Studi yang dilakukan pada Januari hingga April 2026 tersebut melibatkan empat UMKM kuliner dan 16 peserta, terdiri atas empat pemilik atau manajer serta 12 karyawan. Temuan ini penting karena sebagian besar UMKM memiliki struktur organisasi sederhana sehingga tidak selalu mampu menyediakan jenjang promosi seperti perusahaan besar.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa ketiadaan jenjang karier formal tidak otomatis berarti karyawan tidak memiliki kesempatan berkembang. Justru, perkembangan karier dapat berlangsung melalui pekerjaan sehari-hari dan kepercayaan yang diberikan manajemen.
Karier berkembang melalui pengalaman kerja
Dalam perusahaan besar, pengembangan karier biasanya dikaitkan dengan pelatihan, evaluasi kinerja, kenaikan jabatan, atau program pengembangan karyawan. Kondisinya berbeda di UMKM kuliner.
Rahmayanti dan Ramadhan menemukan bahwa pemilik usaha cenderung menilai karyawan berdasarkan kinerja sehari-hari, kedisiplinan, kemampuan, pengalaman, dan tingkat kepercayaan.
Salah satu pemilik UMKM yang diwawancarai menjelaskan bahwa bisnisnya tidak memiliki jalur karier tertulis. Karyawan yang telah lama bekerja dan menunjukkan kemampuan baik biasanya diberikan tanggung jawab lebih besar.
Dari sisi karyawan, perkembangan tersebut juga terasa meskipun tidak selalu disertai perubahan jabatan. Seorang kasir, misalnya, awalnya hanya menangani pembayaran pelanggan. Setelah memperoleh kepercayaan, ia mulai membantu menyusun jadwal karyawan dan memeriksa laporan penjualan.
Dengan demikian, bertambahnya tanggung jawab menjadi salah satu indikator perkembangan karier di UMKM kuliner.
Belajar sambil bekerja menjadi pola utama
Temuan lain menunjukkan kuatnya peran informal learning atau pembelajaran informal.
Karyawan memperoleh keterampilan baru melalui pengamatan terhadap rekan yang lebih senior, praktik langsung, bimbingan pemilik atau manajer, serta keterlibatan dalam pekerjaan yang semakin kompleks.
Karyawan dapur, misalnya, dapat memulai pekerjaan dengan menyiapkan bahan makanan. Setelah menguasai tugas tersebut, mereka berkesempatan mempelajari cara menyiapkan menu tertentu.
Pola serupa ditemukan pada karyawan barista. Setelah menguasai pembuatan minuman, seorang karyawan dapat dipercaya mempelajari pengelolaan persediaan hingga prosedur membuka toko.
Manajer salah satu UMKM dalam penelitian menggambarkan pola tersebut sebagai sistem learning by doing, yakni karyawan belajar melalui pekerjaan langsung. Karyawan yang dinilai mampu belajar dengan cepat kemudian dilibatkan dalam tugas yang lebih kompleks.
Temuan ini memperkuat penelitian sebelumnya yang menempatkan pembelajaran organisasi dan pembelajaran informal sebagai bagian penting dari pengembangan karier di lingkungan UMKM.
Kepercayaan pemilik menjadi modal karier
Studi Rahmayanti dan Ramadhan juga menemukan bahwa kepercayaan manajerial memiliki posisi penting dalam membuka peluang pengembangan karier.
Karyawan yang dianggap dapat diandalkan berpeluang menangani uang, mengelola persediaan, menyusun laporan penjualan, mengatur jadwal, hingga membantu mengawasi rekan kerja.
Artinya, kepercayaan bukan hanya berkaitan dengan hubungan kerja, tetapi juga dapat menjadi mekanisme informal yang menentukan siapa yang memperoleh kesempatan belajar dan menerima tanggung jawab lebih besar.
Seorang karyawan dalam penelitian mengatakan bahwa setelah memperoleh kepercayaan dari pemilik, dirinya mendapatkan kesempatan mempelajari pekerjaan lain.
Pola tersebut menunjukkan bahwa hubungan langsung antara pemilik dan karyawan menjadi karakteristik penting dalam manajemen karier di UMKM kuliner.
