Temuan ini penting karena PayLater membuat konsumen dapat memperoleh barang atau jasa sekarang dan membayarnya kemudian. Kemudahan persetujuan, fleksibilitas pembayaran, serta integrasi dengan platform perdagangan elektronik membuat layanan Buy Now Pay Later (BNPL) semakin mudah digunakan. Namun, kemudahan akses kredit digital juga dapat meningkatkan perilaku konsumtif, akumulasi utang, dan tekanan keuangan jika tidak disertai pengelolaan keuangan yang baik.
Ketika kecemasan finansial berujung pada belanja emosional
Salah satu konsep utama yang dikaji dalam studi ini adalah doom spending. Istilah tersebut merujuk pada kecenderungan membelanjakan uang secara impulsif atau emosional ketika seseorang mengalami stres, kecemasan, maupun ketidakpastian mengenai kondisi ekonomi di masa depan.
Berbeda dari pembelian impulsif biasa, doom spending lebih erat dengan kebutuhan psikologis untuk mendapatkan kenyamanan sementara. Dalam kondisi tertekan, seseorang dapat menggunakan aktivitas berbelanja sebagai cara mengurangi perasaan tidak nyaman. Keberadaan PayLater kemudian membuat perilaku tersebut lebih mudah dilakukan karena pembayaran tidak harus dilakukan secara langsung saat transaksi.
Husnayetti dan rekan-rekannya menghubungkan fenomena tersebut dengan kesejahteraan finansial, yakni kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan saat ini, menghadapi kesulitan ekonomi, dan tetap merasa memiliki keamanan finansial untuk masa depan. Studi ini juga menguji apakah literasi keuangan dapat membantu mengurangi dampak negatif kecemasan finansial.
Studi melibatkan 50 pengguna PayLater
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei satu kali melalui kuesioner daring. Responden dipilih secara purposif dengan kriteria berusia sedikitnya 17 tahun, pernah menggunakan PayLater, dan telah melakukan transaksi menggunakan layanan tersebut.
Sebanyak 50 respons valid dianalisis. Peneliti menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 4 untuk menguji hubungan antara kecemasan finansial, doom spending, kesejahteraan finansial, dan literasi keuangan.
Karakteristik responden menunjukkan 72 persen merupakan perempuan dan 28 persen laki-laki. Sebanyak 52 persen berusia 18–29 tahun, sementara 46 persen berusia 30–45 tahun. Dari sisi penggunaan, 56 persen responden menggunakan PayLater satu kali per bulan, sedangkan 30 persen menggunakannya dua hingga tiga kali per bulan. Sebanyak 68 persen memiliki nilai transaksi rata-rata kurang dari Rp500.000 per bulan.
Shopee PayLater menjadi platform yang paling banyak digunakan dalam sampel, dengan 40 responden memilih layanan tersebut. Untuk tujuan penggunaan, pembelian fesyen menjadi kategori terbanyak dengan 20 responden, disusul kebutuhan sehari-hari sebanyak 19 responden dan gawai atau elektronik sebanyak 13 responden. Data tersebut menunjukkan penggunaan PayLater dalam sampel lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan konsumtif dibandingkan kebutuhan pendidikan atau kesehatan.
Kecemasan finansial berdampak langsung pada kesejahteraan
Hasil pengujian menunjukkan kecemasan finansial memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kesejahteraan finansial. Koefisien pengaruhnya tercatat sebesar -0,392 dengan nilai p=0,002. Artinya, semakin tinggi kecemasan yang dirasakan pengguna PayLater, semakin rendah kesejahteraan finansial yang mereka rasakan.
Sebaliknya, kecemasan finansial juga berhubungan positif dan signifikan dengan doom spending. Koefisiennya mencapai 0,505 dengan p<0,001. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan dan kekhawatiran mengenai kondisi keuangan dapat berjalan beriringan dengan meningkatnya kecenderungan melakukan pengeluaran emosional.
