Mamuju, Sulawesi Barat — Populasi tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang didaratkan nelayan di Desa Sumare, Kabupaten Mamuju, menunjukkan dominasi ikan berukuran besar. Temuan ini berasal dari penelitian Hasbiana Anwar, Femiliani Novitasari, dan Widya Utami dari Universitas Muhammadiyah Mamuju, yang mengamati hasil tangkapan nelayan pancing ulur selama Januari hingga Februari 2026. Dari 350 ekor tuna yang diukur dalam 30 trip penangkapan, 96,3 persen telah mencapai ukuran tangkap yang ditetapkan dalam penelitian, memberikan gambaran penting mengenai karakteristik hasil tangkapan tuna di perairan sekitar Mamuju.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) pada 2026 tersebut tidak hanya melihat jumlah tuna yang ditangkap. Anwar, Novitasari, dan Utami juga menganalisis ukuran tubuh, hubungan panjang dan berat ikan, serta produksi hasil tangkapan. Data tersebut memberikan gambaran biologis mengenai tuna yang didaratkan di salah satu lokasi pendaratan ikan di pesisir Mamuju.
Tuna Menjadi Komoditas Penting di Mamuju
Kabupaten Mamuju memiliki garis pantai lebih dari 500 kilometer yang membentang di sepanjang Teluk Mandar. Perairannya menjadi habitat berbagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi, termasuk tuna sirip kuning.
Desa Sumare merupakan salah satu lokasi pendaratan tuna yang berada di kawasan pesisir dan berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Bagi nelayan setempat, tuna sirip kuning menjadi salah satu target utama penangkapan menggunakan alat tangkap pancing ulur.
Besarnya permintaan pasar terhadap tuna membuat informasi mengenai kondisi hasil tangkapan menjadi penting. Data produksi di Sumare sendiri mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dikutip dalam artikel, produksi tuna yang didaratkan di Sumare meningkat dari 727,21 ton pada 2020 menjadi 2.944,68 ton pada 2023, kemudian turun menjadi 1.610,99 ton pada 2024.
Menurut Anwar, Novitasari, dan Utami, perubahan produksi dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari intensitas penangkapan, kondisi laut, musim, ketersediaan ikan, hingga efektivitas alat tangkap. Karena itu, data ukuran ikan dan hasil tangkapan dapat menjadi salah satu bahan untuk memahami kondisi perikanan tuna di suatu wilayah.
350 Tuna Diukur Selama 30 Trip Penangkapan
Penelitian dilakukan di Desa Sumare, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, pada Januari–Februari 2026. Peneliti mengambil sampel dari dua kapal pancing ulur yang aktif beroperasi dan mendaratkan hasil tangkapannya di lokasi penelitian.
Selama 30 trip, sebanyak 350 ekor tuna sirip kuning diukur. Peneliti mencatat panjang standar, panjang cagak atau fork length, panjang total, serta berat setiap ikan. Data produksi bulanan juga diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mamuju serta tempat pelelangan atau pendaratan ikan setempat.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tuna yang didaratkan memiliki panjang cagak antara 95 hingga 165 sentimeter, dengan rata-rata 141,1 sentimeter. Berat ikan berkisar antara 13,5 hingga 129,9 kilogram, dengan rata-rata 72,8 kilogram.
Ukuran besar menjadi karakteristik paling menonjol dalam hasil tangkapan tersebut. Sebanyak 175 ekor atau 50 persen berada pada kelas panjang 150–165 sentimeter.
Dari sisi berat, kelompok ikan dengan bobot 100 kilogram atau lebih menjadi kelompok terbesar, yakni 91 ekor atau 26 persen. Sementara itu, 50,6 persen dari seluruh sampel memiliki berat lebih dari 80 kilogram.
Produksi Mencapai 25,4 Ton dalam 30 Trip
Selama periode pengamatan, dua kapal pancing ulur menghasilkan total 25.466 kilogram atau sekitar 25,47 ton tuna dari 350 ekor ikan.
Rata-rata hasil tangkapan mencapai 848,9 kilogram per trip, dengan rata-rata 11,7 ekor tuna setiap perjalanan. Namun, hasil tangkapan tidak selalu sama pada setiap trip.
