Studi yang tercantum sebagai karya tahun 2026 ini penting karena ukuran perusahaan selama ini sering dikaitkan dengan kemampuan menjalankan agenda keberlanjutan. Perusahaan besar umumnya memiliki modal, tenaga ahli, teknologi, sistem pengawasan, dan infrastruktur yang lebih kuat. Namun, perusahaan kecil dan menengah memiliki keunggulan lain, seperti struktur organisasi yang lebih sederhana, pengambilan keputusan yang cepat, serta hubungan yang lebih dekat dengan pekerja, petani, dan komunitas.
Dalam industri benih sayuran, kedua pendekatan tersebut sama-sama relevan. Perusahaan harus menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus memastikan hubungan dengan petani, kualitas produksi, penggunaan sumber daya, pengelolaan limbah, serta dampak lingkungan tetap terkendali.
Melibatkan 262 responden perusahaan
Fajrina, Young, dan Putri menganalisis data dari 262 responden organisasi, terdiri atas 154 responden yang mewakili UKM dan 108 responden dari perusahaan besar. Responden berasal dari posisi manajerial, pengawasan, maupun operasional strategis sehingga dinilai memiliki pengetahuan mengenai aktivitas perusahaan.
Peneliti membandingkan tiga aspek keberlanjutan, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Masing-masing aspek diukur melalui tiga indikator menggunakan kuesioner berskala empat poin.
Keberlanjutan sosial mencakup keselamatan dan kesehatan kerja, kesejahteraan serta pengembangan karyawan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar. Keberlanjutan ekonomi mencakup kesinambungan bisnis, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penciptaan nilai ekonomi. Sementara itu, keberlanjutan lingkungan mencakup pengurangan dampak lingkungan, penggunaan bahan dan energi secara bertanggung jawab, serta pengelolaan limbah dan emisi.
Para peneliti kemudian menggunakan analisis statistik untuk memastikan bahwa ketiga aspek tersebut memang dapat dibedakan dan dapat dibandingkan secara adil antara kelompok UKM dan perusahaan besar.
Perusahaan besar sedikit lebih tinggi, tetapi tidak signifikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan besar memang memiliki skor rata-rata sedikit lebih tinggi pada keberlanjutan sosial dan ekonomi. Namun, tidak ada perbedaan yang secara statistik signifikan antara UKM dan perusahaan besar.
Pada keberlanjutan sosial, skor rata-rata UKM mencapai 3,32, sedangkan perusahaan besar 3,42. Perbedaan laten tercatat 0,258 dengan nilai p 0,125.
Pada keberlanjutan ekonomi, perbedaannya lebih terlihat. UKM memiliki skor rata-rata 3,23, sementara perusahaan besar mencapai 3,38. Namun, perbedaan laten sebesar 0,292 masih belum melewati batas signifikansi statistik, dengan p 0,070.
Sementara itu, keberlanjutan lingkungan menunjukkan tingkat kesamaan yang sangat kuat. Skor UKM berada di 3,23, sedangkan perusahaan besar 3,26. Perbedaan latennya hanya 0,017 dengan p 0,902.
Dengan demikian, ketiga hipotesis yang memprediksi adanya perbedaan keberlanjutan antara UKM dan perusahaan besar tidak didukung oleh data penelitian.
Ukuran perusahaan bukan satu-satunya penentu
Temuan tersebut memberikan perspektif berbeda terhadap anggapan bahwa perusahaan besar selalu lebih unggul dalam keberlanjutan. Menurut kerangka Contingency Theory yang digunakan dalam studi ini, efektivitas organisasi bergantung pada kesesuaian antara karakteristik perusahaan dan kondisi yang dihadapi, bukan semata-mata pada ukuran organisasi.
Perusahaan besar dapat mengandalkan modal, tenaga ahli, sistem formal, dan teknologi. Sebaliknya, UKM dapat mengandalkan fleksibilitas, komunikasi langsung, kedekatan dengan petani, serta kemampuan mengambil keputusan dengan cepat.
Nur Fajrina dan rekan-rekannya dari Philippine Women’s University serta Universitas Widyagama Malang menunjukkan bahwa konfigurasi sumber daya yang berbeda dapat menghasilkan tingkat penerapan keberlanjutan yang relatif sama.
Temuan paling menarik terlihat pada aspek lingkungan. Meskipun UKM sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan pengetahuan dalam menerapkan praktik ramah lingkungan, perusahaan kecil dalam industri benih sayuran ternyata menunjukkan skor yang hampir sama dengan perusahaan besar.
Hal ini mengindikasikan bahwa praktik seperti penghematan sumber daya, pengurangan dampak operasional, dan pengelolaan limbah tidak selalu membutuhkan sistem organisasi yang besar dan kompleks. Praktik tersebut juga dapat menjadi bagian dari rutinitas operasional sehari-hari.
Implikasi bagi bisnis dan kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi bagi pemerintah, asosiasi industri, maupun pelaku usaha. Kebijakan keberlanjutan sebaiknya tidak dibangun berdasarkan asumsi bahwa UKM selalu tertinggal dari perusahaan besar.
Untuk UKM, dukungan dapat diarahkan pada akses pembiayaan, peningkatan kemampuan teknis, pengukuran kinerja keberlanjutan, pelatihan, dan akses terhadap inovasi lingkungan. Sementara perusahaan besar dapat didorong untuk memperkuat integrasi target keberlanjutan di seluruh unit organisasi dan rantai pasok.
Industri juga dapat membangun fasilitas pengelolaan limbah bersama, pelatihan kolektif, standar pengukuran keberlanjutan, serta platform berbagi pengetahuan yang dapat digunakan perusahaan berbagai skala.
Bagi sektor pertanian, hasil ini penting karena industri benih memiliki hubungan langsung dengan petani dan sistem produksi pangan. Keberlanjutan perusahaan benih pada akhirnya dapat berkaitan dengan kesinambungan pasokan benih, hubungan dengan petani, penggunaan sumber daya, serta ketahanan sistem pertanian.
Profil penulis
Nur Fajrina merupakan penulis korespondensi dan berafiliasi dengan Business Administration Studies, Conrado Benitez College of Business Education, Philippine Women’s University, Filipina. Bidang kajiannya dalam artikel ini berkaitan dengan administrasi bisnis dan keberlanjutan perusahaan.
Felina C. Young juga berasal dari Philippine Women’s University, pada bidang Business Administration Studies. Dalam penelitian ini, ia berperan sebagai salah satu penulis dan pembimbing akademik.
Rosita Widya Putri berafiliasi dengan Agribusiness Studies, Faculty of Agriculture, Universitas Widyagama Malang, Indonesia, dengan bidang yang berkaitan dengan agribisnis dan sektor pertanian.
Sumber penelitian
Artikel yang menjadi sumber berita ini berjudul “Firm Size and Corporate Sustainability: A comparative study of Indonesia’s Vegetable Seed Industry”, ditulis oleh Nur Fajrina, Felina C. Young, dan Rosita Widya Putri. Naskah tersebut tercantum sebagai karya 2026 dan menggunakan data 262 responden dari perusahaan benih sayuran Indonesia.
0 Komentar