Temuan yang paling menarik justru muncul pada hubungan doom spending dan kesejahteraan finansial. Berlawanan dengan dugaan awal, doom spending dalam studi ini memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan finansial, dengan koefisien 0,317 dan p=0,028. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan manfaat psikologis jangka pendek dari konsumsi: seseorang dapat merasa lebih nyaman atau memperoleh kepuasan setelah berbelanja, meskipun konsekuensi finansialnya baru dirasakan kemudian.
Namun, hasil tersebut tidak berarti doom spending baik bagi kondisi keuangan dalam jangka panjang. Husnayetti dan tim menekankan bahwa kesejahteraan finansial juga bersifat subjektif. Perasaan lebih baik setelah berbelanja dapat mencerminkan kenyamanan psikologis sementara, bukan peningkatan kondisi keuangan yang benar-benar berkelanjutan.
Literasi keuangan penting, tetapi tidak cukup
Penelitian menemukan literasi keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan finansial. Koefisiennya sebesar 0,596 dengan p<0,001. Pengguna dengan literasi keuangan lebih baik cenderung lebih mampu memahami risiko produk keuangan, mengelola utang, menyusun anggaran, dan mempertimbangkan konsekuensi penggunaan kredit digital.
Akan tetapi, literasi keuangan tidak terbukti mampu memperlemah hubungan antara kecemasan finansial dan kesejahteraan finansial. Pengaruh moderasi hanya sebesar 0,116 dengan p=0,319, sehingga hipotesis tersebut tidak didukung. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan keuangan saja belum tentu cukup ketika seseorang berada dalam tekanan emosional.
Selain itu, doom spending juga tidak terbukti menjadi perantara hubungan antara kecemasan finansial dan kesejahteraan finansial. Nilai pengaruh tidak langsung tercatat 0,160 dengan p=0,065. Dengan demikian, tekanan psikologis akibat kecemasan finansial tampaknya memiliki pengaruh yang lebih langsung terhadap kesejahteraan finansial dibandingkan melalui perilaku doom spending.
Implikasi bagi pengguna dan penyedia PayLater
Hasil studi ini menunjukkan bahwa pengelolaan penggunaan PayLater tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan mengenai keuangan. Program edukasi juga perlu mempertimbangkan aspek pengendalian diri, pengelolaan stres finansial, dan perilaku penggunaan kredit digital yang bertanggung jawab.
Bagi penyedia layanan fintech dan regulator, temuan ini dapat menjadi pertimbangan dalam merancang edukasi dan perlindungan konsumen. Kemudahan kredit memang dapat memberikan manfaat dan kenyamanan dalam jangka pendek, tetapi pengguna tetap perlu memahami kemampuan membayar serta konsekuensi utang di masa mendatang.
Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil studi perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Sampel hanya terdiri dari 50 responden dan penelitian menggunakan desain cross-sectional, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas kepada seluruh pengguna PayLater di Indonesia. Penelitian berikutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih besar, studi jangka panjang, serta variabel seperti pengendalian diri, ketahanan finansial, dan perilaku pengelolaan keuangan.
Profil Penulis
Husnayetti — Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Bidang kajian yang tercermin dalam artikel ini meliputi perilaku keuangan, kesejahteraan finansial, literasi keuangan, dan penggunaan kredit digital.
Lutfi Hidayati — Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Bidang kajian dalam artikel berkaitan dengan perilaku dan kesejahteraan finansial pengguna PayLater.
Tri Budi Astuti — Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Bidang kajian dalam artikel berkaitan dengan kecemasan finansial, perilaku konsumsi, dan keuangan digital.
Junarti — Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Bidang kajian dalam artikel berkaitan dengan perilaku keuangan dan kesejahteraan finansial.
Artikel tidak mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis, sehingga gelar tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak didukung oleh sumber. Nama keempat penulis dan afiliasinya tercantum pada artikel jurnal.
0 Komentar