Produksi tertinggi tercatat pada trip ke-9, yakni 1.185,6 kilogram dari 16 ekor ikan. Sementara produksi terendah terjadi pada trip pertama dengan 631,7 kilogram dari sembilan ekor ikan. Perbedaan hasil tersebut mencapai 553,9 kilogram.
Penulis mengaitkan perubahan hasil tangkapan dengan kondisi cuaca dan arus laut, perilaku tuna yang bergerombol dan bermigrasi, serta kemampuan nelayan dalam menentukan lokasi dan waktu penangkapan.
Berat Tuna Bertambah Lebih Cepat daripada Panjangnya
Salah satu temuan biologis penting dalam penelitian ini adalah pola pertumbuhan positif allometrik. Secara sederhana, kondisi tersebut berarti berat tubuh tuna bertambah lebih cepat dibandingkan pertambahan panjangnya.
Analisis terhadap 350 ikan menghasilkan nilai koefisien pertumbuhan 3,8453, lebih tinggi dari angka 3 yang digunakan sebagai pembanding. Hubungan panjang dan berat juga menunjukkan nilai R² sebesar 0,9784, yang berarti variasi panjang sangat kuat dalam menjelaskan variasi berat ikan dalam sampel penelitian.
Peneliti mengaitkan pola tersebut dengan kondisi biologis ikan dan lingkungan perairan yang mendukung pertambahan biomassa. Namun, temuan ini merupakan gambaran berdasarkan sampel dan periode pengamatan Januari–Februari 2026, sehingga kondisi pada musim atau periode berbeda masih dapat menghasilkan pola yang berbeda.
96,3 Persen Tuna Mencapai Ukuran Tangkap
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah ukuran ikan yang didaratkan. Dari 350 ekor, 337 ekor atau 96,3 persen memiliki panjang cagak minimal 100 sentimeter. Dalam penelitian ini, ukuran tersebut digunakan sebagai batas ukuran tangkap berdasarkan panjang saat pertama kali mencapai kematangan gonad.
Hanya 13 ekor atau 3,7 persen yang berada di bawah ukuran tersebut. Rata-rata panjang cagak seluruh sampel yang mencapai 141,1 sentimeter juga menunjukkan bahwa mayoritas ikan yang diamati berukuran jauh di atas batas 100 sentimeter.
Bagi pengelolaan perikanan, informasi ini dapat menjadi data dasar untuk memantau komposisi ukuran hasil tangkapan. Penelitian Anwar, Novitasari, dan Utami juga menunjukkan bahwa pancing ulur pada lokasi pengamatan menghasilkan tangkapan yang didominasi ikan berukuran besar.
Data Lokal Penting untuk Pengelolaan Tuna
Menurut Anwar, Novitasari, dan Utami dari Universitas Muhammadiyah Mamuju, kombinasi data ukuran ikan, hubungan panjang-berat, dan produksi tangkapan dapat memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai kondisi perikanan tuna di lokasi pendaratan.
Temuan mereka memperlihatkan bahwa hasil tangkapan di Sumare selama periode pengamatan didominasi tuna berukuran besar, sementara sebagian besar ikan telah berada di atas ukuran tangkap yang digunakan dalam penelitian. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan evaluasi pengelolaan perikanan tuna di kawasan Mamuju dan Teluk Mandar.
Penulis juga menekankan pentingnya pengelolaan yang hati-hati karena tingginya produktivitas perikanan perlu diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya. Dengan tersedianya data lokal mengenai ukuran ikan dan produksi, pemantauan kondisi perikanan dapat dilakukan dengan dasar informasi yang lebih sesuai dengan karakteristik wilayah Sumare.
Profil Penulis
Hasbiana Anwar, Femiliani Novitasari, dan Widya Utami merupakan penulis artikel dari Universitas Muhammadiyah Mamuju. Artikel mereka berfokus pada biologi perikanan tuna sirip kuning, struktur ukuran hasil tangkapan, hubungan panjang-berat ikan, produksi perikanan, serta informasi yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya tuna di wilayah Mamuju.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Size Structure and Catch of Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) Landed in Sumare Village, Mamuju Regency
Penulis: Hasbiana Anwar, Femiliani Novitasari, Widya Utami
Jurnal: International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS)
Volume: 4, Nomor 7
Tahun: 2026
Halaman: 673–682
DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i7.24
Website jurnal: https://ijarss.my.id/index.php/ijarss/index

0 Komentar