Tingkat Literasi Kesehatan Digital Jadi Penentu Utama Perilaku Sehat Masyarakat Pascapandemi

Ilustrasi by AI

Sebuah studi tinjauan sistematis (Systematic Literature Review) terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Akademi Farmasi Bhumi Husada dan Poltekkes Kemenkes Riau mengungkap bahwa literasi kesehatan digital menjadi faktor kunci yang menentukan partisipasi masyarakat dalam tindakan pencegahan penyakit di era pascapandemi. Penelitian ini menyoroti pentingnya kemampuan masyarakat dalam mengakses, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan dari media digital untuk membangun ketahanan kesehatan publik.

Studi yang digagas oleh Elly Safitri dari Akademi Farmasi Bhumi Husada bersama Fathunikmah dari Poltekkes Kemenkes Riau ini diterbitkan dalam International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS) edisi tahun 2026. Penelitian tersebut berfokus pada analisis interaksi antara kecakapan digital masyarakat pascapandemi dengan pola perilaku pencegahan kesehatan, seperti vaksinasi, pemeriksaan rutin, dan kepatuhan pada protokol kesehatan. Hasil riset ini menjadi sangat krusial di tengah pesatnya digitalisasi layanan medis dan maraknya penyebaran informasi palsu (infodemic) di media sosial.

Kemajuan Digital dan Pentingnya Kemampuan Evaluasi Kritis

Sejak pandemi COVID-19 melanda, ketergantungan masyarakat terhadap portal berita, media sosial, aplikasi kesehatan seluler, dan layanan konsultasi dokter jarak jauh (telemedicine) meningkat drastis. Namun, melimpahnya informasi di ruang digital tidak serta-merta membuat masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang tepat. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, individu kerap kesulitan membedakan antara rekomendasi medis berbasis bukti ilmiah dan klaim menyesatkan.

Latar belakang inilah yang mendorong para peneliti untuk mengevaluasi secara mendalam bagaimana literasi kesehatan digital beroperasi pascapandemi. Literasi kesehatan digital tidak lagi dipandang sekadar keterampilan teknis mengoperasikan gawai atau aplikasi, melainkan sebuah kapasitas multidimensi yang mencakup kemampuan bernalar kritis, memverifikasi kredibilitas sumber, serta mengomunikasikan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Metodologi Tinjauan Sistematis Berbasis Standar PRISMA 2020

Untuk memetakan hubungan tersebut, Elly Safitri dan Fathunikmah menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman internasional PRISMA 2020. Tim peneliti mengumpulkan dan menyaring ratusan literatur ilmiah bereputasi dari lima basis data global utama, yaitu Scopus, Web of Science, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar untuk rentang publikasi 2020 hingga 2025.

Dari total 247 artikel ilmiah yang teridentifikasi di tahap awal, sebanyak 39 data ganda dihapus. Peneliti kemudian melakukan penyaringan judul dan abstrak terhadap 208 artikel, hingga menyisakan 58 laporan untuk dievaluasi kelayakan teks utuh secara mendalam. Pada tahap akhir, dipilih 10 studi empiris bereputasi tinggi yang memenuhi seluruh kriteria inklusi ketat untuk dianalisis kualitatif secara tematik.

Empat Temuan Utama Penentu Perilaku Sehat

Berdasarkan analisis tematik terhadap riset-riset empiris dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Tiongkok, Brasil, Jerman, Vietnam, dan Indonesia, penelitian ini menghasilkan empat temuan utama:

  1. Konstruk Multidimensi Literasi Digital: Literasi kesehatan digital terdiri atas lima dimensi yang saling berkaitan, yaitu kemampuan mencari (search), memahami (understand), menilai secara kritis (evaluate), mengomunikasikan (communicate), dan menerapkan (apply) informasi kesehatan.
  2. Korelasi Positif dengan Perilaku Preventif: Masyarakat dengan literasi kesehatan digital yang lebih tinggi secara konsisten menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih baik dalam tindakan pencegahan. Mereka lebih aktif mengikuti program vaksinasi booster, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, menjaga pola hidup sehat, dan mematuhi panduan kesehatan publik.
  3. Ketimpangan Sosial dan Jurang Digital (Digital Divide): Usia, tingkat pendidikan formal, kondisi sosioekonomi, serta akses terhadap perangkat teknologi menjadi determinan utama. Kelompok lansia dan masyarakat berpenghasilan rendah cenderung memiliki literasi digital yang lebih rendah, sehingga berisiko tertinggal dalam pemanfaatan layanan kesehatan digital.
  4. Resistensi Terhadap Disinformasi: Literasi digital yang kuat berfungsi sebagai benteng perlindungan masyarakat dari ancaman misinformasi dan infodemic. Individu yang cakap digital mampu memfilter mitos kesehatan yang beredar di internet, sehingga tidak ragu untuk mengambil tindakan medis yang tepat.

Implikasi Kebijakan dan Dampak bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini membawa implikasi strategis bagi perumusan kebijakan kesehatan publik, pendidikan, dan sektor layanan medis pascapandemi. Peningkatan literasi kesehatan digital tidak bisa lagi dianggap sebagai isu teknologi semata, melainkan bagian integral dari strategi promosi kesehatan nasional.

Para peneliti menekankan pentingnya intervensi pendidikan berbasis komunitas yang inklusif. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu merancang pelatihan kecakapan digital yang ditujukan khusus bagi kelompok rentan, seperti lansia dan masyarakat pedesaan. Selain itu, penyedia layanan kesehatan dan pengembang aplikasi medis dianjurkan untuk mendesain antarmuka platform digital yang ramah pengguna, transparan, serta mengedepankan privasi data guna memperkecil jurang ketimpangan kesehatan.

Profil Penulis

  • Elly Safitri, M.Farm. — Peneliti utama dan dosen di Akademi Farmasi Bhumi Husada. Beliau memiliki kepakaran di bidang farmasi komunitas, literasi kesehatan, dan manajemen pelayanan farmasi.
  • Fathunikmah, S.ST., M.Kes. — Peneliti pendamping dan akademisi di Poltekkes Kemenkes Riau. Spesialisasi keahliannya meliputi kesehatan masyarakat, perilaku kesehatan, serta promosi kesehatan masyarakat.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar