Studi berjudul The Dynamics of the Experiences of Generation Z Students in Undertaking Freelance Work Amidst Academic Demands: A Phenomenological Study tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Volume 5 Nomor 8, halaman 2799–2806. Artikel diterima pada 20 Agustus 2026. Penelitian menggunakan wawancara online melalui Google Meet untuk menggali pengalaman mahasiswa yang menjalankan dua peran sekaligus sebagai pelajar dan pekerja freelance.
Jurnal tidak mencantumkan tanggal pelaksanaan wawancara secara spesifik. Peneliti menjelaskan bahwa wawancara dilakukan secara daring karena peserta berasal dari berbagai wilayah Indonesia sehingga metode tersebut memudahkan pengumpulan data tanpa kendala jarak, waktu, dan mobilitas.
Freelance Menjadi Pilihan karena Fleksibel
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong pertumbuhan ekonomi gig, yaitu sistem kerja berbasis proyek yang banyak didukung platform digital. Dalam sistem ini, freelance memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperoleh penghasilan tanpa terikat hubungan kerja permanen.
Bagi mahasiswa Gen Z, fleksibilitas menjadi salah satu daya tarik terbesar. Mereka dapat menentukan kapan mengerjakan proyek dan menyesuaikannya dengan jadwal kuliah. Selain mendapatkan penghasilan tambahan, pekerjaan freelance juga memungkinkan mahasiswa mengembangkan keterampilan, membangun pengalaman profesional, membuat portofolio, dan memperluas jaringan kerja.
Studi Zahra dan Suratman menunjukkan bahwa keputusan mahasiswa menjadi freelancer tidak semata-mata didorong kebutuhan finansial. Ketertarikan terhadap bidang pekerjaan, keinginan mengembangkan kemampuan, tren side hustle, perkembangan platform digital, serta orientasi terhadap karier turut memengaruhi keputusan tersebut.
Namun, mahasiswa dalam studi ini juga menyadari bahwa pekerjaan formal memiliki keunggulan tertentu, terutama dalam hal kestabilan pendapatan dan kesejahteraan kerja. Freelance menawarkan kebebasan yang lebih besar, tetapi kebebasan tersebut datang bersama risiko pendapatan yang tidak selalu pasti.
Dua Peran Membutuhkan Manajemen Waktu
Menjalankan kuliah dan pekerjaan secara bersamaan membuat mahasiswa harus terus menyesuaikan diri. Mereka tidak hanya dituntut menyelesaikan proyek dari klien, tetapi juga harus memenuhi tugas kuliah, mengikuti ujian, dan mempertahankan pencapaian akademik.
Hasil wawancara menunjukkan mahasiswa mengembangkan kemampuan mengatur waktu, mencari klien melalui platform digital, berkomunikasi secara profesional, menyelesaikan kendala teknis, dan menjaga kualitas pekerjaan sesuai harapan klien. Dengan demikian, freelance tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan interpersonal dan pengelolaan diri.
Semua informan, menurut bagian kesimpulan artikel, menempatkan aktivitas akademik sebagai prioritas. Pekerjaan freelance dikerjakan pada waktu luang agar tidak mengganggu kewajiban kuliah. Platform digital juga dinilai berperan penting dalam membuka kesempatan kerja, membangun portofolio, serta memperluas jaringan profesional.
Manfaat Ekonomi Berjalan Bersama Tekanan
Pekerjaan freelance memberikan manfaat yang cukup luas bagi mahasiswa. Selain membantu kondisi finansial, aktivitas tersebut memperluas pengalaman kerja dan meningkatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional.
Peneliti Pinky Nurbaiti Zahra dan Andriyastuti Suratman dari Universitas Islam Indonesia menyimpulkan bahwa freelance tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat mendukung perkembangan kompetensi, kemandirian, profesionalisme, dan kesiapan karier mahasiswa. Kuncinya adalah kemampuan mengelola diri, waktu, dan tuntutan dari kedua peran tersebut.
Universitas Perlu Memberikan Dukungan
Temuan ini memiliki implikasi bagi perguruan tinggi. Mahasiswa yang bekerja freelance membutuhkan dukungan agar pengalaman profesional tidak mengorbankan pendidikan mereka.
Peneliti merekomendasikan universitas menyediakan layanan konseling akademik, pelatihan manajemen waktu, pengembangan keterampilan, serta kerja sama dengan industri atau platform ekonomi gig. Dukungan tersebut dapat membantu mahasiswa memperoleh pengalaman kerja sekaligus tetap menjalankan kewajiban akademiknya.
Penelitian lanjutan juga disarankan menggunakan cakupan peserta yang lebih luas dan pendekatan yang lebih beragam. Peneliti mengusulkan studi jangka panjang yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif untuk melihat hubungan pekerjaan freelance dengan prestasi akademik, kesejahteraan psikologis, kesiapan karier, dan peluang kerja jangka panjang mahasiswa.
Profil Penulis
Pinky Nurbaiti Zahra — Universitas Islam Indonesia. Penulis utama dan corresponding author artikel. Penelitian ini berfokus pada pengalaman mahasiswa Generasi Z dalam menjalankan pekerjaan freelance di tengah tuntutan akademik.
Andriyastuti Suratman — Universitas Islam Indonesia. Penulis pendamping dalam studi mengenai dinamika pengalaman mahasiswa Gen Z yang bekerja freelance.
Catatan: artikel menyebut tujuh informan pada bagian abstrak dan metodologi, tetapi bagian kesimpulan menyebut delapan informan. Sumber tidak menjelaskan penyebab perbedaan tersebut, sehingga jumlah informan tidak dapat dipastikan lebih lanjut dari artikel yang tersedia.
0 Komentar