Struktur usaha kecil tetap menjadi kendala
Meski menawarkan peluang belajar dan peningkatan tanggung jawab, UMKM juga menghadapi keterbatasan dalam menyediakan promosi formal.
Jumlah posisi manajerial yang tersedia relatif sedikit. Seorang karyawan mungkin dapat berkembang menjadi senior atau supervisor, tetapi tidak selalu tersedia posisi baru setelah itu.
Akibatnya, sebagian karyawan mengaku tidak selalu mengetahui posisi apa yang dapat mereka capai berikutnya.
Dalam kondisi tersebut, perkembangan karier lebih sering diwujudkan melalui job enrichment, seperti penambahan tugas, penguasaan keterampilan baru, pendampingan karyawan baru, atau tanggung jawab supervisi.
Temuan ini menunjukkan adanya paradoks dalam pengembangan karier UMKM: struktur organisasi yang sederhana membatasi promosi, tetapi sekaligus memungkinkan karyawan belajar berbagai pekerjaan secara langsung.
Pengembangan karier berkaitan dengan keinginan bertahan
Penelitian juga melihat hubungan antara pengalaman pengembangan karier dan keputusan karyawan untuk tetap bekerja.
Sejumlah peserta mengatakan bahwa kesempatan belajar, kepercayaan, peningkatan tanggung jawab, dan suasana kerja positif membuat mereka merasa berkembang dan menjadi alasan untuk bertahan.
Seorang karyawan yang diwawancarai menyatakan bahwa dirinya tetap bekerja karena merasa dipercaya dan masih memperoleh kesempatan mempelajari hal-hal baru.
Namun, peneliti menekankan bahwa karier bukan satu-satunya faktor yang menentukan retensi karyawan. Peserta juga mempertimbangkan gaji dan lingkungan kerja.
Karena penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, temuan tersebut menunjukkan persepsi dan pengalaman peserta, bukan bukti hubungan sebab-akibat bahwa manajemen karier secara langsung menyebabkan karyawan bertahan.
Implikasi bagi pemilik UMKM kuliner
Temuan Rahmayanti dan Ramadhan memberikan pesan praktis bagi pemilik UMKM: pengembangan karier tidak harus dimulai dari sistem HR yang rumit.
Pemilik usaha dapat membangun mekanisme sederhana, seperti:
- memberikan tanggung jawab secara bertahap kepada karyawan yang kompeten;
- menyediakan kesempatan belajar lintas pekerjaan;
- memberikan umpan balik secara rutin;
- mendokumentasikan keterampilan yang telah dikuasai karyawan;
- membuat jenjang sederhana seperti staf, senior, dan supervisor;
- menjelaskan peluang perkembangan kepada karyawan sejak awal.
Langkah tersebut dapat membantu mengurangi ketidakjelasan karier tanpa mengharuskan UMKM membangun struktur organisasi yang terlalu kompleks.
Bagi dunia pendidikan, temuan ini juga menunjukkan pentingnya membekali calon tenaga kerja dengan kemampuan belajar mandiri, adaptasi, komunikasi, dan penguasaan berbagai tugas. Kompetensi tersebut relevan dengan lingkungan UMKM yang menuntut karyawan menjalankan lebih dari satu fungsi.
Profil penulis
Ifada Rahmayanti merupakan penulis pertama dan corresponding author dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dalam artikel yang diberikan, penelitian Ifada Rahmayanti berfokus pada manajemen karier karyawan, pengembangan karier, pembelajaran informal, serta retensi karyawan dalam konteks UMKM kuliner.
Sadida Arsyad Ramadhan merupakan penulis kedua dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Dalam studi ini, ia berkolaborasi dalam kajian mengenai praktik manajemen karier dan pengalaman pengembangan karyawan pada UMKM kuliner.
Informasi gelar akademik dan bidang keahlian resmi masing-masing penulis tidak tercantum dalam materi artikel yang diberikan, sehingga tidak dicantumkan untuk menghindari informasi yang tidak terverifikasi.
0 Komentar