Studi Unesa Ungkap Faktor Domestik dan Global yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak hanya dipengaruhi kebijakan dalam negeri. Studi Muflihatul Adawiyah dan Aminudin Ma’ruf dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa jumlah uang beredar, tingkat ketakutan pasar global, utang luar negeri, dan harga minyak WTI memiliki hubungan signifikan dengan pergerakan rupiah. Temuan ini diperoleh dari analisis data bulanan Indonesia selama Januari 2015 hingga Desember 2024 dan penting untuk memahami faktor yang membuat nilai rupiah bergerak di tengah tekanan ekonomi global.

Penelitian tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research dengan judul “Domestic and Global Determinants of the Indonesian Rupiah Exchange Rate Against the US Dollar.” Studi ini melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan memasukkan faktor ekonomi domestik sekaligus kondisi pasar global.

Selama periode pengamatan, rupiah mengalami pelemahan dari sekitar Rp12.625 per dolar AS pada 2015 menjadi hampir Rp16.157 per dolar AS pada 2024. Peneliti mengaitkan dinamika tersebut dengan berbagai tekanan ekonomi, termasuk perubahan kondisi pasar global, harga minyak, kebijakan moneter, jumlah uang beredar, utang luar negeri, serta ketidakpastian geopolitik.

Situasi global sejak 2020 membuat persoalan nilai tukar semakin kompleks. Pandemi COVID-19, perang Rusia-Ukraina, kenaikan suku bunga global, dan krisis energi menciptakan ketidakpastian yang dapat memengaruhi arus modal dan mata uang negara berkembang. Dalam kondisi seperti itu, perubahan sentimen investor global dapat dengan cepat memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.

Menggunakan Data Bulanan Selama 10 Tahun

Muflihatul Adawiyah dan Aminudin Ma’ruf menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder bulanan Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagai variabel utama, serta jumlah uang beredar (M2), inflasi, indeks volatilitas VIX, risiko geopolitik Indonesia, utang luar negeri, BI Rate, dan harga minyak West Texas Intermediate (WTI).

Analisis dilakukan menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL), yaitu metode ekonometrika yang dapat melihat hubungan variabel dalam jangka pendek sekaligus jangka panjang. Hasil uji kointegrasi juga menunjukkan adanya hubungan jangka panjang antarvariabel yang dianalisis. Nilai F-statistic sebesar 43,14528 berada di atas batas kritis, sehingga model menunjukkan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang.

Model yang digunakan dinilai stabil selama periode pengamatan. Pengujian CUSUM dan CUSUM of Squares menunjukkan bahwa statistik model tetap berada dalam batas kritis 5 persen, yang mengindikasikan tidak adanya perubahan struktural signifikan selama periode 2015–2024.

Empat Faktor Berpengaruh Signifikan

Hasil ARDL menunjukkan empat variabel memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pertama, jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap nilai tukar IDR/USD. Dalam model penelitian, kenaikan 1 persen jumlah uang beredar berkaitan dengan kenaikan nilai tukar sekitar 0,261787 persen dalam jangka pendek dan 0,269727 persen dalam jangka panjang. Karena nilai IDR/USD yang lebih tinggi berarti diperlukan lebih banyak rupiah untuk memperoleh satu dolar AS, hasil tersebut diinterpretasikan peneliti sebagai tekanan pelemahan rupiah.

Peneliti menjelaskan bahwa pertumbuhan likuiditas yang lebih cepat dibandingkan kapasitas produksi dapat menciptakan kelebihan pasokan rupiah. Kondisi tersebut dapat menekan nilai relatif rupiah terhadap mata uang asing.

Kedua, VIXCLS atau indeks “ketakutan” pasar berpengaruh positif. Kenaikan satu poin VIX berkaitan dengan kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar sekitar 0,0197 persen dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, koefisiennya mencapai 0,000203 dengan probabilitas 0,0001. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatnya ketidakpastian pasar global dapat memberikan tekanan pelemahan terhadap rupiah.

Ketika investor global menjadi lebih menghindari risiko, dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman dapat menjadi tujuan investasi. Perubahan arus modal tersebut kemudian berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketiga, utang luar negeri memiliki pengaruh negatif dan signifikan. Koefisien jangka pendek tercatat -1,273961, sedangkan jangka panjang -1,312601, dengan probabilitas 0,0000. Dalam spesifikasi model penelitian, koefisien negatif berarti kenaikan utang luar negeri berkaitan dengan penurunan nilai IDR/USD atau penguatan rupiah.

Peneliti mengaitkan hasil tersebut dengan kemungkinan meningkatnya arus masuk valuta asing yang menyertai pembiayaan utang, sehingga pasokan valuta asing dapat bertambah dan mendukung stabilitas rupiah.

Keempat, harga minyak WTI juga berpengaruh negatif dan signifikan. Kenaikan US$1 per barel harga WTI berkaitan dengan penurunan nilai tukar sekitar 0,000472 persen dalam jangka pendek dan 0,000486 persen dalam jangka panjang. Dalam model ini, kondisi tersebut diinterpretasikan sebagai apresiasi rupiah.

Temuan mengenai minyak ini menjadi salah satu hasil yang menarik karena Indonesia memiliki hubungan erat dengan pasar energi global. Peneliti mencatat bahwa perubahan harga minyak dapat memengaruhi perdagangan, arus devisa, dan posisi eksternal Indonesia.

Inflasi, Risiko Geopolitik, dan BI Rate Tidak Signifikan

Sebaliknya, penelitian tidak menemukan pengaruh signifikan dari inflasi, risiko geopolitik Indonesia, dan BI Rate terhadap nilai tukar rupiah selama periode penelitian. Inflasi memiliki probabilitas 0,3825 dalam jangka pendek dan 0,3846 dalam jangka panjang. Sementara itu, risiko geopolitik Indonesia memiliki probabilitas 0,3423 dan 0,3414.

BI Rate juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan, dengan probabilitas 0,6626 dalam jangka pendek dan 0,6617 dalam jangka panjang. Menurut peneliti, respons nilai tukar terhadap suku bunga tidak selalu langsung karena keputusan investor juga dipengaruhi risiko, ekspektasi, arus modal, serta kondisi pasar global.

Dengan demikian, studi Adawiyah dan Ma’ruf menunjukkan bahwa stabilitas rupiah tidak dapat dilihat hanya dari satu indikator ekonomi. Kebijakan pengelolaan nilai tukar perlu memperhatikan faktor domestik seperti likuiditas sekaligus kondisi global seperti sentimen risiko dan pasar komoditas.

Implikasi bagi Kebijakan Ekonomi

Temuan ini dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam membaca sumber tekanan terhadap rupiah. Pengelolaan jumlah uang beredar tetap penting, tetapi pemerintah dan otoritas moneter juga perlu memperhitungkan perubahan sentimen investor global serta perkembangan harga komoditas internasional.

Bagi dunia usaha dan masyarakat, hasil penelitian memperlihatkan bahwa perubahan rupiah tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi domestik semata. Gejolak pasar global dapat ikut menentukan arah pergerakan mata uang Indonesia.

Penelitian ini memiliki keterbatasan. Periode pengamatan berakhir pada Desember 2024 sehingga belum menggambarkan dinamika nilai tukar pada 2025–2026. Studi juga hanya menggunakan tujuh variabel independen. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya mempertimbangkan cadangan devisa, neraca perdagangan, arus modal asing, Federal Funds Rate, indeks dolar AS (DXY), dan harga emas.

Profil Penulis

Muflihatul Adawiyah — penulis pertama dan corresponding author, Universitas Negeri Surabaya. Bidang khusus dan gelar akademik tidak dicantumkan dalam artikel yang tersedia.

Aminudin Ma’ruf — penulis kedua, Universitas Negeri Surabaya. Gelar akademik dan bidang keahlian khusus tidak dicantumkan dalam artikel yang tersedia.

Sumber Penelitian

Adawiyah, Muflihatul & Ma’ruf, Aminudin. “Domestic and Global Determinants of the Indonesian Rupiah Exchange Rate Against the US Dollar.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, hlm. 2691–2710. DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.148. Artikel diterima pada 20 Agustus 2026. 

Posting Komentar

0 Komentar