Secara umum, pembelajaran menulis teks anekdot di sekolah sering kali
membentur tembok kendala konvensional. Banyak siswa kesulitan menggali ide
cerita, menyusun alur yang runtut, hingga menyisipkan unsur humor dan kritik
sosial secara proporsional. Metode pengajaran kaku tanpa variasi media kerap
membuat para siswa merasa bosan, sehingga gagasan kritis mereka tidak terdorong
dengan maksimal. Padahal, di era digital saat ini, siswa lebih akrab dengan
media audiovisual dan platform YouTube yang menyajikan hiburan sekaligus
realitas sosial.
Guna merumuskan solusi atas permasalahan tersebut, para peneliti
menerapkan metode studi pustaka (library research) berpendekatan
deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara sistematis melalui
basis data Google Scholar menggunakan aplikasi Publish or Perish serta
teknik pencarian Boolean dengan kata kunci khusus. Dari serangkaian proses
seleksi ketat berdasarkan relevansi, ketepatan variabel, dan keterbukaan akses
ilmiah, tim peneliti menetapkan sembilan studi terdahulu untuk dianalisis.
Temuan utama dari analisis sembilan penelitian ilmiah tersebut
menunjukkan bahwa integrasi media visual dan audiovisual terbukti konsisten
meningkatkan motivasi, pemahaman, serta hasil belajar siswa dalam menulis teks
anekdot:
- Peningkatan
Skor Menulis: Penelitian
eksperimen oleh Ricka Fahdilla (2023) mencatat bahwa media audiovisual
secara signifikan meningkatkan keterampilan menulis teks anekdot siswa
hingga mencapai rata-rata skor 82,5.
- Lonjakan
Keaktifan Siswa:
Penerapan media interaktif dalam penelitian Febi Nurul Safitri (2025)
berhasil meningkatkan skor menulis sebesar 8,67% dan mendongkrak
keterlibatan siswa di kelas hingga 11,2%.
- Relevansi
Karakteristik Konten:
Analisis terhadap konten YouTube "Lapor Pak Trans7" menunjukkan
bahwa sketsa komedi tersebut kaya akan dialog ringan, situasi konkret,
gaya bahasa sindiran (satire), serta materi roasting yang
strukturnya sangat sesuai dengan kaidah kebahasaan teks anekdot.
- Pengembangan
Berpikir Kritis: Studi
R&D dari Imrotin (2022) serta Dita Hasibuan dkk. membuktikan bahwa
bahan ajar berbasis video digital mampu memicu kreativitas, kemampuan
berpikir kritis, dan kolaborasi siswa.
Dampak dari penelitian ini sangat signifikan bagi dunia pendidikan
nasional, khususnya dalam penyusunan kurikulum dan strategi pengajaran bahasa.
Guru bahasa Indonesia kini dapat memanfaatkan tayangan "Lapor Pak
Trans7" sebagai contoh konkret di dalam kelas. Dengan mengamati ekspresi
tokoh, struktur dialog, dan konteks fenomena sosial dalam tayangan tersebut,
siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga mendapatkan inspirasi nyata
untuk mengekspresikan kritik sosial secara santun dan kreatif melalui tulisan.
"Tayangan komedi seperti 'Lapor Pak Trans7' menyajikan humor dan
kritik sosial yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga
sangat relevan dijadikan media konkret untuk melatih kreativitas dan pemahaman
struktur teks anekdot," tegas tim peneliti Universitas Pendidikan Ganesha
dalam kajiannya.
Profil Penulis Utama
Tesalonika Br Karo, S.Pd., merupakan peneliti dan akademisi bidang pendidikan
bahasa Indonesia dari Universitas Pendidikan Ganesha, Buleleng, Indonesia.
Keahlian utamanya berfokus pada pengembangan media pembelajaran inovatif,
pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan bahasa, serta analisis sastra
dan kebahasaan.
Sumber Penelitian Karo,
T. B., Sudiana, I. N., & Partawan, I. K. S. (2026). Literature Review on
the Use of the YouTube Show "Lapor Pak Trans7" in Learning to Write
Anecdote Texts for Students. International Journal of Advanced Technology
and Social Sciences (IJATSS), 4(7), 937–946. DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.261
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar