Studi Universitas Muhammadiyah Pontianak Ungkap Budaya Organisasi Perkuat Motivasi PNS Kemenag

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - PONTIANAK — Budaya organisasi dan keterlibatan pegawai dalam pekerjaan terbukti berpengaruh positif terhadap motivasi aparatur sipil negara (ASN) di Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak. Temuan ini diperoleh Litia dan Eru Ahmadia dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, melalui penelitian kuantitatif terhadap 86 pegawai pada 2026. Hasilnya penting karena menunjukkan bahwa lingkungan kerja dan keterlibatan pegawai dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat motivasi dalam pelayanan publik.

Penelitian tersebut diterbitkan dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL) Volume 5 Nomor 3 Tahun 2026, halaman 301–314. Analisis menemukan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap motivasi dibandingkan work engagement atau keterikatan pegawai terhadap pekerjaannya. Secara bersama-sama, kedua faktor tersebut menjelaskan 23,5 persen variasi motivasi pegawai.

Dinamika Kehadiran Pegawai Jadi Latar Penelitian

Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak merupakan instansi pemerintah yang menjalankan pelayanan publik di bidang agama, pendidikan agama, serta pengembangan kehidupan keagamaan masyarakat. Pada 2026, instansi tersebut memiliki 98 pegawai yang tersebar di berbagai unit kerja. Subbagian Tata Usaha menjadi unit dengan jumlah pegawai terbesar, yakni 36 orang atau 36,73 persen dari keseluruhan pegawai.

Peneliti menyoroti dinamika absensi dan keterlambatan pegawai selama 2023–2025. Tingkat ketidakhadiran tercatat 0,28 persen pada 2023, turun menjadi 0,20 persen pada 2024, kemudian menjadi 0,19 persen pada 2025. Sementara itu, jumlah kasus keterlambatan turun dari 338 kasus pada 2023 menjadi 136 kasus pada 2024, sebelum kembali meningkat menjadi 149 kasus pada 2025.

Di sisi lain, sebagian besar pegawai memperoleh penilaian kinerja dalam kategori baik. Proporsinya meningkat dari 74,70 persen pada 2023 menjadi 80,43 persen pada 2024 dan 81,61 persen pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan adanya dinamika antara budaya organisasi, keterlibatan pegawai, dan motivasi dalam pelaksanaan pekerjaan.

Dalam konteks Kementerian Agama, budaya kerja mencakup nilai integritas, profesionalisme, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan. Penelitian Litia dan Eru Ahmadia kemudian melihat bagaimana budaya tersebut, bersama keterlibatan pegawai dalam pekerjaan, berkaitan dengan motivasi ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak.

Melibatkan Seluruh 86 Responden

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen instansi, termasuk data jumlah pegawai, jam kerja, kehadiran, keterlambatan, dan kinerja. Wawancara juga dilakukan dengan Kepala Subbagian Tata Usaha untuk memperoleh informasi mengenai kondisi yang menjadi latar penelitian.

Populasi penelitian terdiri atas seluruh ASN di Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak pada 2026 yang berjumlah 86 orang setelah kepala kantor dikecualikan sebagai responden. Karena jumlah populasi tersebut seluruhnya digunakan sebagai sampel, penelitian memakai teknik saturated sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan skala Likert lima tingkat, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju.

Budaya organisasi dalam penelitian mencakup sejumlah aspek, antara lain inovasi dan keberanian mengambil risiko, perhatian terhadap detail, orientasi hasil, orientasi pada manusia, orientasi tim, agresivitas, dan stabilitas. Sementara work engagement dilihat dari energi dan ketahanan mental, dedikasi, serta kemampuan berkonsentrasi penuh dalam pekerjaan. Motivasi diukur melalui kebutuhan berprestasi, kebutuhan akan kekuasaan, dan kebutuhan akan afiliasi.

Budaya Organisasi Punya Pengaruh Lebih Kuat

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi ASN. Nilai t sebesar 4,689 dengan tingkat signifikansi 0,000 menunjukkan hubungan yang secara statistik signifikan. Artinya, semakin baik budaya organisasi yang diterapkan, semakin tinggi pula motivasi pegawai yang terukur dalam penelitian.

Keterikatan pegawai terhadap pekerjaan juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Variabel work engagement memperoleh nilai t sebesar 2,149 dengan signifikansi 0,035. Pegawai yang lebih terlibat dalam pekerjaannya cenderung memiliki antusiasme, dedikasi, dan komitmen lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas.

Perbandingan koefisien menunjukkan budaya organisasi menjadi faktor yang lebih kuat. Nilai beta terstandar budaya organisasi mencapai 0,451, sedangkan work engagement sebesar 0,207. Dengan demikian, dalam model penelitian ini, penguatan budaya organisasi memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap motivasi dibandingkan keterikatan kerja.

Ketika diuji secara bersamaan, kedua variabel juga memberikan pengaruh signifikan terhadap motivasi. Nilai F mencapai 12,727 dengan signifikansi 0,000. Koefisien korelasi sebesar 0,484 menunjukkan hubungan pada tingkat sedang, sementara nilai R² sebesar 0,235 berarti budaya organisasi dan work engagement menjelaskan 23,5 persen variasi motivasi. Sebanyak 76,5 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar model penelitian.

Penguatan Budaya Kerja Dinilai Penting

Litia dan Eru Ahmadia merekomendasikan agar Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak menerapkan nilai-nilai organisasi secara konsisten dalam pekerjaan sehari-hari. Langkah yang disarankan mencakup penguatan keteladanan pimpinan, penerapan aturan secara adil dan konsisten, pemberian penghargaan atas pencapaian pegawai, peningkatan kerja sama tim, serta pembukaan ruang bagi pegawai untuk menyampaikan ide dan inovasi.

Penguatan work engagement juga dapat dilakukan dengan melibatkan pegawai dalam keputusan yang berkaitan dengan tugas mereka, memberikan umpan balik yang jelas dan konstruktif, menyediakan kesempatan pengembangan kompetensi, serta memberikan pekerjaan yang bermakna dan sesuai kemampuan. Peneliti juga menekankan pentingnya pembagian beban kerja, komunikasi antara atasan dan pegawai, serta penghargaan terhadap kontribusi pegawai.

Bagi pelayanan publik, rekomendasi tersebut memiliki implikasi praktis. Peneliti memperkirakan peningkatan energi, dedikasi, dan keterlibatan pegawai dapat membantu memperkuat motivasi sekaligus mendukung pelayanan publik yang lebih efektif. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih terdapat 76,5 persen variasi motivasi yang dijelaskan oleh faktor lain.

Profil Penulis

Litia merupakan penulis pertama dan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pontianak, Indonesia. Eru Ahmadia merupakan penulis kedua dengan afiliasi yang sama. Artikel jurnal tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak dapat dipastikan dari sumber penelitian.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Organizational Culture and Work Engagement on Civil Servants’ Motivation at the Ministry of Religious Affairs Office, Pontianak City
Penulis: Litia dan Eru Ahmadia
Afiliasi: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak
Jurnal: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL)
Volume: 5, Nomor 3, 2026, halaman 301–314

Posting Komentar

0 Komentar