universitas Jenderal Achmad Yani
Faizal Fardhani Sigarlaki — Universitas Jenderal Achmad Yani
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of Electronic Word of Mouth and Perceived Product Quality on Repurchase Intention of Marcks Loose Powder Products in Bandung Regency
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3231–3246.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.261
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar