Tafsir Al-Qur’an Berpindah ke Ruang Digital
Perkembangan internet membuat pengetahuan keagamaan tidak lagi hanya diperoleh melalui kitab cetak, majelis pengajian, atau lembaga keagamaan. Tafsir Al-Qur’an kini hadir dalam berbagai bentuk digital, termasuk YouTube, Instagram, TikTok, aplikasi Al-Qur’an, situs web, arsip digital, dan teknologi berbasis AI.
Perubahan tersebut bukan sekadar memindahkan kitab tafsir dari bentuk cetak ke layar. Menurut Ahmad Munir, teknologi ikut mengubah cara tafsir diproduksi, disebarkan, diterima, dan memperoleh legitimasi di tengah masyarakat. Platform digital memungkinkan penjelasan ayat disampaikan secara lebih singkat, visual, interaktif, mudah dicari, dan mudah dibagikan.
Namun, kecepatan dan popularitas konten digital juga dapat membuat pengguna lebih sering melihat tafsir tertentu karena rekomendasi platform, bukan semata-mata karena kualitas ilmiahnya. Sistem algoritma bahkan dapat membentuk ruang informasi yang relatif homogen melalui filter bubble dan echo chamber.
Mengkaji 25 Artikel dari 136 Temuan Awal
Munir menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Literatur ditelusuri melalui Scopus, Web of Science, dan Google Scholar dengan kata kunci yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an dan transformasi digital.
Pencarian awal menghasilkan 136 artikel. Setelah 26 duplikasi dihapus, 110 artikel masuk tahap penyaringan. Sebanyak 67 artikel kemudian dikeluarkan karena tidak sesuai fokus, sementara dari 43 laporan yang ditelusuri lebih lanjut, tiga tidak berhasil diperoleh secara lengkap. Pada tahap kelayakan, 15 artikel kembali dikeluarkan. Akhirnya, 25 artikel digunakan sebagai bahan sintesis.
Ke-25 artikel tersebut dianalisis melalui thematic synthesis dan analisis isi deskriptif. Munir mengelompokkan temuan ke dalam empat dimensi utama: aksesibilitas dan inovasi digital, keberagaman tafsir dan penerimaan, otoritas dan kredibilitas, serta akurasi, kontekstualisasi, dan risiko teknologi atau algoritma.
Otoritas dan Kredibilitas Menjadi Persoalan Terbesar
Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi digital memberikan manfaat nyata. Sebanyak 14 dari 25 artikel atau 56 persen membahas peningkatan aksesibilitas dan inovasi digital. Sebanyak 13 artikel atau 52 persen menunjukkan meningkatnya keberagaman tafsir dan pola penerimaan masyarakat.
Sementara itu, isu otoritas dan kredibilitas menjadi tema paling dominan, muncul dalam 15 artikel atau 60 persen. Masalah akurasi, kontekstualisasi, dan risiko teknologi atau algoritma muncul dalam 13 artikel atau 52 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utama tafsir digital bukan hanya bagaimana masyarakat mendapatkan informasi keagamaan, tetapi juga siapa yang dipercaya sebagai sumber tafsir dan mengapa tafsir tersebut dianggap kredibel.
Di ruang digital, otoritas tidak selalu dibentuk oleh pendidikan keilmuan, penguasaan bahasa Arab, tradisi keilmuan, atau pengakuan institusional. Jumlah pengikut, gaya komunikasi, kualitas visual, interaksi dengan audiens, dan kemampuan memperoleh perhatian algoritma juga dapat memengaruhi visibilitas seorang penyampai tafsir.
Munir menyebut perubahan tersebut lebih tepat dipahami sebagai rekonfigurasi otoritas, bukan sekadar hilangnya otoritas ulama. Penafsir yang telah memiliki legitimasi akademik dapat memperluas jangkauan melalui teknologi, sementara aktor baru dapat membangun pengaruh melalui popularitas dan keterampilan media digital.
AI Membantu Mencari Informasi, tetapi Bukan Pengganti Mufasir
Kecerdasan buatan memberikan peluang baru dalam kajian Al-Qur’an. Teknologi Natural Language Processing (NLP), misalnya, dapat membantu pencarian, pengolahan, dan pemeringkatan informasi Al-Qur’an secara lebih cepat.
Namun, kemampuan menemukan ayat atau informasi yang relevan tidak sama dengan kemampuan melakukan penafsiran. Penafsiran membutuhkan perhatian terhadap bahasa, konteks sejarah, hubungan antarsumber, tradisi keilmuan, serta metodologi yang lebih luas. Karena itu, kajian Munir menempatkan AI sebagai alat pendukung penelitian dan akses informasi, bukan pengganti otoritas mufasir.
Risiko AI juga perlu diperhatikan. Literatur yang dikaji menunjukkan persoalan seperti bias, halusinasi informasi, transparansi proses pengambilan keputusan, akurasi, privasi, akuntabilitas, dan keterbatasan AI dalam menangani kompleksitas persoalan keagamaan.
Manfaat Besar, tetapi Literasi Digital Harus Mengimbanginya
Temuan Ahmad Munir memperlihatkan paradoks transformasi digital. Akses terhadap tafsir semakin mudah, tetapi proses verifikasi dapat menjadi semakin sulit. Pilihan tafsir semakin beragam, tetapi pengguna juga dapat terjebak dalam lingkungan informasi yang hanya memperlihatkan perspektif serupa.
Karena itu, kredibilitas tafsir digital membutuhkan lebih dari sekadar teknologi yang canggih. Identitas dan kompetensi penafsir, sumber rujukan, transparansi metodologi, kecukupan konteks, serta kesadaran terhadap peran algoritma perlu diperhatikan secara bersamaan.
Munir merekomendasikan agar akademisi, mufasir, lembaga keagamaan, dan pengembang platform memperkuat keterlacakan sumber, transparansi metode, kompetensi penafsir, kecukupan konteks, serta mekanisme verifikasi konten. Masyarakat juga perlu memiliki literasi digital dan literasi tafsir agar mampu membedakan penafsiran yang memiliki dasar keilmuan dari konten yang terutama didorong popularitas atau algoritma.
Dengan demikian, masa depan tafsir digital tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologi digunakan. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan teknologi tetap berjalan bersama kredibilitas ilmiah, konteks, dan tanggung jawab dalam menafsirkan pengetahuan Al-Qur’an.
Profil Penulis
Ahmad Munir merupakan penulis artikel Digital Transformation of Quranic Interpretation in the Contemporary Era dan berafiliasi dengan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Artikel mencantumkan Ahmad Munir sebagai corresponding author.
Dokumen yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik Ahmad Munir, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari klaim yang tidak didukung sumber.
0 Komentar